
Yaumul Jumu'ah. Hari yang amat sangat mulia. Selesai membaca Surah Al-Kahfi, Farhan tampak sibuk memilah-milah pakaian yang akan dimasukkan kedalam koper.
"Kok kamu baru beres-beres Han?". Tanya Bunda yang memasuki kamar Farhan.
"Iya Bun, kemarin kan Farhan masih sibuk ngurusin persiapan seminar di kampus". Jawab Farhan.
"Masak mas rektor ngurusin seminar?". Tanya Bunda.
"Bundaa, kan Farhan masih masa percobaan. Belum resmi jadi rektornya. Walaupun Farhan jadi rektor apa salahnya jadi panitia seminar juga?". Ujar Farhan.
"Terserah kamu saja lah. Tapi, bukannya sekarang masih masa libur semester?". Tanya Bunda.
"Iya Bun, seminar ini baru rapat awal. Pelaksanaannya tahun ajaran baru. Pembentukan panitianya pun belum terbentuk". Jelas Farhan.
"Ya sudah, kamu cepat ya beres-beresnya. Kita berangkat ke rumah Umi. Biar kalian para cowok jum'atannya di satu masjid". Ujar Bunda dan meninggalkan Farhan.
Farhan masih asik memilah pakaian yang akan dibawa. Tak lupa ia membawa parfum pemberian Pak Kyai.
Jarum jam menunjukkan pukul 10:30 waktu setempat. Dua keluarga pun telah berkumpul di satu ruangan. Terlihat tengah berbincang-bincang dan terkadang bersenda gurau.
"Ayo ke masjid dulu". Ajak Abi pada para lelaki yang ada.
Lima jagoan itupun berangkat menuju masjid untuk menjalankan kewajiban. Bukan hanya berlima, ditambah para pekerja yang ada dirumah itu.
Sedangkan para wanita jagoan tengah menyiapkan bekal mereka nantinya. Tak banyak bekal yang dibawa. Sebab di villa sudah terlampau lengkap seluruh kebutuhan pokok mereka.
"Kamu kenapa sayang? Bunda perhatikan dari tadi kok terlihat sedikit lesu?". Tanya Bunda kepada Anisa.
Anisa tersenyum dan duduk di tangga teras rumah sambil menunggu para lelaki.
"Mungkin karena datang bulan. Iya kan Neng?". Ujar Umi.
"Oalaah, kamu datang bulan?". Tanya Bunda dan ikut duduk disamping Anisa.
"Iya Bunda". Ujar Anisa. Bunda mengelus lengan Anisa.
"Bunda buatkan Kunir asem ya?". Tanya Bunda.
"Ndak usah Bun, kalau sudah sampai sana saja. Hehehe". Jawab Anisa. Bunda tersenyum dan mengangguk.
Setelah Para lelaki selesai sholat jum'at dan para perempuan sholat zuhur, kini tibalah saatnya mereka berangkat.
Para orang tua menggunakan mobil Ayah. Sedangkan para anak-anak menggunakan mobil Faisal, dengan Farhan yang mengemudi.
Terlihat keceriaan terpancar di tiap rona wajah mereka ketika memasuki kawasan kehijauan disamping kiri dan kanan jalan.
__ADS_1
"Kalian tidur aja dulu, masih lumayan jauh perjalanannya". Ujar Farhan.
"Kayaknya aku gak bakal bisa tidur kalau pemandangannya secantik ini". Celetuk Anisa.
"Helleh! Paling bentar lagi merem". Ujar Faisal. Anisa hanya menjulurkan lidahnya tak terima dengan tuturan sang kakak.
Sedangkan Faiz dan Husna telah berkelana di alam mimpi. Faiz dengan nyamannya menguasai jok belakang, dan Husna menyender pada pundak Anisa.
Benar ujar Faisal, setelah puas memandangi pemandangan nan indah Anisa mulai mengantuk. Perjalanan mereka memang tak singkat. Membutuhkan waktu 5 jam untuk sampai ditempat tujuan.
Farhan nampak memandangi wajah Anisa yang tengah terlelap saling menyender dengan Husna.
"Fokus Farhaan". Goda Faisal.
"Kamu ini. Ngagetin aja". Jawab Farhan.
Selama perjalanan Faisal terus menemani Farhan mengemudi. Khawatir jika ditinggal tidur nanti Farhan malah ngantuk.
Part 32
Setelah melewati perjalanan yang amat sangat panjang, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan.
Tempat yang amat sangat indah. Terlihat sebuah bangunan yang berdiri dengan kokohnya. Dilengkapi dengan pemandangan pantai yang sungguh luar biasa.
Farhan memilih satu kamar dengan Faisal. Kemudian mengantarkan Faiz. Anisa ditinggal sendirian di ruang utama.
"Kok gak ada yang ngasih tahu aku sih? Kan aku juga capek". Monolog Anisa.
"Farhan gimana sih? Kok Anisa gk dianterin sekalian. Ayo sayang, Bunda tunjukkan kamar kamu". Ujar Bunda. Anisa mengikuti Bunda ke lantai tiga.
"Naah, ini kamar kamu. Kamu suka sayang?". Tanya Bunda. Sebuah kamar yang terlampau cantik bak hotel berbintang. Ditambah view laut yang amat sangat mempesona.
"Masyaallaah, bagus banget Bunda... Apa ini gak terlalu berlebihan? Atau ini salah kamar?". Tanya Anisa.
"Nggak sayang. Ini kamar kamu. Oke! Ya sudah kamu istirahat, Bunda juga mau turun". Pamit Bunda. Anisa mengangguk dan menutup pintu setelah Bunda keluar.
Anisa menata barangnya ditempat yang telah disediakan. Ia melepas jilbabnya dan meletakkannya di gantungan.
"Yang di lantai ini aku sendiri apa ya? Kok sepi banget sih". Monolog Anisa. Ia celingak celinguk di pintu kaca. Memantau jika ada orang disekitar kamarnya, kan bahaya kalau ada yang melihat rambut cantiknya. Wkwkwkwk.
"Inikan pantai pribadi. Mana mungkin ada orang asing? Toh aku dilantai 3. Kalau cuma keluar di kursi itu gak akan terlihat orang. Apalagi di sebrang kamar ini sudah laut". Ujar Anisa.
Anisa melangkah ke balkon dan bersantai disebuah kursi pantai. Jarang sekali Anisa bisa bersantai ria seperti sekarang. Tak terasa mata Anisa semakin berat. Iapun berkelana ke alam mimpi.
__ADS_1
Berbeda dengan Farhan. Kini ia tampak sebal dengan tingkah Faisal. Farhan terjatuh dari tempat tidur akibat ulah kelasakan Faisal. Mungkin karena terlalu capek, makanya Faisal sangat lasak saat tidur kali ini.
"Perasaan yang nyetir dari tadi aku deh. Napa yang kecapekan kamu sih Cal". Monolog Farhan.
Farhan memilih menikmati pemandangan alam sekitar dari balkon kamarnya. Tak sengaja ia melihat sesosok perempuan tengah terlelap di kursi pantai balkon samping kamarnya.
"Husna ngapain sih tidur di situ? Kayak gak ada kamar ajah". Ujar Farhan.
Wajah Anisa memang tertutup oleh rambutnya, wajar jika Farhan mengira itu adiknya.
"Tapi, enak juga terpaan anginnya. Bagus juga selera Husna. Mending aku ikutan". Ujar Farhan. Iapun ikut membaringkan tubuhnya di kursi pantai yang ada di balkonnya. Akhirnya Farhan ikut memejamkan matanya.
Alarm kumandang azan asar dari gawai Anisa nampaknya mengusik sang empunya. Anisa mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya sekitar. Setelah membaca doa, iapun duduk. Tak sengaja sorot matanya menangkap seorang lelaki yang tengah tertidur di balkon samping kamarnya.
"Astaghfirullaaah, itukan mas Faridz?". Anisa terkaget dan berlari masuk kedalam kamar.
"Semoga mas Faridz gak lihat aku ya Allaah. Aku gak pakai jilbab. Astaghfirullaaah". Monolog Anisa.
TOK! TOK! TOK!
"Siapa?". Tanya Anisa.
"Bunda sayang". Ujar Bunda dibalik pintu.
Anisa bangkit memakai jilbab, membuka pintu dan mempersilahkan Bunda masuk.
"Kirain masih tidur, ayo kita jamaah". Ajak Bunda.
"Iya Bun, tapi Anisa cuma ikut kebawah aja ya. Soalnya Anisa lagi halangan". Ujar Anisa. Bunda mengangguk.
"Kamu ikut Bunda bangunin kakak kamu sama Farhan ya?". Pinta Bunda. Tanpa meminta persetujuan, Bunda menggandeng Anisa menuju kamar Farhan.
"Sayang, kamu bangunin Faisal yaa, Bunda mau cari anak Bunda dulu. Mungkin tidur di balkon". Ujar Bunda meninggalkan Anisa di dalam kamar.
"Kak? Kak? Kak Ical?". Panggil Anisa pada Faisal sambil mengguncang pundaknya.
"Kak? Bangun kak?". Panggilnya lagi.
"Hemmm, lima menit lagi deek". Racau Faisal.
"Hiissh, ayo banguun. Udah ditunggu sama yang lain". Sambung Anisa dengan menarik lengan Faisal.
"Iya-iyaa, gak sabaran banget sih". Ujar Faisal duduk disisi ranjang.
Ternyata Bunda dan Farhan sudah berada di ambang pintu menyaksikan kakak beradik tengah tarik menarik.
Mereka melaksanakan sholat berjamaah di mushola villa. Sedangkan Anisa memilih untuk duduk di pinggir kolam untuk lalaran Al-Qu'an.
__ADS_1
Bersambung....