
"Farhan manis banget," Ujar Indah setelah para laki-laki itu pergi.
Deg! Berani-baraninya ngomong di hadapan bininya kalau suaminya ganteng! Anisa mencoba tenang dan cukup tersenyum.
"Ah iya! Aku belum berkenalan secara resmi denganmu. Aku Indah, dulu aku sempat dekat dengan Farhan waktu di bangku MTS. Hahaha, lucu kalau dipikir-pikir." Ujarnya lagi.
Terus kenapa bambang kalau pernah dekat? Itu dulu! Jaman kamu masih ingusan! Anisa gemas sendiri dibuatnya. Apa untungnya bicara seperti itu?
"Aku Anisa, istri dari Mas Faridz atau orang-orang biasa memanggilnya Farhan," Jawab Anisa mencoba angkuh. Hahaha.
Jelas sekali wanita itu tersenyum kecut menimpali Anisa.
"Hamil berapa bulan? 7 bulan ya? Atau udah mau lahiran?" Tanya Indah.
"Enam bulan, alhamdulillah dikaruniani kembar, jadi kelihatannya udah besar," Jawab Anisa.
Indah hanya manggut-manggut dan sesekali melihat ke arah perut Anisa.
"Kirain hamidun di luar nikah," Celetuknya.
"Jangan asal bicara ya Mbak!" tegas Anisa. Bisa-bisanya ada manusia seperti itu. Selera Farhan benar-benar buruk tempo lalu.
Indah tak menggubris bantahan Anisa. Ia memilih untuk sok sibuk dengan gawainya.
__ADS_1
"Bahkan kamu nggak tahu jika Farhan itu dulu ban*sat!" Ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari gawai.
"Biar bagaimana pun, itu masa lalu! Toh sekarang keluarga saya dan Mas Faridz baik-baik saja. Mas Faridz dapat menjadi pemimpin yang baik dalam membimbing saya," jawab Anisa.
"Cih!" Timpal Indah tak terima dengan penjelasan Anisa.
"Saya permisi, mau ke kamar mandi," Pamit Anisa.
Ia turun dari dipan dan hendak kemana ntah tak tahu. Yang terpenting ia ingin menjauhi wanita itu. Muak rasanya melihatnya.
"Astaghfirullah! Sayang!" Teriak Farhan. Di lemparnya makanan yang dibawanya dan segera ia berlari menyelamatkan Anisa yang hendak jatuh.
Grep!!!
Beruntung tak sampai jatuh. Farhan tepat waktu. Dress Anisa tersangkut sesuatu yang mengakibatkan dirinya oleng.
"Nggak, nggak papa. Ayo kita istirahat mas, aku capek," Jawab Anisa. Farhan menurutinya. Ia akan memesan makanan di tempat penginapan.
Baru beberapa langkah tiba-tiba...
"Astaghfirullah!" Anisa meremas kuat lengan Farhan. Perutnya keram. Sontak membuat Farhan panik.
Tanpa berpikir panjang, Farhan segera membopong Anisa dan berlari menuju mobilnya. Ia harus segera sampai di rumah sakit. Ia tak mau terjadi apa-apa dengan istri dan anaknya.
__ADS_1
"Biarkan saya yang menyetir. Kamu temani Anisa di jok belakang!" ujar Dika yang mengejar Farhan.
Farhan mengangguk. Anisa terus meringis dalam pelukan Farhan. Farhan tak henti-hentinya mengelap dan mengelus keringat Anisa.
"Sabar ya sayang, kita sebentar lagi sampai. Sabar yaa, kamu harus kuat," lirih Farhan. Sudut matanya mengeluarkan butiran bening tanpa diminta. Ia takut! Benar-benar takut.
.
.
.
"Abi! Umi kok tiba-tiba gelisah ya... Pengen ketemu Anisa," Ujar Umi pada suaminya yang tengah asik membaca koran.
"Kita ke rumah besan yuk Bi," ajak Umi.
Bukan Abi jika tak menuruti Umi. Abi selalu menuruti Umi, jika itu menenangkan pikirannya. Abi mengambil kunci mobilnya dengan Umi yang sudah menyambar tasnya.
"Mau kemana Bi?" tanya Kak Aisy.
"Mau ke besan. Ayo ikut ish! Kamu di rumah sendiri sama Hilya nanti. Ayo ikut aja," Ajak Abi.
Kak Aisy mengiyakan dan segera mengambil gendongan anaknya beserta perlengkapannya. Tumben sekali buru-buru. Begitulah pikir Aisyah.
__ADS_1
Umi mengambil alih Hilya untuk menenangkan pikirannya. Ntahlah! Hati ini begitu gundah gulana. Ingin sekali memeluk Anisa erat-erat.
...Bersambung......