
Deringan gawai Anisa benar-benar mengusik tidur Farhan. Berbeda dengan Anisa yang masih nyenyak tak dapat diganggu. Sekali dibiarkan, dua kali, tiga kali masih terus berdering. Sangat Farhan mencoba meraih gawai Anisa yang ada di nakas sampingnya.
Nomor baru ternyata. Kenapa semalam ini? Ternyata masih pukul setengah sepuluh.
"Assalamu'alaikum Ninis?" sapa si dia dari sebrang sambungan telepon.
Farhan tak menjawab, ia hanya diam membisu.
"Nis, kamu masih di sana kan? Nis? Ninis?" panggilnya lagi.
"Untung saja nomor telepon kamu belum aku hapus," sambungnya.
Klik! Farhan mematikan telepon sepihak. Nomor baru di gawai istrinya. Bisa jadi mereka sudah lama tak berhubungan melalui telepon. Farhan memandangi wajah Anisa yang ada di pelukannya. Seingatnya, tadi dirinya yang berada dipelukan Anisa, kenapa kini jadi Anisa yang ada dalam pelukannya?
Mengingat suara laki-laki di telepon tadi, membuat Farhan tak mengantuk lagi.
Cup!
Satu kecupan mendarat pada hidung mungil Anisa.
Ia akan menanyakan pada Anisa esok pagi. Anisa menahan lengan Farhan, ketika dirinya hendak beranjak. Niatan hati ingin membuka laptop, tapi ia urungkan. Tapi mata Anisa masih terpejam. Hahaha. Lucu sekali melihatnya seperti ini.
"Iya, Mas nggak kemana-mana," lirih Farhan. Ia kembali memeluk Anisa.
Anisa mendusel dipelukan Farhan. Memang sangat nyaman berada pada posisi ini. Aroma parfum khas milik Farhan begitu menenangkan dan terasa nyaman. Farhan mengelus lembut rambut Anisa. Ketahuilah, jika rambut kalian di elus rasanya sangat nyaman dan membuat mengantuk hingga akhirnya tertidur dengan nyenyaknya.
.
__ADS_1
.
.
"Assalamu'alaikum bu Anisa," sapa Mahasiswa Farhan.
Ya! Pagi ini Farhan tengah mengajar. Kenapa nggak ke kampus? Ya jelas saja karena ulah Anisa. Farhan sudah bersiap hendak berangkat, Anisa malah merengek tak mau ditinggal.
Jadilah kini, yang kesekian kalinya Farhan mengajar secara online. Anisa memeluk Farhan dari belakang tanpa mempedulikan Mahasiswa di hadapannya.
"Waalaikumussalam," jawab Anisa dengan senyuman yang merekah.
Anisa kini duduk di samping Farhan. Tepatnya di ruang keluarga. Umi geleng-geleng kepala sendiri melihat tingkah anak perempuannya itu. Bukan maksud Umi untuk tidak melarang, Anisanya sama sekali tak mau jauh-jauh dari Farhan. Umi dan Bunda sudah membujuk Anisa untuk pergi sebentar, tapi sama sekali tak berhasil. Mbak Uti yang mendukung cucunya menjadi penghambat tersendiri untuk Bunda dan Umi.
"Bu Anisa nggak ngajar lagi ya?" tanya salah satu Mahasiswa Farhan dengan muka sedihnya.
"Nanti kalau ngajar lagi pasti juga ke kampus. Tidak dulu untuk sekarang," sambung Farhan.
"Ayo dilanjutkan presentasinya," ujar Farhan.
Anisa masih setia menunggu Farhan sembari memakan buah-buahan yang disiapkan Bunda. Farhan mengajar 2 kelas untuk hari ini. Dan Anisa selalu mendampinginya. Bahkan kini Anisa berbaring berbantalkan paha Farhan dengan memainkan dasinya.
"Masih lama Mas?" tanya Anisa.
"Iya sayang, Mas ngajar 3 sks di kelas ini. Sabar yaa," ujar Farhan lembut dengan mengelus lembut kepala Anisa.
Ditengah aktifitas mengajarnya tiba-tiba Farhan mengingat nomor baru yang semalam menghubungi istrinya. Berhubung Mahasiswanya masih presentasi perkelompok. Ia bisa mengobrol terlebih dahulu dengan istrinya. Untung saja di mansion sepi, pada ibu-ibu sedang berbelanja untuk acara 7 bulanan Anisa minggu depan.
__ADS_1
"Yank?" panggil Farhan.
"Hemm," jawab Anisa.
"Siapa yang biasanya manggil kamu Ninis?" tanya Farhan.
Anisa tampak berfikir sejenak. Panggilan itu tak asing baginya, tapi ia lupa siapa gerangan yang memanggilnya demikian.
"Lupa Mas, kayaknya temen sekolah dulu deh, kenapa emangnya?" tanya balik Anisa.
"Semalam ada yang telepon ke hp kamu, manggilnya Ninis," jawab Farhan.
Anisa segera mengecek log panggilannya. Benar saja, ada nomor baru masuk pada daftar panggilan.
"Perempuan?" tanya Anisa.
"Suaranya laki-laki," jawab Farhan.
"Mas, aku beneran nggak tahu... Kok ngomongnya cuek banget sih! Marah? Ya udah kalau gitu! Terserah!" ujar Anisa marah. Ia beranjak dan pergi ke kamarnya. Farhan melongo dibuatnya. Kenapa istrinya yang marah? Harusnya dia dong yang marah.
Bunda menghampiri Farhan. Bunda melihat pertengkaran itu. Para ibu-ibu sudah kembali ternyata. Jeweran mendarat dengan terjalnya pada telinga Farhan.
"Beraninya buat anak Bunda nangis ya!" tegas Bunda.
"Adudududuuuu Bunda, sakit Bun, sakit," teriak Farhan.
Umi membantu Farhan agar besan + sahabatnya itu melepaskan jewerannya.
__ADS_1
...Bersambung......