
Sudah hampir seminggu Anisa terkurung didalam rumah. Bukan hanya Anisa. Tapi Farhan juga. Tiga hari lagi merupakan acara sakral yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. Bahkan para pembaca.
Dirumah Anisa sudah banyak sanak saudara yang hadir. Mereka tengah bercengkrama bersama di taman belakang.
"Nisa, sayang, ayo ikuti mbakmu dulu". Ujar Umi yang datang bersama Mbak Aiys ke taman.
"Kenapa sih Mi? Kok buru-buru gitu". Tanya Anisa heran.
"Sudah. Ayoo cepetan. Aiys, ayo ajak adikmu ini. Penurut Banget jadi orang". Perintah Umi.
"Ayoo dek". Ajak Mbak Aiys menarik tangan Anisa.
Flash back
"Bun? Gak ada alasan apaaa gitu, biar aku ketemu Anisa? Udah lama lho, Farhan gak dapat kabarnya". Rengek Farhan pada Bunda.
"Kamu kan dapat kabar Anisa dari Bunda setiap hari. Lagian tinggal tiga hari lagi kamu sahin Anisa". Jawab Bunda.
"Ayo dong Bun". Rengek Farhan lagi.
"Malam sebelum hari H kita akan kerumahnya Anisa untuk acara midodareni. Kamu siap-siap saja". Ujar Bunda.
"Alhamdulillah, terima kasih Bunda". Jawab Farhan dengan memeluk Bundanya.
"Midodareni itu apa Bun?". Sambung Farhan.
"Besok kamu lak tahu". Jawab Bunda.
Flash back of
"Kenapa sih Mbak? Inikan masih sore. Anisa masih pengen cerita-cerita sama bude". Rengek Anisa ketika sampai kamar.
"Sudah to dek, nurut aja sama Umi. Bentar lagi keluarga Farhan kesini". Jawab Mbak Aiys.
"Terus kalau kesini kenapa Mbak?". Tanya Anisa semakin tak mengerti.
"Kalian gak boleh ketemu adekku sayang, Farhan hanya boleh bertemu keluarganya, bukan ketemu kamu. Kamu waktu Midodareni dirumahnya mbak dulu ikutkan? ". Jelas Mbak Aiys.
"Aku gak paham kayak itu mbak, pokoknya ikut ajah, aku juga gak merhatiin Mas Ical ketemu Mbak atau nggak". Lirih Anisa.
"Hahaha, dasar anak millenial. Ya sudah, kamu jangan keluar-keluar lagi. Di kamar aja". Ujar Mbak Aiys hendak meninggalkan Anisa.
"Aku sendirian?". Tanya Anisa.
"Iyaa, bentar aja. Mbak mau bantu-bantu diluar". Pamit Mbak Aiys tak lupa mengunci kamar Anisa.
"Lho! Kok dikunci sih? Huufft! Aku mau ngapain coba". Gerutu Anisa. Beberapa lama kemudian,
"Assalamu'alaikum". Sapa Abi dan duduk disisi Anisa.
"Gimana perasaan anaknya Abi?". Tanya Abi.
"Bosen bi, oh iya! Anisa kapan bisa sowan sama Abah dan Umi di pesantren? Sekalian jemput Faiz dan Husna yaa". Mohon Anisa.
"Mereka sudah dijemput tadi pagi". Jawab Abi singkat.
"Terus? Anisa kapan sowannya?". Tanya Anisa.
"Farhan sudah sowankan kamu juga. Tenang. Sudah beres, besok beliau-beliau juga kemari. Juga dengan Wardah dan Cak Ibil". Ujar Abi.
"Mas Faridz sowan sendiri?". Tanya Anisa.
"Ya tidak, sama Ayahnya dan Faisal". Jawab Abi.
"Bi, ayo kebawah... Tamunya sudah datang". Panggil Umi.
"Ya sudah, Abi turun dulu. Kamu ganti baju yang lebih bagus, dandan". Ujar Abi.
"Anisa kan gak boleh ketemu siapapun". Jawab Anisa.
"Kamu boleh bertemu keluarga Farhan, tidak Farhan nya". Jawab Abi meninggalkan Anisa.
"Kok Faiz gak nemuin aku sih? Katanya udah pulang". Gumam Anisa.
Huufft! Keluarlah nafas beratnya.
Anisa memilih untuk mandi dan sedikit memoles wajahnya seperti yang dikatakan Abi.
Satu jam, dua jam, Anisa garing berada dikamar. Hanya tv yang menemaninya saat ini.
"Assalamu'alaikum". Sapa Husna, Faiz, dan Bunda memasuki kamar Anisa.
"Wa'alaikumussalam". Jawab Anisa sumringah melihat siapa yang datang.
"Kok kamu baru kesini sih dek? Katanya Abi dari kemarin pulangnya". Ujar Anisa menoyor Faiz lalu memeluknya.
"Aduh! Sakit tau! Aku baru pulang kerumah kelez. Kemarin aku tidur dirumah kakak ipar". Jawab Faiz.
Bunda yang melihat kedekatan kakak beradik itupun tersenyum.
"Bunda?". Anisa menghampiri Bunda dan menyalami kemudian Bunda mencium dahi Anisa.
"Kak Anis gak kangen sama Husna ya?". Tanya Husna cemberut. Sebab dari tadi Husna tak menghiraukan Husna yang tersenyum hendak memeluknya.
"Ya Allaaah, sayangku.... Maaf, sini-sini, kakak kangen kok. Banget malahan". Jawab Anisa merengkuh Husna dalam pelukannya.
"Husna seneng banget, doa Husna dikabulkan sama Allah. Akhirnya Kak Anis jadi kakak ipar Husna". Lirih Husna.
"Alhamdulillah. Yuk kita duduk dulu". Ajak Anisa. Kini mereka tengah duduk di sofa kamar Anisa.
__ADS_1
"Gimana kak perasaannya besok mau married?". Tanya Husna.
"Gimana yaa? Seneng dong, besok kakak resmi punya keluarga baru". Jawab Anisa. Padahal sebenarnya ia takut. Gimana besok yaa? Gugup melandanya sejak seminggu terakhir ini. Untung saja ia pandai menutupi kegugupannya.
Farhan Pov
Dasar Bunda. Hobi banget bohongin aku. Katanya aku bisa ketemu Anisa, eh malah dipertemukan dengan keluarga besarnya Anisa. Kan aku nervous.
Enek banget Husna Bisa ketemu Anisa. Sedangkan aku malah disuguhi pertanyaan-pertanyaan yang membuatku gugup dari keluarga Anisa.
Nah! Itu Bunda sama Husna udah turun. Kok Anisa gak ikut turun sih. Apa aku nerobos aja ya. Hahhaha, gak mungkin lah! Farhan yang tampan dan berkarisma kok nyelonong masuk kamar pengantin perempuan. Tambah viral deh gua.
"Kamu boleh ketemu Anisa besok Han, habis ijab qobul. Sabar yaa, jangan berpikiran untuk nylonong masuk. Hahaha". Ayah ini bisa baca pikiranku ya? Aneh banget dah. Kan malu jadinya.
"Anisa masih utuh Farhan. Tenang saja, hahaha". Abiii, tambah malu Farhannyaa. Aku diam saja deh.
HARI-H
Dikamar Anisa terlihat sangat gugup. Jika kemarin-kemarin ia bisa menutupi kegugupannya, kini tangannya terlihat gemetar.
"Kenapa bukan seperti aku?". Gumam Anisa melihat tampilan dirinya dari cermin.
"Dek?". Panggil Aisyah.
"Ternyata gini ya yang kak Aisy rasain dulu". Lirih Anisa. Faisal meminta Anisa untuk memanggil Aisyah dengan embel-embel Kak, bukan Mbak lagi.
"Udah tau kan rasanya". Jawab Kak Aisyah. Anisa memeluk perut Aisyah yang sedikit membuncit.
Ya. Aisyah kini telah hamil. Jangan ditanyakan bagaimana perasaan Anisa. Ia begitu gembira mendengar kabar itu. Bentar lagi ia akan menjadi tante.
"Anisa takut kak". Lirih Anisa lagi.
"Tenang, banyak berdoa dan berdzikir, sholawat juga boleh". Jawab Aisyah.
"Eeeh, jangan nangis. Nanti makeup nya luntur sayang". Sambungnya ketika melihat Anisa terisak.
"Inikan water proof". Jawab Anisa.
"Hehehe, iya ya... Kamu kenapa? Gak suka nikah sama pak rektor?". Tanya Aisyah sambil mengajaknya duduk ditepi ranjang. Anisa menggeleng.
"Lalu?". Tanya Aisyah lagi.
"Anisa belum siap pisah sama Abi dan Umi, apalagi Faiz dan kakak". Rengeknya.
"Siapa yang nyuruh kamu pisah? Kalian bisa tinggal disini. Hanya saja, kalian harus berbagi juga dengan orang tua baru kamu. Kalau kalian udah komitmen buat rumah sendiri, yaa monggo. Seperti kak Ical, awalnya ngajak rumah sendiri, tapi Umi masih ingin kak Ical disini. Jadi kami cari jalan tengahnya. Kalau Umi udah ngizinin, baru kami pindah". Jelas Kak Aisy.
"Aku sayang banget sama kakak". Ujar Anisa dengan memeluk Kak Aisy.
"Kakak juga". Aisyah membalas pelukan Anisa.
"Udah, jangan melow ah". Sambung Aisyah dengan membenarkan riasan Anisa.
"Masih proses, sabar. Bentar lagi juga kelar". Jawab kak Aisyah.
"Kamu gugupnya keterlaluan deh hahahha, sampai gemetar gitu". Ujar Kak Aisy.
"Iya kak, padahal kemarin-kemarin gak gini". Jawab Anisa.
"Kamu kenapa milih baju akad yang simpel banget? Bukannya Umi sama Bunda udah milihin yang glamour?". Tanya Aisyah ketika melihat dress Anisa terlihat sederhana, tak sesuai dengan selera para ibu.
"Tapi Anisa tetep cantik kan Kak?". Anisa mulai panik.
"Iyaa, adik kakak selalu cantik kok". Jawab kak Aisyah.
"Anisa mohon-mohon sama Bunda, akhirnya diturutin deh. Dengan syarat, kalau resepsi harus pakai yang direkomendasikan mereka. Padahal ini juga terlalu berlebihan". Jawab Anisa. Aisyah manggut-manggut mendengarkan.
"Dek, sudah mulai. Coba deh dengerin". Ujar Kak Aisy. Kak Aisy mengeluarkan gawainya, ternyata Faisal melakukan live streaming lewat akun IG nya. Anisa tambah gugup ketika Farhan mulai ijab qobul. Dan akhirnya, SAH. Alhamdulillahirabbil 'alamin. Dan dilanjutkan dengan doa.
"Sayang?". Panggil Umi.
"Umi?". Lirih Anisa. Anisa berhambur dipelukan Umi.
"Jangan nangis duluu, kita kebawah dulu yaa, sudah ditunggu suamimu". Umi tersenyu dengan menyeka air mata Anisa.
"Masak nangis harus ditunda?". Rengeknya.
"Hahaha, sudah-sudah. Ayoo. Aisyah, ayo antarkan adikmu. Kamu masih kuat kan sayang?". Tanya Umi pada Kak Aisy.
"Masih dong Mi, ayoo". Jawab kak Aisyah.
Anisa diapit Umi dan Kak Aisy. Mereka turun menuju ke taman belakang. Sebab lokasi ijab qobulnya memang ditempat terbuka.
Pelan-pelan Anisa diantarkan menuju kursi disamping Farhan. Farhan belum melihat Anisa karena memang posisinya membelakangi jalan masuk.
Anisa mulai duduk disamping Farhan dan Farhan tak berkedip dibuatnya.
Farhan Pov
Masyaallah, Subhanallah, benarkah sekarang ia adalah istriku? Terimakasih ya Allaah. Tak henti-hentinya aku bersyukur, akhirnya wanita yang ku dambakan menjadi milikku.
"Farhan?". Panggil Abah, menyadarkanku dari lamunan. Ya! Pak Kyai menjadi penghulu di pernikahanku. Betapa bahagianya hati ini. Semoga semuanya menjadi berkah.
"Bacakan doa pada istrimu Farhan". Ujar Abah.
Aku mengikuti perintah Abah. Ku letakkan satu tanganku di ubun-ubun Anisa dan satu tanganku lagi menengadah. Mulai ku bacakan doa, dan Anisa mengamininya.
اللهم بارك لي في أهلي وبارك لأهلي في وارزقهم مني وارزقني منهم, واجمع بيننا ما جمعت في خير, وفرق بيننا ما فرقت في خير, بارك الله لكل منا في صاحبه
__ADS_1
اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِك مِبي شَرِّهَل مبي شَرِّهَت وَليرا
اَللّٰهُمَّ إِنِّى أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu minta istriku dan apa yang ia munculkan pada pernikahan. Dan aku berlindung padamu dari keburukan istriku dan keburukan apa yang ia munculkan pada peringatan. Ya Allah, berkahilah aku dalam permasalahan keluargaku. Berkahilah keluargaku dalam permasalahanku. Berilah mereka rizki dariku, dan berilah aku rizki dari mereka. Satukan kami selama dalam, dan pisahkan kami selama dalam. Berilah masing-masing dari kami, dalam permasalahan pasangan.Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu yang terkait ia (Istri) dan keturunannya dari setan yang dilaknat.”
Kemudian Farhan mencium ubun-ubun Anisa dengan membacakan doa,
بَارَكَ اللَّهُ لِكُلٍّ مِنَّا فِي صَاحِبِهِ
"Nak, cium tangan suamimu". Pinta Abah pada Anisa.
Anisa tampak ragu hendak menyambut tanganku. Mungkin karena ia tak pernah bersentuhan kulit dengan bukan mahromnya. Hahaha, lucu sekali, ia menarik ulur tangannya. Alhasil para tamu undangan tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Anisa.
"Tidak apa-apa Anisa, Farhan sudah menjadi suami kamu, hahaha". Ujar Abah.
"Sini biar Abi bantu". Ujar Abi dengan menahan tawanya. Abi mendekat disisi sebelah Anisa, mengarahkan tangan Anisa untuk menyambut tanganku. Barulah Anisa mencium tanganku.
Duuuuuh, maniiiisnyaaaa. Meleleh abang dek. Kurasakan tangannya gemetar dan dingin sekali. Sepertinya sebelum kesini dia memasukkan tangannya ke kulkas. Hahahaha.
"Aku tahu kamu ngledek Anisa didalam hati. Padahal tadi sebelum ijab qobul kamu juga ndredek dek dek dek". Bisik Faisal dari belakangku. Asem banget tu orang. Tau aja dah yang aku pikirin.
Aku dan Anisa menandatangani surat nikah lalu tukar cincin dan printilan-printilan lainnya. Setelah selesai, kami berdua sungkem pada keempat orang tua kami. Pada sesi ini nii, melow banget. Siapa sih yang naruh bawang merah didepan mataku.
Author Pov
Sungkeman Anisa kepada Abi dan Umi:
"Abi, Umi, maafkan semua kesalahan yang telah Anisa buat. Maafkan sifat kekanakan Anisa yang terlalu meresahkan. Terima kasih telah mendidik Anisa menjadi pribadi yang lebih baik. Anisa gak tau harus bilang apa lagi, Anisa sayang banget, sama Abi dan Umi. Jangan lelah menasehati Anisa yaa...". Ujar Anisa dengan air mata yang tak bisa dibendung.
"Anisa sudah jadi milik suami. Turuti kata suami. Jangan membantah, kecuali itu hal yang salah. Amalkan semua ilmu yang sudah kamu pelajari di pesantren. Abi tidak akan menjabarkan tugas kamu sebagai istri. Kamu sudah menguasainya nak. Abi dan Umi selalu menjadi orang tua kamu". Sambung Abi.
Sungkeman Farhan pada Abi dan Umi:
"Jaga Anak Abi Farhan. Tuntunlah pada jalan yang benar. Abi percaya kamu bisa. Didiklah dia jika masih ada perilaku atau perbuatan yang kurang baik. Abi harap kamu tidak mengecewakan kami. Doa Abi dan Umi selalu menyertai kalian". Ujar Abi.
"Farhan berjanji tidak akan mengecewakan Abi. Insyaallah Farhan akan menggandeng tangan Anisa sampai jannah. Farhan hanya manusia biasa Bi, Farhan mohon nasehat dan bimbingannya". Jawab Farhan.
Sungkeman Anisa pada Ayah dan Bunda:
"Terima kasih Ayah dan Bunda sudah menerima Anisa. Anisa mohon bimbingannya Ayah dan Bunda untuk menjadi istri yang baik. Mohon tegur Anisa jika ada perilaku yang keliru.Jangan bosan untuk mengingatkan Anisa, jangan rubah sikap Bunda dan Ayah pada Anisa, jujur. Anisa takuut". Ujar Anisa.
"Sama-sama nak, Bunda dan Ayah juga berterimakasih kamu sudah bersedia menjadi bagian dari keluarga kami. Bunda dan Ayah akan membantu kalian sesuai kemampuan kami. Terus memohonlah kepada yang maha menciptakan. Sikap Bunda dan akan selalu sama sampai kapanpun. Jangan sungkan untuk mengeluh pada kami. Sekarang kami juga orang tuamu". Jawab Bunda.
Para pengunjung yang ada ditempat pun dibuat terharu oleh prosesi sungkeman itu.
Setelah prosesi sungkeman, sekarang giliran Abah yang memberikan petuah-petuah untuk pengantin baru ini.
"Titip adik gua bro! Gua percaya lo bisa". Ujar Kak Ical pada Farhan.
"Jangan bentak Anisa ya Han, dia sensitif sama suara keras. Satu lagi, dia takut gelap". Tambah Kak Aisy.
"Saya akan menjaga Anisa sepenuh jiwa dan raga. Saya akan ingat pesan kalian semua". Jawab Farhan. Anisa tak me dengar obrolan Farhan dengan kakaknya, sebab mereka berbicara dengan lirih dan Anisa tengah fokus mendengarkan petuah Pak Kyai.
Tak henti-hentinya Farhan menggenggam tangan Anisa. Kini mereka tak lagi bergabung dengan deretan keluarga. Mereka berdua kini duduk di sebuah pelaminan sementara sebelum besok pindah tempat acara resepsi.
Hari ini merupakan acara akad nikah yang dihadiri oleh tamu khusus, dan untuk besok merupakan acara resepsi yang sesungguhnya. Dihadiri oleh tamu khusus, para kolega bisnis antara dua keluarga dan tamu umum lainnya.
Bukan keinginan Anisa dan Farhan jika resepsi dilakukan dua hari. Tapi, semua ini ulah dari para emak-emak dari keduanya.
Acara dirumah Anisa berlangsung hingga waktu zuhur. Barulah rumah ini terlihat lebih lega jika dipandang.
"Kalian istirahat dulu saja, nanti makanannya biar Umi antar ke kamar". Ujar Umi pada Anisa dan Farhan.
"Iya mi". Jawab Anisa dan terlalu,
"Anisa, tunggu suaminya dong". Panggil Umi.
Anisa berhenti seketika dan berbalik.
"Monggo Mas Faridz, mari kita istirahat". Ujar Anisa dengan ekspresi kelembutan yang terpaksa ditunjukkan.
Farhan terkekeh dan mengikuti Anisa ke kamar. "Jangan digas dulu Han, besok masih resepsi". Bisik Faisal sebelum Farhan benar-benar ke kamar. Farhan membalasnya dengan sentilan di jidat kakak iparnya.
"Dasar adik ipar durhaka". Gumam Faisal.
Bersambung....
**Wah! Wah! Wah!
Pemecah rekor pada part ini. Biasanya lhu-lhu hanya nulis sekitar 1K kata, saat ini tembus 2K kata lebih.
Buat apa?
Ya buat kalian laaah, para pembaca setiaaa:")
lhu-lhu sudah menepati janji untuk crazy up yaa....
Wuuuuuuhh! Tangan lhu-lhu sampai kriting ngetik....
Farhan dan Anisa sudah Sah niii, sesuai keinginan kalian.... Hehehe
Maaf atas keterlambatan up.
Lhu-lhu terlambat up sebab mempersiapkan printilan-printilan pernikahan mereka berdua... Hahahhaha...
Semoga kalian puas yaaa...
__ADS_1
By by... Salam dari lhu-lhu.... 😘😘😘**