
Anisa menyelesaikan pembelajaran dikelasnya. Selama dikelas, tak henti-henti mahasiswanya meledeki atau sekedar kepo perihal pernikahan Anisa dan Farhan. Anisa tak merasa terganggu, ia anggap hal itu sebagai gurauan semata. Iapun menjawab dengan candaan pula.
Keluar dari kelas ternyata Farhan sudah menunggu di depan kelas. Duduk di sebuah kursi depan kelas dengan memainkan gawainya.
"Mas?". Panggil Anisa.
"Ciieeee! Ditungguin pak suamiii". Sorak para mahasiswa.
"Kirain Pak Rektor ada jam kelas mau masuk disini, eh ternyata nungguin sang istriii". Sambung salah satu mahasiswa dari ruang lain yang sempat melihat Farhan tadi.
"Apalah kalian ini, sana bubar". Ujar Farhan dengan menggandeng istrinya beranjak meninggalkan kerumunan para mahasiswa.
"Ihiiiirrr! Icikiwiiir! Cocweet banget sih paaak!". Teriak mereka.
Anisa sudah merah padam menahan malu. Dieratkannya pegangan Farhan.
"Tanyanya dingin bangeet". Ledek Farhan.
"Iyaa lah dingin. Malu tahuuu, banyak banget tadi mahasiswa yang ngeledekin". Jawab Anisa dengan memukul lengan Farhan.
"Hahaha, bagus dong, kita jadi artis beberapa hari kedepan". Sambung Farhan.
"Bangga sekali anda menjadi pusat perhatian". Jawab Anisa ketus.
"Hahaha, mau beli cemilan dulu? Nanti mas gak tahu lama atau gak". Ujar Farhan ketika melewati kantin Universitas.
"Emm, boleh". Jawab Anisa nyelonong masuk ke kantin meninggalkan Farhan.
"Bu Rektor sendirian ajah? Pak Rek... Eh! Bapak, panjang umur Pak". Ujar salah satu mahasiswa awalnya hendak menggoda dosen junior eh! Malah ketemu kuyangnya dosen. Kepotong deh ucapannya.
"Aammiiiin, terima kasih. Makan yang banyak biar panjang umur juga". Canda Farhan. Sebenarnya ia tahu anak itu tadi bercanda pada istrinya. Wkwkwk.
Anisa memilih beberapa cemilan di kantin. Bukan main, ia mengambil cemilan ringan hingga yang berat ditambah beberapa minuman dan susu.
"Di kantornya mas ada kulkas kan?". Tanya Anisa.
"Ada, kamu mau stok berapa? Di kulkas masih ada beberapa cemilan". Jawab Farhan mewanti-wanti Anisa membeli dengan berlebihan. Kulkas di ruangannya hanya untuk stok makanan pendamping, khawatir jika istrinya berbelanja seperti bulanan.
"Gak banyak kok mas, biar mas juga ada tambahan stok. Biasanya kan Bunda kesini juga. Anisa ambil beberapa buah, Bunda sama Ayah suka buah". Ujar Anisa.
Ternyata Anisa tak kalap seperti bayangan Farhan. Ia sudah suudzon pada istrinya sendiri. Anisa menuju kasir untuk membayar.
"Beli buat makan siang aja sekalian. Biar diantar ke ruangan". Ujar Farhan mendekati Anisa.
"Siap bozz". Jawab Anisa.
Setelah selesai berbelanja, Anisa memberikan kantong belanjanya pada Farhan.
"Wah-wah-wah! Mas Rektor jadi bodyguard". Ujar Pak Susilo salah satu dosen FKIP.
__ADS_1
"Turun pangkat pak, digantikan istri saya". Jawab Farhan dengan senyuman menggoda Anisa.
Dengan jurus handalannya Anisa mencubit perut Farhan. Jangan lupa dengan ekspresi marahnya tapi tak terlihat menyeramkan. Malah lucu.
"Adududuuduuhh, sakit yaang. Iyaa ampun. Ayo ke ruangan Aku". Ujar Farhan yang meringis kesakitan.
"Muka kamu gak bisa diseremin lagi Nis? Kok saya malah ketawa lihat ekspresi kamu. Hahahaha". Ujar Pak Susilo.
"Jangan salah pak, kalau udah nyubit kayak semut naga. Permisi pak, assalamu'alaikum". Jawab Farhan dengan menggandeng Anisa agar mengikutinya.
"Wa'alaikumsalam". Jawab Pak Susilo.
"Adek mah KDRT". Ujar Farhan setelah masuk lift. Ternyata lift sedang kosong.
"Abisnyaa, Aku sebel lihat muka Mas yang kayak tadi. Ngeselin. Pengen nyubit". Jawab Anisa.
"Kenapa? Imuuutt yaaa". Tanya Farhan dengan mengedipkan matanya.
"Hiiish, apalagi kayak gini. Pengen noyor". Jawab Anisa.
"Uuuuhh, gumuuussh lihat kamu manyun gitu". Ujar Farhan.
Cup!
Satu kecupan mendarat di bibir Anisa.
"Iiish. Ada cctv ituu". Lirih Anisa dengan menunjuk pojokan lift.
Ting!
Sampailah mereka di lantai 9. Anisa menata belanjanya di kulkas. Kulkas minimalis. Begitu lucu menurut Anisa. Farhan merebahkan dirinya di sofa sebelum rapat.
"Assalamu'alaikum, pesanan makanan Pak". Sapa seseorang dengan mengetuk pintu.
Farhan menghampiri tamu itu dan menenteng sebuah bingkisan. Sepertinya itu makan siang mereka. Anisa mengambil sendok untuk mereka makan.
"Sup iga? Enak deh kayaknya". Ujar Anisa. Ia tak tahu Farhan tadi memesan apa, ia tengah sibuk memasukkan belanjanya dikantong belanja tadi.
"Enak doong, yang pilih menunya kan Mas". Jawab Farhan dengan bangganya.
Mereka berdua tampak menikmati makan siang dengan lahap, diselingi candaan dari Farhan dan tawaan Anisa.
Setelah selesai makan Farhan membaringkan lagi tubuhnya di sofa.
"Habis makan kok langsung tidur". Sindir Anisa.
"Sini deh, enak bangeet, Mas capek". Jawab Farhan.
Setelah menyimpan peralatan makan Anisa menghampiri Farhan. Duduk disisinya sambil memijit lengan Farhan.
__ADS_1
"Enak banget yaang, kamu kursus mijit sama siapa? Bisa dong buka sanggar pijit". Tanya Farhan.
"Les pulaak, otodidak ini mah. Emang mau Anisa mijit-mijit orang lain?". Jawab Anisa.
"Enggak dong". Sambung Farhan. Farhan menarik tangan Anisa hingga terbaring disampingnya. Farhan merubah posisinya menjadi miring agar sofanya muat. Dipeluknya Anisa.
"Maas, pengap ah". Keluh Anisa.
"Shuut, diam deh. Kayak gini sebentaar ajaah...". Lirih Farhan dengan menejamkan matanya.
"Mas kan mau rapat". Lirih Anisa.
"Iyaa, bentar ajah. Masih ada waktu istirahat sebentar kok". Jawab Farhan.
Mau tak mau Anisa mengikuti ucapan Farhan. Karena suasana yang tenang dan semilir AC, sangat mendukung untuk suasana tidur. Keduanya pun terlelap. Ntah bagaimana Farhan rapatnya nanti.
.
.
.
.
.
Farhan POV
"Lee? Lee? Bangun, sudah mau dimulai itu rapatnya". Sayup-sayup suara Ayah terdengar dengan sedikit goncangan di pundakku.
"Ayaah?". Jawabku dengan suara khas bangun tidur.
"Hati-hati, nanti menantu Ayah bangun". Ujar Ayah dengan suara oktaf paling rendah bahkan cenderung berbisik. Sepertinya sayang Ayah padaku sudah berpindah ke istriku deh.
"Farhan pindahin ke kamar dulu Yah". Lirihku. Pelan-pelan aku duduk dengan menahan Anisa. Daebak! Kaan, keluar bahasa planet dari Husna. Daebak! Dia gak bergeming sama sekali. Sepertinya lelah tingkat dewa ini mah.
Kugendong Anisa menuju kamar istirahatku. Kupencet tombol di dinding, sekilas memang tak terlihat. Tapi sebenarnya ada tombol. Sengaja kamar ini didesain seperti kamar rahasia. Biar aman untuk berduaan dengan Anisa. Wkwkwk.
Kubaringkan Anisa diranjang yang super-super empuk. Tak lupa kuselimuti ia.
Cup! Satu kecupan mendarat di dahinya. Mungkin nanti ia bingung dimana ini? Hahaha, biarkan saja. Kutinggal ia tidur dengan nyaman dan lelap.
"Ayo Yah". Ajakku pada Ayah yang tengah duduk di sofa dengan memakan jeruk kupasan terakhir.
"Kamu sudah cuci muka?". Tanya Ayah.
"Sudah Yah, lihat, ganteng kaaan". Jawab Farhan dengan bergaya.
"Iyalah ganteng. Kan nurun Ayah". Balas Ayah.
__ADS_1
Kamipun meninggalkan ruanganku untuk rapat.
Bersambung....