
Tiga hari berada di pesantren cukup melelahkan untuk Anisa dan Farhan. Bagaimana tidak, dua tanggung jawab sekaligus dipikul secara bersamaan. Sudah beberapa minggu yang lalu mereka pulang dari pesantren.
Tak ada kata istirahat. Mereka harus bergelut dengan dunia universitas setiap harinya. Farhan semakin sibuk beberapa hari ini. Rapat-rapat- dan rapat setiap hari. Deadline pemberangkatan jamaah ziarah wali songo semakin dekat. Banyak hal yang harus disiapkan.
Tak jarang Anisa harus rela menunggu Farhan di ruangannya sampai malam. Seperti saat ini, Anisa tengah termenung di atas ranjang kamar pribadi kantor Farhan. Bosan? Tentu saja! Sampai-sampai kotak canggih yang menyiarkan ribuan cannel tak sanggup memudarkan kebosanan sang empunya. Benda pipih yang sedari tadi dipegangnya pun tak difungsikan sama-sekali saat ini.
Sedari tadi Anisa mencoba mengechat suaminya tak ada tanda-tanda akan dibalas sepertinya. Menelepon? Tentu saja ia tak berani. Takut jika mengganggu. Ini sudah sangat malam. Apa iya, rapat final selama ini? Enggan rasanya kembali mengetikkan sesuatu di benda pipih itu kembali. Dia sudah membacanya, tapi kenapa tidak dibalas? Anisa memilih untuk memandangi gedung pencakar langit kota Jombang itu. Tidak banyak, sebab kota Jombang masih tergolong kota yang asri.
Tok! Tok! Tok!
Ketekokan pintu utama membuyarkan lamunan Anisa. Terlihat dari bayangannya seperti seorang perempuan.
Cklek!
“Mbak Anisa, ini ada titipan dari Pak Rektor,” Ujar Mbak Retno seorang TU Fakultas Hukum.
“Oh iya, terima kasih mbak,” Jawab Anisa.
Anisa mengambil alih nampan berisi makanan itu. Sekarang sudah jam 9 malam. Bahkan Anisa sudah masak di kantor Farhan. Buat apa di antarkan makanan lagi. mending kalau yang mengantar suaminya, ini malah orang lain. Mau sampai kapan rapat itu?
Anisa tak membiarkan Mbak Retno pergi begitu saja. Di mintanya agar ia duduk di sofa. Ia harus menanyakan sesuatu.
“Apa selama ini rapat final tentang ziarahnya?” Tanya Anisa.
“Sudah selesai kok Mbak. Mungkin saat ini Pak Rektor masih makan malam bersama dosen-dosen yang lain. Sudah dua jam yang lalu selesainya. Benar-benar menguras tenaga Mbak, capek banget,” Jawab Mbak Retno.
Dua jam yang lalu? Kenapa suaminya tak menghubungi sama sekali? Bahkan ia rela tak makan dulu demi menunggu sang suami.
“Ini dari suami saya?” Tanya Anisa.
“Iya Mbak, tadinya Mbak Nana yang mau antar, tapi malah dilemparkan ke saya,” Jawabnya.
“Terima kasih ya?” Ucap Anisa.
“Iya, sama-sama Mbak. Saya pamit dulu ya, udah capek banget,” Jawabnya kemudian pamit.
Sepeninggalnya Mbak Retno, Anisa tampak memandangi nampan berisi makanan itu. Beralih ke benda pipihnya, tak didapatinya panggilan ataupun sekedar pesan masuk sama sekali.
__ADS_1
Tuut. Tuut. Tuut.
Tersambung, tapi tak diangkat. Anisa mencoba mengingat-ingat kesalahan beberapa waktu lalu. Rasanya tak ada, bahkan sebelum rapat tadi Farhan bersikap seperti biasanya.
“Makanan sebanyak ini buat apa? Mungkin sama Mas Faridz juga kali ya?” Gumam Anisa.
Dipindahkannya nampan makanan itu bersama masakan yang sudah dimasaknya tadi. Mungkin sebentar lagi sang suami pulang, Anisa memilih menunggu di sofa.
.
.
Emmh!
Farhan meregangkan ototnya. Sepertinya ia salah tidur. Ototnya begitu kaku rasanya. Benar! Ternyata ia kini tidur di sofa.
“Astaghfirullah! Jam sebelas?” Kaget Farhan.
Bisa-bisanya ia tertidur di ruangan laknat ini.
Plak!
“Lho gak usah ngagetin gitu dong! Kalau gua jantungan gimana nanti? Untung jantung gua kuat!” Jawab Cipto tak kalah geramnya. Ia juga dalam posisi tidur, tiba-tiba di pukul temannya itu.
“Gua gak tega mau bangunin elo! Makanya gua biarin,” Sambung Cipto.
“Dengan elo gak tega, Lho pasti tengah menciptakan kesalah pahaman sama bini gua. Dia di ruangan gua sendiri,” Tegas Farhan. Ia segera mengambil jas yang terlampir di pinggir sofa dan segera berlalu.
“Di kantor? Sendiri? Mampus Lo Cip!” Gumam Cipto pada dirinya sendiri.
.
.
.
Ceklek!
__ADS_1
Perlahan pintu utama kantornya dibuka. Hal pertama yang terlintas di pandangannya adalah Sang Istri yang tengah tertidur di sofa. Sofa di ruang dapur tempat makan. Yang lebih mengenyuhkan, ia tidur dengan posisi terduduk.
Coba saja ia tadi tidak diajak mampir Cipto, pasti kini ia sudah memeluk dengan pulas sang istri. Pandangannya kini teralih pada makanan di hadapan sang istri. Belum tersentuh sama sekali. Berarti Anisa belum makan malam?
Farhan tadi memang sempat makan malam, tapi tidak banyak. Karena ia berniat untuk makan malam bersama sang istri. Gara-gara Cipto yang tadinya ingin menunjukkan sebuah bisnis baru, ntah bagaimana Farhan malah tertidur disana.
Perlahan Farhan duduk di samping Anisa. Hendak mengangkatnya menuju kamar, tapi Anisa belum makan malam. Hendak membangunkan, tapi tak tega. Harus bagaimana?
Farhan mengangkat tubuh Anisa hendak memindahkan di kamar. Perlahan-lahan. Sangaaaat perlahan. Takut jika mengusik tidurnya.
Perlahan pula diletakkan pada ranjang. Malam ini malam perdana mereka menginap di kampus. Malam perdana pula Farhan yakin jika sang istri pasti akan marah. Farhan melepas balutan jilbab yang menghiasi wajah manis sang istri. Mulai dari jarum, ciput, hingga ikatan rambutnya dilepas secara perlahan.
“Emmmhh,” Anisa melenguh perlahan. Merasa ada seseorang dihadapannya ia segera menjaga jarak.
“Astaghfirullah!” Kaget Anisa.
Mulai sadar jika sang suami dihadapannya, Anisa segera memasang wajah masam. Melihat baju kerja yang masih bertengger di badan sang suami. Baru kembali? Apa-apaan ini! Marah? Tentu saja! Ia beralih pada sisi ranjang yang berlawanan. Ditutupnya wajah ayu itu dengan guling.
“Hiks.. Hiks.. Hiks..” Anisa menangis.
Farhan mengusap wajahnya dengan kasar. Farhan segera mendekati Anisa. Mengelus perlahan pundaknya yang tak tertutup guling.
“Yaang? Maafin Mas. Mas benar-benar gak tahu, tadi tiba-tiba tertidur di ruangan Cipto,” Lirih Farhan.
“Deek?” Panggilnya lembut.
Tak ada sahutan sama sekali. Hanya isakan yang terdengar. Farhan yang dari tadi merasa gerah karena tak mengganti baju kerjanya segera mengganti. Berwudhu, sholat, dan kembali menghampiri Anisa.
Ia sholat sendiri. Dilihatnya sajadah yang bertengger di tempat ada dua. Pastilah Anisa sudah sholat.
Farhan mengelus punggung Anisa. Berharap tangisnya segera reda. Anisa masih saja memunggunginya. Farhan memeluk Anisa dari belakang dengan mengelus rambutnya. Dirasa, tangisan sang istri mulai reda.
Ouh, ternyata sudah tertidur. Sepertinya kebanyakan orang akan seperti itu. Setelah lelah menangis, kantuk pun menyerang. Farhan perlahan memindahkan guling yang menutup wajah sang istri. Di alihkan posisi Anisa menghadap ke arahnya. Sembab. Bahkan warnanya pun memerah. Farhan mengusap sisa-sisa buliran air mata itu.
“Maafin Mas sayang, Mas benar-benar gak sadar. Bisa-bisanya tertidur diruangan Cipto. Seingatku, aku tadi masih membicarakan bisnis itu dengan Cipto dan Nana. Mas sakit! Sakit melihat air mata ini tumpah karena Mas sendiri, ” Batin Farhan.
Farhan mendekap dengan penuh sayang. Ia terus mengusap punggung Anisa agar lebih nyenyak dengan posisi masih merengkuhnya. Ntah sampai kapan ia terus mengusap, iapun tak sadar jika ikut terlelap.
__ADS_1
Bersambung....