Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Akibat Bola


__ADS_3

Hari semakin sore. Tapi Farhan belum juga selesai dalam rapatnya.


Anisa POV


"Emmmh". Lenguhku merenggangkan tubuh.


Demi apa! Nyaman banget tidur siang kali ini. Ku usap-usap sekeliling yang kugunakan untuk tidur.


Kasur? Kok aku di kasur sih? Kubuka mataku karena kaget. Apa aku sudah dirumah? Astaghfirullaah! Aku dimana ini? Kuedarkan pandanganku diseluruh kamar ini.


"Sepertinya bukan kamar biasa. Pintu, sebaiknya keluar. Jangan-jangan diculik? Ya Allaaah, Mas Faridz dimanaaa? Jangan-jangan disekap? Astaghfirullaah bagaimana iniii?". Ujarku dengan menyusuri kamar itu.


CKLEK!


"Kok kamar mandi? Pintu keluarnya mana?". Aku bingung, kulihati seluruh tembok tak ada pintu.


Tunggu! Ini.... Dengan kuraba tembok yang sepertinya aneh, tak rata seperti yang lainnya. Sepertinya ini pintunya. Tapi, ganggangnya dimana? Kenapa jadi macam pintu rahasia sih.


Karena lelah mencari pintu keluar, akhirnya aku menyerah. Mata ini tertarik melihat jendela kaca besar disamping tempat tidur.



Sebuah kamar yang luar biasa. Ini mah hotel kali yaa. Eh, itukan jalanan kampus! Ini dimana sih? Semakin bingung ku dibuat. Kalau ini masih wilayah kampus, insyaallah masih aman deh.


Tasku dimana yaa? Kok gak ada? Kulihat dinding yang ada jamnya.


"Jam setengah empat, sudah masuk sholat asar dong. Mas Farhan mana siiih, ya Allaaah.... Ini kamar siapa? Eh, itu ada perlengkapan sholat. Lebih baik aku sholat dulu". Gumamku.


Setelah sholat aku kembali mengamati jendela kaca itu.


"Assalamu'alaikum istriku". Suara lembut dan pekukannya mengagetkanku.


"Mas? Ngagetin, kita dimana?". Tanyaku dan langsung berbalik arah memeluknya.


"Di kantor, dimana lagi? Yuk pulang, atau mau bermalam disini?". Tanyanya.


"Enak banget disini, tapi pulang aja deh. Akuu pengen kerumah Ayah sama Bunda". Jawabku.


"Besok kita kesana, hari ini pulang ke rumah Umi Abi dulu ya". Ujarnya. Aku mengangguk mengiyakan.


Kuikuti Mas Faridz melangkah pada dinding yang tak rata tadi. Eitch! Tangannya menyentuh tombol kecil didinding. Ternyata ini memang benar pintu rahasia. Aku melongo dibuatnya.


"Kok diem aja? Ayo pulang". Ajaknya menyadarkanku.


"Mas kok punya pemikiran buat bikin kamar rahasia sih? Lebih cenderung ke hotel malahan ini mah". Ujarku.


"Biar gak ada yang ganggu kalau Mas lagi berduaan sama istrinya". Jawabnya dengan main mata. Geli kaliii aku lihatnyaa, tapi tetep tampan. Wkwkwk.

__ADS_1


Author POV


"Udah sepi banget mas". Ujar Anisa ketika sampai di lobi.


"Ini udah hampir maghrib, udah pulang semua. Mungkin ada mahasiswa yang mau praktikum". Jawab Farhan. Anisapun manggut-manggut faham.


Jalanan Jombang kali ini terlihat macet, tapi tak semacet biasanya. Sebelum sampai rumah mereka menyempatkan untuk sholat maghrib dulu. Sepertinya tak terkejar waktunya jika sholat dirumah.


Akhirnya setelah melewati perjalanan panjang sampai juga dirumah. Walaupun siang menjelang sore tadi sempat tidur, tapi tetap saja kini Anisa masih mengantuk.


"Assalamualaikum". Sapa Anisa dan Farhan ketika memasuki rumah.


"Wa'alaikumussalam, baru pulang? Tumben sampai malam". Jawab Umi yang tengah menonton tv dengan Kak Aisy.


"Mas Faridz ada rapat tadi Mi". Jawab Anisa.


"Sana mandi, udah malam ini. Jangan keseringan mandi malam, gak baik". Ujar Kak Aisy.


"Siap Bu bozz". Jawab Anisa lagi. Anisa langsung naik ke kamarnya.


"Ke kamar dulu Mbak, Umi". Pamit Farhan.


"Iyaa Han". Jawab Umi.


Farhan memang lebih memilih untuk memanggil Mbak dari pada kakak. Kepada Faisalpun ia memanggil Mas. Kecuali jika hanya berdua, hahaha. Jika teman sekelas tiba-tiba berubah status menjadi adik atau kakak ipar rasanya aneh jika merubah panggilannya.


"He'em". Jawab Farhan. sambil melepaskan ikatan dasinya. Anisa mendekati Farhan dan membantu melepaskan dasi serta jas Farhan.


"Emangnya kalau Rektor itu wajib pakai jas ya mas?". Tanya Anisa.


"Ya tidak juga. Tapi, maskan sering dapat kunjungan atau rapat. kadang juga dadakan, jadi harus jaga-jaga bawa jas". Jawab Farhan.


"Mandi bareng yuk". Bisik Farhan pada Anisa dengan memeluknya.


Anisa hanya mendengus mendengarkannya. Ingin menolak tapi takut kualat. Jadiii, ya sudahlah.


"Gak mau?". Tanya Farhan.


"Kalaupun gak mau pasti mas ngrayu". Jawab Anisa.


Merekapun melakukan ritual mandinya.


Selepas Isya'


Seperti biasa, setelah lalaran, Anisa ikut nimbrung di depan tv dengan yang lainnya. Bahkan Mbok Yem dan bawahannya juga. Sudah biasa memang. Keluarga Anisa memperlakukan para pekerjaannya seperti keluarga sendiri.


"Bola Bi, udah mau mulai". Ujar Kak Ical setelah memindah cannel tv pada siaran bola.

__ADS_1


"Cocok ini mah, mumpung tadi mang Darma habis beli cemilan kacang". Ujar Farhan.


"Ah! Males dah kalau gini. Anisa ke kamar dulu". Ujar Anisa pamit. Ia sudah males kalau para lelaki sudah menemukan cannel favoritnya.


Berangsur-angsur para kaum hawa meninggalkan tempat duduknya. Tinggallah kaum adam disini. Bahkan ruang keluarga kini lebih ramai akibat teriakan para suporter.


Farhan melihat jam diatas tv.


"Sudah jam 10?". Gumamnya.


Akhirnya ia memutuskan untuk ke kamar. Walaupun sebenarnya masih ingin menonton. Tapi, ia ingin memastikan istrinya dahulu.


Cklek!


Dibukanya pintu kamar. Terlihat Anisa tengah meringkuk memeluk guling. Farhan berwudhu dan menghampiri istrinya.


Dilihatnya ikatan rambut Anisa masih terpasang,


"Apa gak pusing rambut diikat sepanjang malam?". Lirihnya sambil membuka ikatan rambut Anisa dengan sedikit menguraikannya.


Farhan mencoba untuk mengambil guling yang dipeluk Anisa. Enak bangeet tuh guling dipeluk-peluk. Tak akan kubiarkan kau menjadi penghalang antara kami. Pikirnya.


Setelah berjuang lumayan berat, akhirnya ia berhasil. Direngkuhnya Anisa dalam pelukannya. Sambil menonton bola di kamar. Dasar Farhan. Kirain mau tidur. Nonton bola aja harus sambil meluk kesayangannya.


"Miaw, miaw". Jacy ternyata mengikuti Farhan ke kamar. Ia ikut bobok di belakang punggung Anisa, sesekali Farhan mengelusnya juga.


Anisa kemarin baru saja membeli sepasang kucing unyu'-unyu'. Berkat rayuannya pada Farhan tentunya.


Awalnya Umi tak memberikan izin, sebab Umi tak begitu suka kucing. Tapi, berkat bantuan Abi akhirnya Umi mengizinkan. Dan setelah kucing itu datang, ternyata Umi begitu welcome.


Jacy dikamar Anisa Dan Farhan. Kalau Jeje? Ntahlah. Mungkin bersama Abi. Seluruh keluarga Anisa menyukai kucing, kecuali Umi tentuya. Hahahha.


Bersambung...


Kalian salfok sama covernya yaa?


Sama dong, waktu mo nulis part ini lhu-lhu baru tahu kalau covernya diganti pihak apk ini...


Lhu-lhu mohon maaf jika para pembaca tak berkenan. Tapi, lhu-lhu bisa apa. Yang terpenting covernya tetap berhijab. Dari pada cover yang duluu itu. 🙏🙏


Lhu-lhu sudah malu jika mau protes lagi sama pihak aplk. Heheheehehe...


Jika senang alhamdilillah, kalau tidak yaaa syukurilah. 😘😘😘


Budayakan vote + komen + like +share juga boleh....


Terima kasiiiih 😍😍

__ADS_1


__ADS_2