Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
4 Bulanan


__ADS_3

Acara empat bulanan yang ditunggu-tunggu akhirnya hari ini berlangsung. Orang-orang sudah ramai menyibukkan dirinya mempersiapkan acara. Anisa juga tengah bersiap dengan bantuan Wardah. Satu jam yang lalu Wardah sudah datang dengan membawa gaun hasil rancangan perdananya.


Ia sengaja menghadiahkan untuk sahabatnya. Tak lupa juga dengan paduan kemeja Farhan yang senada.


"Pagi pengajian, jadi khatamannya siang?" Tanya Wardah sembari merias Anisa.


"Iya, nanti kamu ikut baca ya sama santri-santri," Pinta Anisa.


"Siap bos! Malam nanti, setelah pembacaan doa khotmil Quran, aku juga diminta jadi vokalis," Jawab Wardah.


"Bagus dong! Aku udah lama banget gak lihat kamu sholawatan. Umi sama Abah nanti juga datang... Kemungkinan Cak Ibil datang juga Dah," Goda Anisa.


"Biarin ajah!" Jawab Wardah masa bodoh. Ia sudah siap jika harus dihadapkan dengan mantan suaminya itu.


"Ouuhh! Atau kamu aku jodohin sama Gus Hasan aja?" Celetuk Anisa.


"Gak usah ngawur! Siapa kamu jodoh-jodohin aku!" Jawab Wardah. Sukses membuat Anisa tergelak.

__ADS_1


.


.


Para tamu undangan sudah berdatangan satu-persatu. Memang tak menggunakan tenda di luar rumah. Bunda hanya mendekorasi ruang tamu dan ruang keluarga. Jangan heran, mansion ini sangat besar. Jadi bisa saja menampung masyarakat satu desa. Hahaha. Umi dan Abah Kyai juga sudah berada di tempat ditemani Mbah Kakung, Abi dan Ayah. Abah Kyai-lah yang akan mengisi acara pengajian kali ini.


Anisa dan Farhan sudah duduk manis di tempat duduk khusus mereka. Berbeda dengan Wardah yang kini tengah bersama Gus Hasan yang bertindak sebagai pembawa acara. Awalnya Wardah bertugas dengan Husna, eh tiba-tiba Umi meminta tolong pada Gus Hasan.


Sepertinya ibu dan anak itu bersekongkol kali ini. Tampak Anisa berbisik dengan Farhan menghadap ke Wardah. Ternyata suaminya juga ikut andil.


.


.


.


Alhamdulillah acara pengajian berjalan dengan lancar. Abah Kyai tak langsung pulang, beliau juga akan memimpin jalannya khataman siang hingga pembacaan doa di malam hari. Sungguh acara yang panjang.

__ADS_1


"Lihat deh Mas! Gus Hasan lirik-lirik ke Wardah dari tadi," Ujar Anisa ketika tak sengaja melihat gelagat Gus-nya.


"Hahaha, kamu ini dari tadi merhatiin Gus Hasan terus, nggak merhatiin aku aja?" Jawab Farhan dengan muka dibuat cemberut.


"Aku antusias banget nyariin Wardah jodoh Mas, aku pengen Wardah segera dapat yang terbaik," Utara Anisa.


"Iya, Mas paham... Tapi sepertinya Wardah belum siap untuk kembali ke jalan itu, beri dia waktu untuk menata hatinya. Toh lusa dia juga udah ke Jakarta. Kita juga selalu mendoakan yang terbaikkan untuk dia," Farhan mencoba menasehati. Senyumannya tentu saja sangat memikat Anisa. Anisa mengangguk patuh dan tersenyum kembali.


Acara pengajian selesai, kini setelah zuhur mulailah acara khataman. Yang awalnya ruangan mansion penuh dengan undangan Umi dan Bunda, kini tergantikan oleh santri-santri yang baru saja hadir. Kali ini Cak Ibil yang mengantarkan.


"Jangan tegang Wardah," Bisik Anisa.


"Aku udah mencoba tadi Nis, udah bisa tenang, ternyata rasa tak nyaman ini kembali setelah melihat orang itu," Lirih Wardah.


Kini mereka berdua tengah duduk di kursi makan. Wardah mencoba menenangkan diri sebelum masuk ke ruang utama. Ntah kenapa ia menjadi gugup dan rasa marahnya dengan Cak Ibil kembali muncul.


...Bersambung.... ...

__ADS_1


__ADS_2