Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
OTW Galau


__ADS_3

Anisa tampak tengah memeluk Farhan yang kini masih menonton serial komedi tv. Ia kepikiran dengan pertanyaan Husna tadi siang. Apa benar anak itu menyukai Eza?


"Mas?" panggil Anisa.


"Hmm?" jawab Farhan dengan mendeham.


"Kamu ngeliat ada yang aneh nggak sama sikap Husna?" tanya Anisa dengan lembut. Takut jika sang suami tersinggung dengan pertanyaannya.


"Aneh? Iya sih, lebih sering liatin hp terus," jawab Farhan yang kini sudah mematikan tv. Mengelus pipi gemoy Anisa.


"Kirain cuma aku yang beranggapan gitu," celetuk Anisa.


"Hahaha, Mas sadar kok. Hanya saja Mas masih diam lihat dia ke depannya," ujar Farhan.


"Sepertinya Husna punya rasa dengan Mas Eza deh Mas," lirih Anisa.


"Syuuth, nggak akan. Itu cuma rasa kagum aja sayang..." jawab Farhan yang kini memeluk Anisa dengan eratnya. Seperti biasa, sesekali ia mengelus lembut perut Anisa.


"Jangan khawatir dengan berlebihan, kasihan si kembar," lirih Farhan. Anisa mengangguk patuh dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Farhan.


Tentu saja Farhan menyadari perubahan Husna dua hari ini. Bukan karena ia tak peduli, ia hanya ingin mengamati terlebih dahulu. Bukan ia membela sang adik, ia akan menasehatinya di saat yang tepat nantinya.

__ADS_1


Farhan tak ingin Anisa terlalu berpikir berlebihan. Ada anaknya di dalam sana, takut jika ikut stress. Setelah Anisa terlelap, Farhan segera beringsut keluar dari kamar. Tentu saja bertemu Husna.


Cklek!


Terlihat Husna tampak berbaring sembari memainkan ponsel di tangannya. Ternyata ia tak sadar jika Farhan masuk ke kamarnya.


"Tidur, ngapain mainan hp senyum-senyum gitu?" tanya Farhan yang membuat Husna terkaget-kaget.


"Kak Farhan ngagetin aja dah!" gerutu Husna menegakkan sandarannya.


"Nggak ngaji kamu?" tanya Farhan yang kini merebut ponsel Husna. Ia gelagapan merebut kembali ponselnya.


"Udah tadi habis maghrib sama Umi. Mana ish hpnya Husna!" rengeknya.


"Ha! Beneran? Mana lihat kak!" ujar Husna antusias.


"Tapo bo'ong," celetuk Farhan. Satu pukulan mendarat di lengan Farhan.


"Ngapain kamu lihatin akunnya Eza terus? Ha!" tanya Eza.


"Kaaak, jangan gitu ekspresinya... Kak Eza kan baik, emang salah?" tanya Husna.

__ADS_1


"Eza nggak salah, tapi kamu yang salah dek... Kamu tuh harusnya sekarang masih seneng-senengnya belajar, semangat ngehafalin Al-Quran." ujar Farhan lembut.


"Husna cuma ngefans sama Kak Eza..." lirih Husna.


"Ngefans boleh, tapi jangan berlebihan, nanti kalau tak sama seperti ekspetasimu, kamu yang bakalan kacau," jawab Farhan dengan mengelus lembut rambut Husna.


"Kak Eza udah punya pacar ya? Tadi Husna nemu fotonya perempuan di akunnya." cicit Husna sembari menunjukkan foto punggung wanita berjilbab.


Farhan tahu sosok itu. Iya! Tak salah lagi. Ini tempat yang dihadiahkan Farhan untuk Wardah dan Cak Ibil. Iya! Masyaallaah, sungguh pertemuan dan rasa yang luar biasa.


"Dia ngomongnya sih nggak ada," celetuk Farhan. Sukses membuat Husna berbinar. Masih ada kesempatan untuknya.


"Tapi... Dia sedang memperjuangkan seseorang," sambung Farhan.


"Siapa Kak?" tanya Husna antusias.


"Kamu pasti tahu, hati perempuan itu gampang tersentuh lhoo, perasa," jawab Farhan.


"Kak Wardah?" tanya Husna lirih.


"Nggak tahu! Sana tidur! Nggak usah mikirin perasaan cinta dulu. Ngaji yang bener, dikhatamin kayak Kak Anisa sama Kak Wardah tuh. Udah ngelontok hafalannya," ujar Farhan sembari meninggalkan Husna.

__ADS_1


Husna terdiam sesaat. Ya! Ia baru ingat jika punggung itu mirip dengan Kak Wardah. Tapi, di tanggal itu? Bukannya Kak Wardah masih menjadi istri Cak Ibil? Memangnya Kak Eza mau menikah dengan janda? Atau Kak Eza belum tahu kalau Kak Wardah janda?Pertanyaan-pertanyaan muncul silih berganti di kepala Husna. Memang rumit membicarakan perkara cinta.


...Bersambung... ...


__ADS_2