
Siang menjelang sore ini Husna sudah bersiap ikut Farhan menjemput Eza dan Wardah. Jangan lupakan Anisa tentunya, ia juga ikut serta. Bumil ini masih saja semangat walaupun membawa dedek bayi dalam perut yang tak hanya satu.
Lima belas menit sudah mereka menunggu di bandara, tapi belum ada tanda-tanda pesawat dari Jakarta. Hingga setengah jam kemudian, akhirnya datanglah pesawat yang mereka tunggu-tunggu. Pintu kaca terbuka menampakkan postur tubuh makhluk ciptaan Allah yang sungguh tampannya. Tapi yang membuat janggal disini adalah Eza menggendong Wardah. Tepatnya membopong tubuh mungil Wardah.
Anisa bergegas menghampiri Eza dan melihat kondisi sahabatnya.
"Tenang Mbak, biasa ini mah, tidur..." celetuk Eza dengan santainya.
"Astaghrirullah, nggak tahu tempat banget dah anak ini," jawab Anisa memutar bola matanya jengah.
"Kamunya cari kesempatan," celetuk Farhan.
"Nggak gitu Mas, masalahnya nggak bangun-bangun ini anak dari tadi. Dibangunin susah banget, nggak enak ditungguin pramugarinya, ya udah saya gendong aja," jawab Eza.
Anisa melongok ke belakang Eza. Seorang laki-laki remaja berdiri sembari membawa tiga koper minimalis di tangannya. Sudah pasti itu milik Wardah dan Eza yang dua.
"Yang di belakang itu siapa?" tanya Anisa penasaran.
"Astaghrirullah, lupa mau ngenalin... Ini Alif, adiknya saya Mbak... Ngeyel mau ikut liburan," jawab Eza.
"Pendiem nggak kayak kamu," celetuk Farhan.
__ADS_1
"Jangan salah Mas, belum kenal aja makanya diem. Ayo dah ke mobil, udah kebas ini tangannya gendong calon istri," jawab Eza dengan guyonannya.
"Kalau anaknya tidur aja berani ngomong, kalau anaknya sadar udah melempem," ujar Farhan sembari menggandeng Anisa menuju parkiran.
Jangan lupakan ada Husna di antara mereka. Husna tampak miris melihat pemandangan itu. Sakit sekali rasanya. Apalagi mendengarkan dengan telinganya sendiri jika Kak Eza akan menjadikan Kak Wardah sebagai istri.
"Dek, ayo! Kenapa bengong disitu?" ajak Anisa pada Husna.
"Eh! Iy-iyya Kak," jawab Husna bergegas mengejar Kakaknya.
"Apa kabar anak cantik," sapa Eza pada Husna yang hendak mendahuluinya.
"Alhamdulillah baik kak," jawab Husna kemudian berlalu dengan menyunggingkan senyuman tipis. Eza tak tahu saja jika di dalam jauh di lubuk hatinya, Husna menangis tersedu-sedu.
"Tadi malam Wardah begadang apa? Biasanya dulu di pesantren kalau begadang sering gini nih," ujar Anisa.
"Yaa begadang nyiapin barang-barang plus sarapan biar nggak keteteran mbak," jawab Eza.
Selama ini Eza memang memanggil Anisa dengan sebutan Mbak. Ia tahu Anisa seumuran dengan Wardah, tapi ia sudah terlanjur terbiasa memanggil Mbak. Anisa yang awalnya risih sudah membiarkan saja.
"Terus ngajinya gimana Wardah kalau tidurnya gitu Yang?" tanya Farhan.
__ADS_1
"Ya udah Mas, mbolos... Tapi anehnya, dia tuh nggak pernah bingung sama pembelajaran. Pasti juara umum terus," celetuk Anisa.
"Gitu-gitu pernah di angkat jadi Ustadzah di pesantren, hahaha," ledek Farhan.
"Dek, dulu Kak Wardah pernah mbolos ngajar ndak?" tanya Anisa pada Husna.
"Emmm, nggak sih... Kak Wardah itu lanjutin tidurnya kalau udah selesai semuanya. Yaa, kalau udah bantu-bantu di rumah Kyai, baru deh nggak bisa diganggu. Tapi kalau nggak lagi begadang ya nggak gitu juga," jawab Husna.
Sayup-sayup Wardah menyelesaikan dengan cahaya sekitar. Matanya tertuju pada wajah tampan Eza tepat di hadapannya. Tapi Eza tak sedang menatapnya. Tepatnya sedang berbincang mengghibahi dirinya. Niat hati ingin beranjak, tapi ia baru saja sadar jika kini tertidur di pangkuan Eza.
Muuaaaluuuuu! Bisa-bisanya ia tak terbangun saat turun dari pesawat. Lalu bagaimana ia bisa sampai di mobil? Jangan bilang! Jangan bilang Eza yang menggendongnya!
"Nah! Sebentar lagi sampai ini," ujar Farhan.
Wardah memilih pura-pura belum bangun. Ia tak punya muka kali ini. Ya Allah, ingin rasanya tenggelam dalam lautan penuuuh maluuuu.
Eza kembali menggendong Wardah memasuki hotel. Tampak beberapa petugas hotel khawatir melihat Eza yang menggendong Wardah..
"Istrinya kenapa Pak? Perlu saya panggilkan dokter?"tanya petugas hotel.
"Tidak apa-apa Pak, istrinya hanya kelelahan," jawab Farhan.
__ADS_1
...Bersambung... ...