
Di sebuah mansion dua orang laki-laki tengah berbicara serius.
"Kenapa harus Anisa yang menjadi sasarannya?" Tanya Abi geram.
"Siapa lagi kalau bukan Anisa? Dia ingin menghancurkan Farhan melalui Anisa. Farhan sangat sayang pada Anisa, jika Anisa berhasil ada digenggaman mereka, Farhan pasti lemah!". Jawab Ayah.
"Aku tak habis pikir dengannya. Sudah lama sekali berlalu, kenapa masih ada dendam?". Gumam Abi.
"Kita berdoa saja, semoga tak terjadi hal yang buruk". Ujar Ayah menenangkan.
"Assalamu'alaikum". Sapa Farhan dan Anisa yang baru pulang.
"Wa'alaikumussalam". Jawab Ayah dan Abi.
"Lho! Abi masih di sini ternyata". Ujar Anisa dengan menyalami Abi dan Ayah diikuti Farhan.
"Iyaa, lagi asik ngobrol ini. Sana ke kamar, Abi gak mau diganggu". Jawab Abi.
"Ish, Abi mah. Ngusir! Ya udah Anisa ke kamar". Jawab Anisa berlalu ke kamarnya.
"Bi, Yah, peneror itu semakin bertingkah. Mereka mengirimkan sebuah box kepada Anisa. Dan isinya secarik kertas dengan tinta merah dan pisau 🔪 ". Ujar Farhan setelah memastikan Anisa pergi.
"Astaghfirullah! Anisa melihatnya?". Tanya Abi khawatir.
"Alhamdulillah tidak Bi, Farhan langsung mengamankannya". Jawab Farhan.
"Farhan, perketan penjagaan rumah Abimu dan mansion ini. Anisa yang lebih ditekankan". Ujar Ayah tak ingin dibantah.
"Bismillah! Kita bisa menyelesaikan masalah ini. Aku takut Anisa trauma lebih parah lagi". Lirih Abi. Farhan tak kuasa melihat kekhawatiran Abi. Dielusnya lengan Abi untuk menenangkan.
"Aku pulang dulu Fif. Farhan, Abi titip Anisa yaa. Abi percaya kamu bisa!". Ujar Abi.
"Insyaallah, Farhan akan menjaga Anisa dengan sepenuh hati". Jawab Farhan dengan membalas pelukan Abi.
.
.
.
.
.
.
Tumben sekali malam ini Anisa tidur cepat. Farhan masih menonton bola bersama Ayahnya.Bukan hanya berdua. Mereka bersama Mamang-Mamang pekerja di mansion ini. Hahaha, ramai sekali. Sore tadi mereka bersitegang dengan bahasan teror-meneror. Kini mereka telah heboh dengan tayangan favorit mereka. Bunda? Jangan ditanya, beliau sudah kabur ke kamarnya ketika melihat tayangan bola.
"Farhan ke kamar dulu Yah". Pamit Farhan. Ia selalu saja tak tega melihat istrinya kesepian sendiri.
"He'em". Jawab Abi singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.
.
.
__ADS_1
.
CKLEK!
Senyuman terukir dibibir indanhnya meskipun dalam keadaan tidur. Itulah hal yang pertama kali kulihat.
Kulangkahkan kakiku mendekatinya.
Cup!
Kecupan mendarat dengan sempurna di keningnya.
Aku gak akan biarkan kamu dalam bahaya sayang. Sebaiknya aku gosok gigi dan bersih-bersih dulu.
Setelah selesai, aku menyusul untuk berbaring di samping Anisa. Kamu sudah berhasil mengambil alih peran gulingku sayang.
Huufft! Nyaman banget.
.
.
.
.
CKLEK!
Pintu kamar Farhan dan Anisa terbuka.
"Kenapa sih Bun? Malam-malam kok ngajak ke kamar Farhan?". Bisik Ayah pada Bunda.
"Syhuuut, jangan keras-keras. Nanti mereka bangun. Bunda pengen lihat mereka tidur. Hahaha". Jawab Bunda dengan konyolnya.
"Lihat deh Yah, uuuhhhh! Cocweet bangeeet. Gak nyangka Bunda kalau Farhan bisa nempel bucin kayak itu". Ujar Bunda mengamati Farhan dan Anisa yang tengah tidur berpelukan.
"Bunda mah aneh banget! Untung mereka cuma tidur. Kalau lagi ehem-ehem". Bisik Ayah.
"Malah bagus itu". Jawab Bunda tambah Gaje.
"Lho, pikirannya melebihi Ayah deh Bunda". Ujar Ayah.
"Bunda pengen cepet punya cucu". Ujar Bunda.
"Sabar, semuanya sudah ada yang ngatur". Jawab Ayah.
"Eh! Eh! Eh! Lihat Yah! Anisa meluk Farhan balik. Duuuuuhhh, gemes banget lihat mereka Yah. Bunda mau absen ke kamar mereka setiap malam deh". Ujar Bunda dengan semangat.
"Bunda! Berbahaya kalau absennya tiap harii! Duh, Jangan-jangan Bunda hamil lagi yaa? Kok jadi aneh gini sih tingkahnya". Jawab Ayah geram.
"Ayah kalau ngomong asal banget dah. Ayo ke kamar. Bunda ngantuk". Ajak Bunda.
"Mau ngajak buat dedek buat Khusna lagi ya?". Goda Ayah. Bogeman dihadiahkan Bunda untuk Ayah. Hahaha
.
__ADS_1
.
.
.
"Maass? Maaasss?". Panggil Anisa lirih agar Farhan bangun.
"Kenapa yang? Hoam... Ini masih malam lho". Ujar Farhan dengan suara khas mengantuk sesekali menguap.
"Perut Adek sakiit". Jawab Anisa lirih dengan menekan perutnya dan sedikit meringkuk.
"Kenapa? Masuk angin? Mas ambilin obat yaa? Bentar!". Farhan panik hendak mengambil obat tapi ditahan tangannya oleh Anisa. Digelengkannya kepala Anisa dengan pelan.
"Adek gak masuk angin, adek cuma lagi datang bulan mas". Lirih Anisa.
Farhan mengelus rambut Anisa.
"Mas harus gimana? Mas cuma belajar proses haid dan hukum-hukum yang ada di dalamnya aja Yaang... Mas gak tahu gimana kalau perutnya sakit". Ujar Farhan panik.
"Aduuuuuhhhh, Adek biasanya masih bisa nahan maas. Tapi ini sakit bangeet". Jawab Anisa lirih.
"Bentar-bentar, Mas tanya Mbak Aisy dulu". Ujar Farhan.
Disambarnya gawai di atas nakas dan langsung menyambungkan pada Faisal.
"Apasih lu tuh! Malam-malam gini ganggu baee! Lu udah punya kelonan kalii! Gak usah ganggu gua lagi". Jawab Kak Ical emosi. Hahahaha. Suudzhon aja dah tu orang!
"Sabar Caal, gua belum ngucap salam bro! Gua cuma mau nanya sama istri lu. Anisa sakit perut gara-gara haid. Gimana cara ngatasinnya?". Jawab Farhan.
"Kenapa gak ngomong dari tadi kalau soal Adek gua!".
Gimana mo ngomong! Jelas-jelas diserobot ama cerocosannya sendiri. Hahaha.
"Hallo? Iya Han, gini... Coba kamu kompres sama air hangat yaa. Hangat-hangat kuku gitu. Nanti kalau udah mendingan, kamu elus pelan-pelan perutnya Anisa. Biar dia bisa tidur". Ujar Kak Aisy panjang lebar.
"Siap Mbak, makasiih silahkan dilanjut mesra-mesraannya". Jawab Farhan langsung memutuskan panggilannya.
"Bentar ya Yaang, Mas siapin dulu". Ujar Farhan dengan mengecup pelipis Anisa dan berlalu keluar kamar.
Selang beberapa saat, Farhan kembali dengan membawa baskom. Baskom bahasa indonesianya apa dah? Lhu-lhu gak tahu. Kalian tahu baskom gak?
"Sabar yaa, sini Mas kompres dulu". Ujar Farhan mulai mengompres perut Anisa.
Anisa masih terlihat menderita dengan nyeri yang menimpanya. Hampir setengah jam Farhan mengompres perut Anisa.
"Gimana? Masih sakit?". Tanya Farhan lirih.
"Udah aja Mas, udah mendingan kok". Jawab Anisa.
"Adek boboknya miring ke kiri dong, biar mas bantu supaya bisa bobok lagi". Ujar Farhan. Anisa hanya menurut saja tanpa menjawab apapun.
Farhan menyimpan baskom yang telah digunakan dan mulai dipeluknya Anisa dari belakang. Dimasukkan tangannya menyentuh perut Anisa dan mulai dielusnya perlahan agar Anisa nyaman.
Tak tahu berapa lama Farhan melakukan hal itu. Kini ia memastikan istrinya sudah terlelap, dielusnya lagi hingga tertidur.
__ADS_1
Bersambung.....