Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Sick


__ADS_3

Sembari menunggu sholat subuh, seperti biasanya Anisa melakukan lalaran. Jika biasanya ia bersama Farhan, saat ini ia sendiri. Setelah sholat tahajud Farhan kembali tidur. Husna? Ia masih tidur dengan nyenyaknya.


Kumandang suara Qiro'ah bacaan Al-Qur'an sebelum subuh mulai berkumandang. Anisa menyudahi lalarannya. Di balkon dua jam cukup membuatnya kedinginan. Anisa membangunkan Husna dan Farhan agar bersiap ke mushola.


Tak susah membangunkan Husna. Ia segera ke kamar mandi. Barulah ia membangunkan sang suami.


"Maas?" Panggil Anisa. Ia mengelus perlahan punggung Tangan Farhan.


"Mas?" Lirihnya lagi.


Mata Farhan mulai mengerjap. Dilihatnya Anisa di hadapannya. Senyuman terukir di bibirnya.


Cup!


Kecupan mendarat di bibir Anisa.


"Astaghfirullah! Mata suciku ternodai," Celetuk Husna yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Wajah Anisa bersemu merah menahan malu.


"Ganggu aja ah!" Jawab Farhan setelah membaca doa bangun tidurnya.


Selesai berwudhu mereka segera turun. Tentunya mereka telah ditunggu orang serumah. Farhan diminta iqomah ketika sampai di mushola. Mbah Kakung bertindak sebagai imam kali ini.


.


.


.


Selepas sholat subuh Anisa diuji oleh Mbah Uti tentang Al-Qurannya. Selepas mengaji kitab bersama Abi dan Mbah Kakung Farhan menghampiri Anisa di pendopo. Ntah kenapa kepalanya sedikit pusing.


"Assalamu'alaikum," Sapa Farhan.


"Wa'alaikumussalam," Jawab Anisa dan Mbah Uti.


Farhan langsung menyenderkan kepalanya di pundak Anisa. Untung saja saat ini Anisa tidak meemgang Al-Qur'an. Al-Qur'annya tengah dipegang Mbah Uti.


"Kenapa Le? Kok pucet to kyak'e," Ujar Mbah Uti melihat Farhan.


"Gak Papa Mbah, cuma kecapekan aja," Jawab Farhan.


Anisa memegang kening Farhan. What to the ****hell****?


Panas banget ternyata! Anisa segera berbalik menangkup kedua pipi suaminya.


"Ke kamar yuk Mas," Ajak Anisa.


"Kenapa ndok?" Tanya Mbah Uti.


"Mas Faridz sepertinya demam Mbah. Anisa ke dalam dulu ya Mbah," Jawab Anisa sedikit panik.


"Iya, sana ajak ke kamar, minta obat penurun panas ke Umimu," Ujar Mbah Uti.


.


.


.


"Baring Mas," Ujar Anisa.

__ADS_1


Farhan tak membantah. Diturutinya setiap ucapan Anisa. Anisa segera beranjak mencari kotak P3K-nya. Seluruh peralatan kesehatan ada di dalam kotak itu. Termometer, diselipkannya di antara ketiak Farhan. Beberapa saat kemudian, 38°. Anisa mencari obat penurun panas, tapi tak ditemukannya. Sepertinya ia lupa membeli stok.


Anisa hendak beranjak keluar, tiba-tiba tangannya ditahan Farhan.


"Mas gak papa, jangan panik berlebihan," Lirihnya.


"Gimana gak panik Mas? Panasnya Mas aja 38°," Jawab Anisa.


Dilepaskannya tangan Farhan kemudian ia keluar. Biasanya pagi-pagi seperti ini Umi masih di Kamar.


Tok! Tok! Tok!


Tak ada sahutan dari dalam. Anisa mengulangi lagi,


CKLEK!


"Ada apa Neng?" Tanya Abi.


"Umi mana Bi?" Tanya Anisa.


"Di dapur deh," Jawab Abi.


"Emm, Anisa mau minta obat penurun panas Bi," Ujar Anisa.


"Buat siapa?" Tanya Abi sembari masuk ke kamar dan mencari di laci khusus obat-obatan.


"Mas Faridz, kayaknya kecapekan karena dua hari kemarin," Jawab Anisa.


"Ini, kamu kompres juga ya. Emm, sama buatkan rebusan Jahe dan kawan-kawannya. Obatnya jangan terus-terusan, gak baik," Ujar Abi panjang x lebar.


"Siap Bi!" Jawab Anisa.


"Ini kasih Farhan," Ujar Mbah Uti memberikan rebusan obat tradisional kepada Anisa.


"Aaahh, Mbah Uti perhatian banget deh... Baru aja Anisa mau buatin, hehehe, makasiiiih Mbah," Jawab Anisa. Tak lupa ia mencium pipi Mbahnya.


"Umu buatin bubur sekalian sayang?" Tanya Umi menghampiri kedua orang tercintanya.


"Gak usah Mi, biar Anisa aja habis ngompres Mas Faridz," Jawab Anisa. Umi mengangguk dan melanjutkan acara masaknya.


CKLEK!


Dilihatnya sang suami masih terbaring lemas.


Anisa meletakkan barang bawaannya di atas nakas. Mulailah ia mengompres Farhan.


"Minum air jahenya dulu Mas," Lirih Anisa.


Farhan duduk dibantu Anisa. Anisa menyuapinya dengan telaten.


"Anisa buatkan bubur dulu ya? Oh! Atau Mas mau makanan yang lain?" Tanyanya.


"Terserah Adek ajah," Jawab Farhan. Anisa tersenyum dan membantu Farhan berbaring kembali.


.


.


.


Anisa sesegera mungkin memasakkan Farhan. Tsk butuh waktu lama bagi tangan terampil Anisa. Tinggal menunggu matang saja. Umi dan Mbah Uti masih berkutik di dapur. Anisa sesekali membantu Umi. Tapi lebih sering dicegah Mbah Uti.

__ADS_1


"Kak Ica? Kak Farhan kemana sih?"Tanya Husna yang sudah di belakangnya.


"Kamu dari mana aja? Kok kakak gak lihat kamu dari tadi?" Bukannya menjawab malah balik bertanya Anisa.


"Aku dari taman, bantuin Mbah Kakung bertanam," Jawab Husna.


"Kak Farhan kemana Kak?" Tanyanya lagi.


"Kakakmu sakit, jangan diganggu dulu ya?" Jawab Anisa. Husna segera berlalu meninggalkan Anisa bersama Umi dan Mbah Uti.


"Biarlah, mungkin dia ingin membantu kamu mengurus kakaknya," Ujar Mbah Uti.


Anisa mengangguk dan tersenyum. Beberapa saat kemudian, bubur buatannya telah siap. 


Sengaja Anisa memberi sayur yang banyak. Tentunya supaya serat dan gizi yang dikonsumsi ada. Setelah menyiapkan dalam mangkuk, ia segera ke kamar.


Cklek!


Husna tengah mengompres kakaknya. Duuuh! Cocweet syeekaliiii. Anisa perlahan menghampiri mereka. Farhan masih terpejam. Anisa tersenyum ketika Husna menoleh ke arahnya. Diletakkannya nampan bubur di atas nakas.


"Kak Farhan sakit gara-gara kecapean jemput ke pesantren ya Kak?" Tanya Husna lirih.


"Nggak sayang, sebelum itu Kakakmu memang sudah menyibukkan diri," Jawab Anisa dengan mengelus kepala yang berbalut jilbab itu.


Anisa sampai lupa jika saat ini masih mengenakan mukena. Bahkan Umi dan Mbah Uti tak menegurnya -_-


Anisa melipat mukenanya dan meletakkan di tempatnya.


"Husna mau suapin Kak Farhan?" Tanya Anisa lembut. Husna menggeleng,


"Kak Ica aja," Jawab Husna.


Anisa duduk di sisi Farhan dan mulai mengelus lengannya. Sesekali ia juga mengelus pipinya. Setiap Anisa membangunkan orang, pasti ia selalu mengelusnya. Tak ingin jika orang yang dibangunkannya terkejut. Sayup-sayup mata Farhan terbuka.


"Sarapan dulu ya?" Ujar Anisa. Ia membantu Farhan bersender pada kepala ranjangnya.


"Kenapa kamu Na?" Tanya Farhan pada adiknya yang duduk di samping Anisa.


"Husna mau mijitin kamu Mas,"Jawab Anisa. Ia tahu adik iparnya merasa bersalah pada Farhan karena memaksa untuk menjemput pulang.


Husna segera memijat kaki Farhan meskipun awalnya ia terkejud dengan jawaban Anisa. Sedangkan Anisa? Ia menyuapi Farhan. Anisa membuka bungkus obat itu untuk Farhan setelah selesai makan. Setelah selesai meminumnya, Anisa kembali mengompres Farhan.


"Adek gak ada jam kuliah?" Tanya Farhan.


"Ada, tapi adek udah bilang kalau hari ini daring. Jadi bisa sambil jagain Mas," Jawab Anisa.


"Husna? Kamu sarapan dulu ke bawah, kamu kakak anterin pulang besok ya?" Ujar Farhan.


"Iya kak," Jawab Husna.


"Kalau mau cepat pulang bilang aja sama kakak, nanti biar kakak bilangin ke Mang Darma," Sambung Anisa. Husna mengangguk dan tersenyum.


Selang beberapa saat Umi datang ke kamar Anisa. Melihat keadaan menantunya sekaligus mengajak Husna makan.


Anisa segera mandi untuk mengisi kelas paginya. Tak perlu repot-repot, ia hanya akan mengisi melalui APK Zoom dengan mahasiswa yang ada di kelas. Tak adil memang, tapi keadaan yang memaksanya.


Awalnya Anisa duduk di kursi kerjanya, Farhan meminta Anisa agar duduk di ranjang sebelahnya. Oke! Ia menurut. Mulailah Anisa membuka pembelajaran dan presentasi para mahasiswanya. Dengan mengejudkan, Farhan memeluk kaki bagian atas Anisa dengan wajah di samping bagian perut. Tak apalah, untung saja tak terlihat dari mahasiswanya. Di jam selanjutnya Farhan meletakkan kepalanya di paha Anisa dengan memeluk perutnya. Tak tinggal diam, bahkan nafasnya terhembus di perut Anisa membuatnya sedikit kegelian. Demi apa! Manja sekali suaminya kalau sakit. Dengan begitu Anisa harus menahan geli, wkwkwk...


Bersambung....


Mohon maaf gaeesss, Lhu-Lhu baru bisa up. Tadi malam mau up malah ketiduran 🙊🙊

__ADS_1


__ADS_2