Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Rencana yg Menyakitkan


__ADS_3

...Assalamu'alaikum para pembaca?...


...Wajib dijawab lhoo! Jawab di kolom komentar....


...Maafkan Lhu-Lhu yang update jarang-jarang. Apalagi dari hari ahad/minggu kemarin signalnya seperti hidup segan mati tak mau. Lhu-Lhu bingung belum up, ditambah belum ngumpul tugas. Duuuuuhhh jadi curhat! Oke, terima kasih sudah mendengarkan curhatan Lhu-Lhu!...


Melihat Kak Wardah yang digendong seperti itu saja sudah sangat menyakitkan untuk Husna. Apalagi ikut andil dalam rencana pernyataan hati yang sesungguhnya oleh Kak Eza. Setelah mengantarkan Anisa ke kamarnya, Husna mengikuti Farhan ke balkon yang ada di lantai itu. Tidak hanya berdua, tentu saja ada Eza di sana.


Husna masih ingin melihat Mas Eza. Husna memilih duduk di salah satu sofa yang telah disediakan di sana. Memandangi Eza yang tengah menikmati pemandangan lautan yang terpampang jelas di depan hotel. Tiba-tiba Kakaknya menepuk lembut pundaknya. sontak usna terkaget plus malu. Malu karena ketahuan memandangi Eza.


“Kamu kenapa lihatin Kak Eza terus?” tanya Farhan.


“Nggak! Kebetulan aja waktu Kakak lihat, Husna lagi menghadapp ke Kak Eza,” ngees Husna.


Tak menanggapi adiknya, Farhan menghampiri Eza. Membicarakan hal apalah itu Lhu-Lhu pun tak tahu. Yang jelas mereka tampak menunjuk-nunjuk bukit kecil di sisi pantai. Seolah-olah tengah mempertimbangkan sesuatu. Tak berselang lama, Anisa datang menghampiri sang suami. Merangkul lengan Farhan dengan posesif. Tak lupa kepalanya menyender di sana.


“Gimana malam nanti jadinya?” tanya Anisa. Husna yang penasaran segera ikut nimbrung.


“Sudah beres Mbak, insyaallah udah terhandle sama petugasnya,” jawab Eza.


“Oh iya! Mumpung ada Husna di sini. Kakak minta tolong nanti kamu bantuin Kakak jemput Kak Wardah di kamar ya? Antarkan sampai lampu taman yang itu... Lalu nanti kamu suruh Kak Wardah mengikuti petunjuk yang ada di sana,” jelas Eza sembari menunjuk rambu-rambu untuk Husna.

__ADS_1


Husna tak bereaksi apapun awalnya. Melihat Eza yang tampak menyadari rautnya yang berbeda menjadikan Husna memaksakann senyumannya dan mengangguk. Tanda ia menyetujuinya.


Sebelumnya Eza memang sudah memberitahukan pada Husna untuk membantunya. Eza sebelum keberangkatannya sempat chatingan dengan Husna. Husna yang memberitahunya jika ia ikut Kakaknya liburan ke Labuan Bajo. Mendengar hal itu Eza segera meminta tolong dan akann memberitahu permintaan tolongnya ketika sampai di tempat tujuan.


Ternyata maksud Eza itu permintaan tolong yang berfokuskan pada Wardah. Setelah itu Husna memilih untuk kembali ke kamarnya, tepatnya di hotel sebelah.


Siapa sangka, ternyata Husna memandangi Eza melalui jendela kamarnya yang kebetulan mengarah pada posisi balkon itu. Terlihat di sana sudah ada Wardah yang berdiri di pinggiran balkon dan Eza di sampingnya.


“Perasaan Kak Wardah biasa aja deh, kok Kak Eza bisa suka sama Kak Wardah sih? Pakaiannya juga biasa ajah! Jilbabnya juga simpel banget. Cuma pakai bergo. Lha aku udah dandan sedemikian rupa tapi Kak Eza masih aja ngelihat aku kayak anak kecil,” batin Husna.


Husna semakin kalang kabut saat melihat Eza yang menggandeng Wardah ntah kemana itu.


.


.


.


"Dek? Kamu ikut ke sini juga ternyata," sapa Wardah seolah-olah tak tahu jika ada Husna tadi saat menjemputnya. Padahal sejatinya ia basa-basi agar tak ketahuan jika pura-pura tidur tadi.


"Iya Kak, tadi aku juga iku jemput Kakak. Eh! Kakaknya tidur," jawab Husna. Sontak pipi Wardah memerah malu. Akhirnya Wardah hanya meringis menimbali jawaban Husna.

__ADS_1


Sejatinya dari tadi Husna melihat kedua sejoli itu haha hihi di pinggir pantai, ntah kenapa kakinya melangkah keluar hotel hanya sekedar muter-muter di sekitar taman sesekali melihat pergerakan Wardah dan Eza.


“Kamu ngapain di sini sendirian Dek?” tanya Wardah.


“Nggak papa, jalan-jalan sore ajah,” jawab Husna.


“Ya udah Dek, Kakak masuk dulu ya,” pamit Eza.


.


.


.


Selepas maghrib Husna segera ke kamar Wardah untuk mengantarkan sebuah gaun. Percayalah, gau itu cantik sekali tak ada tandigannya. Eza dan Mama Sarah jauh-jauh hari telah menyiapkan untuk Wardah. khusushon di desain untuk Wardah seorang.


Wardah yang awalnya bingung, hanya menurut saja didesak oleh Husna. Husna yang awalnya berat hati untuk ikut andil, mencoba untuk menerimanya. Menata hatinya agar tetap kuat. ia baru kali ini merasa kagum yang overdosis dengan seseorang. Sebelumnya ia hanya kagum sebagai rasa yang biasa. Tapi kini ia seolah memiliki rasa yang lebih. Wajar saja saja ia sedikit berambisi kepada Eza.



Wardah tampak cantik dengan penampilannya kali ini. Dipadukan dengan jilbab pasmina payet di kepalanya menambah kesan keanggunannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2