
Hari pertama rute ziarah kali ini adalah ke makam Mbah Kyai Hasyim Asy'ari, Gus Dur (Abdurrahman Wahid), dan Gus Sholah. Jarak antara parkiran dan pesantren tebu ireng sendiri masih lumayan jauh. Kita akan disuguhi sebuah pasar souvenir yang berjejer rapi. Mulai dari kuliner makanan khas, makanan sarapan, pernak-pernik aksesoris, hingga pakaian-pakaian dan perlengkapan ibadah.
Memasuki gerbang pesantren, sudah terlihat beberapa toko khas pesantren itu sendiri. Beruntung kunjungan kali ini lumayan lenggang. Yaa, tak seramai biasanya. Mungkin karena masih pagi, sebentar lagi pasti ramai. Anisa menarik-narik lengan baju Farhan mengisyaratkan bahwa ia mengincar sesuatu.
"Iya, nanti kita mampir," Jawab Farhan.
Senyuman mengembang dari bibir manis itu. Rombongan peziarah dari Universitas Islam itu memilih duduk di sebuah pendopo persis di samping makam. Sedangkan Farhan dan Cak Ibil mendekat ke makamnya. Anisa bersama Wardah tentunya.
Lantunan tahlil dan yasin mulai terdengar dengan nyaringnya. Ternyata Farhan yang memimpin. Pendopo dan tempat di sekitar makam tampak penuh dengan kehadiran rombongan Universitas itu. Wajar saja, mereka membawa 4 rombongan bus untuk berziarah.
Setelah selesai berziarah, para rombongan dipersilahkan untuk mampir atau sekedar cuci mata di deretan pasar oleh-oleh itu.
Anisa sudah menggandeng Farhan menuju toko baju koko khas pesantren tebu ireng itu. Ayah sempat berbisik pada Anisa kalau ia ingin membeli baju koko dan sorban. Beberapa kali saat ziarah Ayah sempat akan membeli, tapi selalu dicegah Bunda. Di rumah banyak katanya. Hahaha.
__ADS_1
Anisa berinisiatif membelikan, semoga Bunda tak marah, hahaha.
Tangan Anisa tak berhenti merangkul Farhan. Persetan perihal malu. Hahaha. Anisa dan Farhan keluar di barisan terakhir, jadi orang-orang yang dikenal tak melihat mereka bermesraan. Walaupun ada mahasiswa yang sengaja di belakang mereka, biarlah mereka baper. Wkwkwk.
Terutama Wardah dan Cak Ibil, mereka juga kebagihan pemandangan itu. Wardah memberanikan diri merangkul lengan Cak Ibil. Malu? Tentu saja, ini kali pertama ia merangkul lengan sang suami.
Cak Ibil terlonjak kaget! Tapi tak menolak. Akan sangat aneh di lihat orang, jika tiba-tiba ia melepaskan rangkulannya istri sendiri.
"Emm, belum ada yang dipengenin Mas," Jawab Wardah.
"Kalau mau beli sesuatu ngomong aja," Ujar Cak Ibil.
Wardah tersenyum dengan kebahagiaan yang HQQ. Mengangguk dengan semangat. Ia mengeratkan pelukan di lengan Cak Ibil dengan sesekali menyenderkan kepalanya.
__ADS_1
Jangan percepat saat-saat seperti ini Ya Allah... Terima kasih telah memberikan kesempatan untuk berdekatan dengan suami hamba sendiri ya Allah. Untaian doa dan syukur menyeruak di hati Wardah.
Kita kembali ke Anisa gaess... Kini ia tengah sibuk memilihkan baju koki dan surban yang cocok untuk Ayah mertua tercintanya. Sesekali ia menempelkan pada Farhan untuk mencocokkan. Warna kulit Ayah sama dengan kulit Farhan, jadilah kini Farhan seolah boneka manekin. Memadukan warna mana yang cocok untuk Ayah.
Tak lupa ia juga membelikan Abi. Baru satu tempat ziarah saja sudah mborong. Bagaimana dengan lokasi ziarah lainnya? Apalagi, rute ziarah ini hampir mengelilingi pulau jawa. Apakah koper mereka akan penuh dengan belanjaan Anisa? Hahhaa, tak tahu lah! Kita lihat nanti saja.
"Udah yuk Yank, bentar lagi udah mau ke lokasi selanjutnya," Ujar Farhan lembut.
"Ini, tinggal bayar," Anisa meringis di hadapan Farhan.
Tak kuasa melihat wajah imut sang istri, Farhan merangkul pundak Anisa dengan gemas. Mendekatkan jarak keduanya hingga tak berjarak. Tangan yang terbebas memberikan sejumlah uang tunai untuk membayar belanjaan Anisa.
Bersambung....
__ADS_1