Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Babymoon 1


__ADS_3

Siang ini Farhan sudah siap di rumah sakit untuk janjian dengan dokter kandungan Anisa. Yakni dokter Eva. Satu jam yang lalu ia janjian bertemu di ruangannya. Dokter Eva sudah mengizinkan rencana babymoon kedua pasutri itu, Farhan tinggal mengambil obat-obat vitamin tambahan Anisa. Menurut Dokter Eva, rencana ini dapat merelax-kan mood dan pikiran ibu hamil. Asalkan jangan terlalu capai saja.


"Gimana Za? Bisa aa? Bujuk terus, saya sudah konsul dengan dokter kandungan Anisa ini," ujar Farhan dalam sambungan teleponnya dengan Eza.


Farhan duduk di kursi taman sebelum kembali ke mansion. Jangan sampai rencananya dan Anisa gagal total. Ia sudah mengosongkan jadwalnya seminggu ke depan. Barulah ia kembali ke mansion.


"Gimana Mas? Bolehkan? Kapan kita perginya?" tanya Anisa tak sabar.


Belum juga Farhan duduk untuk istirahat, baru saja ia membuka pintu kamarnya dan langsung diberondong pertanyaan-pertanyaan sang istri.


"Iya, sabar, Mas duduk dulu ya sayang," ujar Farhan lembut sembari mengusap pipi cuby Anisa.


Anisa terkikik geli. Baru sadar jika dirinya belum memberikan kesempatan untuk sang suami istirahat. Anisa memijit lengan Farhan dengan telaten. Sembari menunggu sang suami berbicara. Farhan yang keenakan malah memejamkan matanya.


"Kok malah bobok sih!" rengek Anisa.


"Hehehe, enak pijitan kamu Yank, jadi lupa." cengir Farhan.

__ADS_1


"Jadi dokter ngebolehin, tapi nggak boleh capek-capek nanti. Ayang juga boleh naik pesawat, karena kembar kelewat strong," sambung Farhan.


Senyum sumringah tak dapat dipungkiri dari wajah Anisa. Akhirnya ia bisa ke labuan bajo. Terima kasih kembar, sudah kelewat strong! Bisa diajak kompromi ternyata. Sepertinya kembar juga setuju jika sang Bia dan Abi merencanakan sesuatu untuk aunty Wardah. Hahaha.


"Wardah sudah setuju-kan Mas?" tanya Anisa memastikan.


"Iya, Mas sudah konfirmasi ke Eza kok. Dia setuju. Mas juga sudah kirim ke dia tempat tujuannya. Tapi dia bayar sendiri. Wong punya kantor siaran TV masa mau minta ke Rektor," jawab Farhan.


"Hahaha, dasar! Perhitungan bingit Bapak Rektor ini," sindir Anisa dengan terkikik.


...----------------...


"Kakak! Aku udah siap packing barangnya," seru Husna yang tiba-tiba sudah masuk ke kamar Farhan dan Anisa.


"Siapa yang ngajak kamu?" ledek Farhan.


"Kaaak," rengek Husna.

__ADS_1


"Iya dek, besok kita berangkat... Kamu ajak Faiz juga ya," ujar Anisa.


"Oke!" seru Husna kemudian meninggalkan kakak-kakaknya.


"Mas, emangnya gak papa kalau nanti ada Husna sama Eza?" tanya Anisa lirih.


"Nggak papa, Husna masih kecil, nggak seharusnya ngurusin perihal percintaan," jawab Farhan dengan senyumnya yang mengembang.


...****************...


Pagi harinya, Anisa sudah siap bersama Farhan. Mereka akan berangkat terlebih dulu. Lusanya barulah Wardah dan Eza yang menyusul. Mereka harus menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu katanya. Bunda bersikeras untuk ikut, jadilah kini dari pihak Anisa yang ikut banyak.


Ada Bunda, Husna, Faiz, Kak Faisal beserta keluarga kecilnya. Rugi banyak Farhan kali ini. Hahaha. Tapi rencana liburan mereka tak akan kacau, tenang saja. Tempat inap Anisa dan Farhan sama dengan Eza dan Wardah. Untuk anggota keluarga diletakkan di tempat yang berbeda. Untuk meminimalisir kekacauan bocil-bocil dan ibu-ibu rempong.


Awalnya Bunda sempat menentang rencana babymoon ini. Bagaimana tidak? Anisa yang sudah hamil besar seperti ini harus perjalanan jauh. Tapi Anisa sudah merayu sang Bunda dan menunjukkan surat persetujuan dokter. Akhirnya Bunda menyetujui dengan syarat jika Bunda harus ikut hadir. Dan di lokasi harus ada rumah sakit terpercaya dengan dokter-dokter handal.


Di sinilah Anisa dan Farhan sekarang. Duduk manis di kursi penumpang teristimewa. Farhan benar-benar memperhatikan kenyamanan sang istri selama perjalanan. Husna dan Faiz sampai ngedumel sendiri melihat kemesraan kedua kakak-kakaknya itu.

__ADS_1


...Bersambung.... ...


__ADS_2