
Meskipun hanya tiga hari meninggalkan Jombang, serasa sudah sebulan tak menghirup udara Jombang. Mereka kini menuju mansion. Umi dan Kak Aisy juga sudah berada di sana.
Jika kalian bertanya kapan Kak Aisy mengetahui kabar ini, ia tahu saat Umi menelpon Bunda. Ia tak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka. Ia langsung memberondongi Umi pertanyaan-pertanyaan yang membuat ia penasaran selama tiga hari ini. Jangan ditanya ia kaget atau tidak, ia bahkan sempat kontraksi kemarin.
Sesampainya di mansion, Umi, Bunda, Kak Aisy dan para pekerja sudah berjejer di halaman. Sepertinya mereka tak sabar melihat peran utama dalam penculikan ini. Padahal hari masih sangat pagi, mereka begitu antusias menunggu.
Keluarnya Anisa dari mobil langsung disambut pelukan Oleh Bunda dan Umi. Kak Aisy tentu saja mengalah. Ia memilih menghampiri suaminya dan mengomel tak jelas karena tak diberi tahu masalah sebasar ini.
“Sudah Mi, biarkan Anisa istirahat terlebih dahulu. Kasihan jika harus menjawab semua pertanyaan kalian,” Ujar Abi pada Umi dan Bunda yang sekarang sedang menanyai Anisa menjadi wartawan dadakan.
“Kami juga belum sholat subuh Bun, biarkan Ayah dan Abi yang menjawab pertanyaan Bunda dan Umi, hehehe,” Sambung Farhan.
“Tunggu! Ya Allah sayang, tangan kamu terluka... Ayo Umi obati dulu, takut kalau dibiarkan,” Ujaran Umi terpotong.
“Umi, Anisa insyaallah baik-baik saja. Biarkan Anisa diobati Mas Faridz ya?” Tanya Anisa dengan lembut tak lupa senyuman mautnya.
Umi menghela napas berat kemudian mengangguk. Anisa dan Faridz pamit ke kamar.
“Mas obatin dulu ya?” Ujar Farhan setelah sampai kamar.
“Sholat dulu Mas,” Jawab Anisa. Farhan hanya menurut.
.
.
.
Kini Anisa tengah duduk di sofa kamarnya dengan Farhan yang mengobati luka di tangannya. Sesekali ia meringis merasakan perih. Luka itu sudah tak begitu sakit sebenarnya. Sebab sempat diobati di rumah Haris tempo lalu.
“Kayaknya, Mas lebih cocok jadi dokter deh,” Celetuk Anisa.
“Awalnya iya, tapi sama Ayah dibelokin jadi dosen,” Jawab Farhan ngawur.
__ADS_1
“Sayang, kamu dikasih makanan apa sama Om Surya?” Pertanyaan nyeleneh muncul dari mulut Farhan.
“Tanyanya kok gitu sih? Adek gak dikasih makan,” Jawab Anisa.
“Masak iya! Ya Allah, tega banget. Sayang harus makan yang banyak, buat gantiin yang hari kemarin-kemarin,” Ujar Farhan dengan candanya.
“Apaan dah! Emangnya adek dendam gak dikasih makan?” Jawab Anisa sewot.
“Hahaha, ndak... kita baring-baring yuk!” Ajak Farhan dengan menggandeng Anisa. Anisa mengikuti Farhan. Badan mereka rasanya sangat lelah. Tiga hari ini tak isttirahat dengan benar. Farhan dan Anisa hari ini izin tak hadir di universitas.
Anisa membaringkan kepalanya di dada Farhan. Kangen. Hanya kata itu yang muncul di benaknya.
“Sempat murojaah gak di sana?” Tanya Farhan.
“Alhamdulillah waktu di rumah Pak Haris disediakan alat sholat dan Al-Quran Mas. Walapupun tidak sebanyak hari biasanya,” Jawab Anisa.
“Alhamdulillah, masih diberi kesempatan,” Ujar Farhan.
“Kalau Mas tanya perihal kejadian di rumah kosong itu, apa Adek gak keberatan?” Tanya Farhan pelan-pelan. Tentunya tak ingin mental istrinya terganggu kembali.
"Kita murojaah habis zuhur yaa? Sekarang istirahat dulu, " Ujar Farhan. Anisa menggangguk. Karena sekarang masih cukup pagi. Matahari pun masih enggan menampakkan wujudnya. Jika dilihat, baru kali ini Farhan mengajak Anisa tidur kembali setelah sholat subuh. Tak baik memang tidur setelah subuh, tapi Farhan kali ini benar-benar mengantuk. Bukan hanya itu, ia rindu suasana berpelukan seperti ini. Hahahah
.
.
.
Di ruangan lain, kini para bapak dan calon bapak tengah disidang para istrinya. Mereka menuntut penjelasan atas kejadian ini dan apa saja yang terjadi di tempat lokasi. Tak ada pilihan lain kecuali menceritakan semuanya. Sebelumnya Faisal mewanti-wanti agar Aisyah tak syok mendengarkan rangkaian cerita ini. Tak dapat dipungkiri, jika saat ini Faisal khawatir dengan keadaan istrinya setelah mendengarkan kejadian yang dialami Anisa disana. Maklumlah, Aisyah kini tengah hamil tua. Sebentar lagi akan melahirkan. Mungkin para lelaki itu, saatt ini dapat disebut “Para suami takut istri” hahaha. Oh! Tidak, “Para Suami Menghormati Istri” saja.
.
.
__ADS_1
.
Lalu, bagaimana keadaan Om Surya? Ia kini tengah menjani hukuman yang semestinya ia jalani. Anggun? Tentu saja ia juga. Ia terdakwa sebagai tttersangka percobaan pembunuhan Anisa.
Kalau Haris? Ia juga akan mendapatkan hukuman nantinya. Tapi, karena kini ia tengah menjalani pemulihan akibat luka tembak, maka ia mendapat keringanan kebebasan saat ini. Jika telah pulih, ia akan segera ditindak lanjuti. Haris terbukti bersekongkol dengan Pak Surya dan Anggun. Memang ia tak sepenuhnya dalang dibalik semua ini, tapi ia juga melakukan tindakan penyembunyian korban di rumahnya. Oleh sebab itu, ia juga harus menjalani hukuman.
Ibu Gina dan Imah setia menemani Haris di rumah sakit. Tak tega melihat Haris terbujur lemah di ruangan dengan semerbak bau obat. Imah dengan telaten membantu Bu Gina merawat Haris.
“Sepertinya memang hanya sebatas pembantu dan majikan. Rasa ini tak seharusnya tumbuh begitu dalam. Imah, sadarlah. Ini bukan hal yang seharusnya kamu harapkan,” Batin Imah ketika ia ingat jika perasaan cintanya tak mungkin akan terbalas.
Sudah enam tahun ia bekerja menggantikan ibunya. Satu tahun pertama ia masih bisa menatap wajah tampan mempesona sang majikan. Hingga tahun kedua sampai keenam ini ia ttak dapat melihat wajah tampan pengisi kehaluan hatinya. Haris memilih untuk bekerja di luar kota. Jakarta awalnya, hingga ia dipindah tugaskan di Jombang, hingga ia bertemu sosok wanita cantik, lugu, serta anggun itu.
Imah dikejutkan saat kepulangan sang majikan dengan membawa seorang wanita ayu itu. Hancur! Tentu saja. Selama lima tahun ia hanya mencuri kabar lewat sambungan telepon dan videocall Bu Gina, tiba-tiba dikejutkan dengan datangnya pujaan hati sang majikan.
Ia berusaha untuk menutupi kekagetannya. Tak ingin perasaan yang selama ini ia pendam sendiri terbongkar. Sebisa mungkin ia bersikap seperti biasa.
Meskipun telah terungkap jika Anisa bukan pacar ataupun teman dekat sang majikan, Imah tetap saja merasa bersalah. Bersalah pada dirinya. Coba saja ia tidak menyimpan hati pada sang majikan, pasti tidak akan sesakit ini. Ia sama sekali tak sepadan. Jika melakukan ttolak ukur pun akan sangat jauh.
Ia hanya seorang gadis desa yang menggantikan sang ibu bekerja.
“Jangan sembrono dengan urusan hati,” Itulah pesan sang Ibu.
Bersambung....
...PENGUMUMAN...
...Sekarang kalian bisa follow IG Lhu-Lhu yaa......
......@LhuLhu909......
...Kerena Lhu-Lhu belum punya grup chat di noveltoon, Lhu-Lhu membuat grup tellegram atau WA, untuk kalian yg berminat masuk grup bisa DM ke IG Lhu-Lhu :")...
...Kira-Kira pakai grup WA atau tellegram yaa?...
__ADS_1
...Bagaimana menurut para pembaca?...
...Atau tidak usah? :"(...