
Anisa sudah sampai di pandora cafe. Kali ini memang tak bersama Farhan. Karena Farhan sedang ada kelas di kampus. Jadilah kini Anisa di antar Mang Darma.
"Mamang pulang aja gak papa, nanti saya dijemput Mas Faridz," Ujar Anisa sebelum benar-benar meninggalkan Mang Darma.
Sebelumnya ia juga memberikan uang kepada mang Darma untuk makan siang. Yang sudah menjadi kebiasaannya memang.
Diedarkannya pandangan ke seluruh penjuru cafe mencari keberadaan Wardah. Ternyata Wardah memilih meja di luar ruangan. Tepatnya di bawah pohon yang cukup rindang. Tak hanya sendiri, ia sedang menyuapi ponakannya makanan. Wardah sudah meminta izin pada Anisa sebelumnya jika ia mengajak Inayah.
"Assalamu'alaikum adek cantik," Sapa Anisa pada dua wanita itu.
"Wa'alaikumussalam Kakak cantik," Jawab Wardah dan Inayah bersamaan.
"Mau pesan apa? Aku juga belum pesan, baru Inayah aja. Aku samain kamu aja say," Ujar Wardah setelah Anisa duduk.
"Emmm, bentar-bentar... Aku pesaaannnn," Anisa mulai membolak-balikkan buku menu.
Sedangkan Wardah dengan telaten menyuapi Inayah. Selera Anisa memang sama dengan Wardah, jadi tak heran jika Wardah selalu meminta Anisa yang memesan.
"Harusnya yang belajar ngurus anak aku Dah, kenapa malah kamu," Celetuk Anisa sembari tersenyum mengamati sahabatnya yang tengah menuruti kehendak Inayah.
"Hahaha, kamu nanti otodidak ajah," Canda Wardah.
.
.
__ADS_1
.
Selang beberapa saat akhirnya datang pesanan Anisa tadi. Makanan Inayah juga sudah ludes dimakannya. Kini digantikan es creem. Kali ini anak itu memakan sendiri tanpa Wardah.
Ocehan dan pertanyaan-pertanyaan absurd Inayah membuat Anisa kelimpungan kehabisan jawaban. Wardah terkikik mendengarkan jawaban-demi jawaban sahabatnya.
"Ini mending cuma 1 anak, gimana besok kalau anak kamu udah on the way? Ada dua lagi!" Ujar Wardah.
"Kamu harus bersedia bantuin aku Dah!" Jawab Anisa dengan candaannya.
.
.
Bosan di cafe, Inayah mengajak kedua aunty nya jalan-jalan ke taman yang di sediakan cafe itu. Wardah sesekali menggandeng dan mengajak Anisa istirahat di bangku taman. Tak mungkin ia tega membuat sang sahabat kecapaian.
"Iya anak cantik," Jawab Farhan membalas pelukan Inayah.
Digandengnya Inayah menghampiri istrinya dan Wardah.
"Makan dulu yuk mas! Adek temenin," Anisa menghampiri Farhan dan mencium tangannya.
"Nggak usah Yang, Mas sama dedek cantik Inayah aja... Maukan sayang nemenin om ganteng makan?"
"Mau Om!" Seru Inayah.
__ADS_1
"Kamu ngobrol dulu aja sama Wardah," Ujar Farhan pada istrinya.
Cup! Satu kecupan mendarat pada kening Anisa. Farhan kemudian menggendong Inayah kembali ke cafe. Untung saja Inayah mau di ajak Farhan. Akhirnya Anisa dan Wardah bisa ngobrol ngalor-ngidul sesuai kehendak mereka. Tanpa perlu menyaring pembahasan untuk anak di bawah umur.
Wardah membantu Anisa untuk duduk di bangku yang ada di bawah pohon besar.
"Gimana? Tadi katanya mau ngomong sesuatu?" Tanya Anisa menagih ujaran Wardah di chatingan whatsapp.
"Kayaknya aku gak bisa ikut acara 7 bulanan kamu deh Nis," Lirih Wardah.
"Kenapa?" Tanya Anisa lembut.
"Aku diterima kerja di Jakarta, Bunda juga udah ngizinin," Jawab Wardah lirih.
Anisa tersenyum mendengarkan tuturan Wardah. Hal ini yang sejak dulu di inginkan sahabatnya. Dan baru saat ini dikabulkan sang maha pencipta. Bunda dari dulu memang susah untuk diyakinkan jika anaknya ingin pergi jauh. Tapi kali ini Allah sudah membalikkan dan melunakkan hatinya.
"Iya nggak papa, ini impian kamu dari dulu... Merasakan dunia luar dan mandiri." Jawab Anisa dengan mengelus lembut tangan Wardah.
"Tapi ingat! Jaga agamamu! Istiqomah-mu, dan satu lagi! Kalau aku lahiran kamu pulang ya?" Sambung Anisa lagi.
"Insyaallah, aku usahain pulang pokoknya... Alhamdulillah Bunda ngizinin aku Nis, aku seneng banget," Jawab Wardah.
"Iyaa, aku juga selalu doain yang terbaik untuk kamu. Tiga hari lagi acara 4 bulanan aku, kamu datang ya? Udah berangkat belum?" Tanya Anisa dengan penuh harap.
"Iya aku datang, seminggu lagi aku berangkatnya," Jawab Wardah.
__ADS_1
...Bersambung... ...