Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Khawatir


__ADS_3

Ini pertama kalinya Anisa memasuki kamar sang suami. Farhan memasukkan sidik jarinya untuk membuka pintu itu. Canggih sekali. Dulu sewaktu Anisa ke kamar Husna tidak seribet ini.


"Kenapa harus pakai sidik jari mas?". Tanyaku.


"Mas selalu menjaga privasi mas dari dulu. Sini tangan kamu. Biar kamu bisa buka sendiri nanti". Jawab Farhan.


Anisa menurut.


"Siapa aja yang bisa masuk sini?". Tanya Anisa.


"Cuma mas aja, sekarang kamu bisa". Jawab Farhan.


"Bunda?". Tanya Anisa.


"Bisa, dari dulu mas suka menenangkan diri sendiri. Gak mau kalau sering diganggu. Bunda kalau mau masuk juga bisa sebenarnya, tapi Bunda pasti ketok pintu dulu. Nah! Sudah, ayo masuk". Ujar Farhan.



"Ini kamar luasnya kebangetan dah". Ujar Anisa.


"Hahaha, ayo mandi. Habis itu kita turun sholat maghrib". Ujar Farhan.


"Mas duluan, aku mau siapin mas baju dulu. Dimana tempat pakaiannya mas?". Tanya Anisa.


"Udaah, nanti aja. Ayo mandi dulu". Ajak Farhan merangkul Anisa menuju kamar mandi.


.


.


.


.


Selepas sholat maghrib mereka berkumpul dimeja makan. Anisa sesekali memperhatikan Ayah di kursinya. Ia masih penasaran kenapa Ayah tadi bersikap dingin. Seperti ada masalah serius.


"Kenapa Anisa?". Tanya Ayah lembut. Dari tadi ia sadar jika Anisa memperhatikannya.


"Eh!emm, gak papa Yah. Hehehe". Jawab Anisa.


Karena salah tingkah, ia mencoba menutupinya dengan menyiapkan piring makan untuk Farhan.


Mereka makan dengan tenang, hanya suara dentingan sendok dan piring saling beradu. Mungkin karena mood Ayah yang sedang tidak stabil, hari ini tak begitu ceria jadinya.


Setelah membantu membereskan perlengkapan makan Anisa hendak ke kamar mengikuti Farhan. Tumben sekali rumah ini sepi. Biasanya Ayah dan Bunda di ruang tv. Anisa melihat Ayah sedang menonton siaran berita sendiri. Ia terlalu penasaran dengan permasalahan yang dihadapi Ayah.


"Ayah?". Lirih Anisa.


"Eh anaknya Ayah, sini". Jawab Ayah. Sepertinya mood Ayah mulai membaik. Anisa menghampiri Ayah dan duduk disebelahnya.


"Mau Anisa pijit Yah? Abi suka lho dipijit sama Anisa". Ujar Anisa.


"Oh ya? Coba Ayah rasain". Jawab Ayah.


Senyuman mengembang di wajah Anisa. Mulailah ia memijit pundak Ayah. Ayah tampak menikmatinya. Berhasil. Anisa bisa basa-basi menanyakan ke kepoannya.


"Ayah?". Panggil Anisa lirih.


"Hmm? Mau tanya persoalan Ayah dengan Farhan tadi?". Jawab Ayah.


"Mmm, maaf Yah. Bukan bermaksud ikut campur". Lirih Anisa.


"Hahaha, nggak papa. Ayah sama Farhan membicarakan tentang kamu". Ujar Ayah. Anisa melongo dibuatnya. Salah apa dia? Sampai-sampai Ayah gusar dibuatnya.


"Ekspresinya jangan gitu Nis, Ayah jadi tahan tawa nanti. Hahahha". Ujar Ayah membalikan badannya.


"Kamu gak usah mikir macam-macam. Kamu gak ada salah apa-apa kok. Maaf sudah membuat kamu bingung". Sambung Ayah.


"Ayah bisa baca pikiran Anisa ya? Dari tadi ngepas terus sama uneg-uneg Anisa". Jawab Anisa.

__ADS_1


"Ayah itu sudah sekolah lebih lama dari kamu. Jangan lupa Ayah sudah bergelar profesor". Ujar Ayah dengan tawanya. Tak berniat sombong, ia hanya sekedar bercanda.


"Astaghfirullaaaahhh! Anisa benar-benar melupakannya. Ampun suhuu, Anisa gak akan ngomong dalam batin jika bersama Ayah". Jawab Anisa menangkupkan kedua tangannya bak menyembah. Hahahaha, tawa Ayah menggelegar.


"Haduuuh, Ayah gak kuat lihat muka kamu terus-terusan, ekspresinya pasti gitu". Anisa hanya cemberut dibuat Ayah. Memangnya badut apa.


"Nak, kamu kalau kemana-mana harus sama Farhan yaa. Itu pesan Ayah". Ujar Ayah dengan mengelus kepala Anisa.


"Anisa kalau kemana-mana pasti ada mas Faridz Yah. Itu orang dah kayak kepalanya Anisa". Jawab Anisa.


"Ayah kenapa tiba-tiba ngomong gitu?". Tanya Anisa.


"Ya gak papa, Farhankan sudah diamanahkan untuk menjaga kamu, jadi ya harus dijaga to?". Jawab Ayah.


"Sana ke kamar. Ayah juga mau tidur. Tumben Bundamu gak nonton sinetron". Sambung Ayah.


Ayah melangkah menuju kamarnya meninggalkan Anisa yang masih termenung.


Anisa POV


Huuufftt. Helaan nafas kuhembuskan dengan berat. Berharap beban pikiranku melayang bersama hembusan itu. Ternyata tidak, Aku masih kepikiran dengan pesan Ayah. Kupejamkan mata mengharap ketenangan. Aku tak punya beban berat, tapi kenapa rasanya banyak uneg-uneg yang tak kutahu itu apa?


Kulangkahkan kaki menuju kamar sang kekasih. Eeaaakk! Kekasihku.


Kubuka pintu itu, sedang apa dia sekarang?


Huufft, kembali nafas berat sedikit lembut kuhembuskan. Ntah gimana itu nafas. Wkwkwk.


Benar-benar gak bisa di tunda apa kerjaannya? Sampai ketiduran gitu. Memangku laptop dengan bersandar di kepala ranjang. Kepala sedikit mereng ke sebelah. Hahaha. Lucu kali.


Kuhampiri dia, lebih baik kumatikan laptopnya. Tunggu! Kulihat layar laptop menunjukkan seseorang. Ini foto siapa? Kok sepertinya tidak asing ya? Emm, mungkin rekan kerjanya.


Kuambil secara perlahan laptop itu dan meletakkannya di nakas.


"Mas?". Lirihku dengan menyentuh pundaknya khawatir mengagetkannya. Benar dugaanku. Mas Faridz langsung terbangun dan mengucek matanya.


"Istirahat, jangan dipaksain kerja". Ujarku melangkah naik ke tempat tidur disisinya.


"Mas?". Panggilku.


"Hmm". Jawabnya dengan bergeming.


"Tadi Aku lihat ada foto bapak-bapak di laptopnya mas, itu siapa? Kok kayaknya gak asing ya". Tanyaku.


"Jangan pakai aku yaa kalau nyebut diri sediri sama mas, pakai panggilan adek aja, okee". Ujarnya. Aku mengangguk.


"Itu dulu sahabat Ayah sama Abi. Mas ada sedikit urusan dengan beliau". Sambungnya. Akupun hanya ber-oh ria.Tumben banget kami istirahat tepat setelah sholat Isya'. Biarlah, sekali-kali.


.


.


.


.


Pagi ini Anisa sedang berada didapur bersama Bunda dan Si Mbok. Sudah lama sekali rasanya tak masak bersama. Hahaha.


"Sayang, nanti ada jadwal ngampus tidak?". Tanya Bunda.


"Gak ada Bun, tiga hari libur". Jawab Anisa.


"Temani Bunda belanja ya?". Tanya Bunda. Anisa membalas dengan senyuman dan anggukan.



Acara memasak pun telah selesai. Anisa menghampiri Farhan yang ada di kamar. Ternyata Farhan masih berkutik dengan laptopnya. Sepertinya melanjutkan pekerjaan tadi malam.


"Sarapan dulu mas". Ujar Anisa menghapiri Farhan. Farhan mendongak dan tersenyum.

__ADS_1


"Iyaa, bentaaar lagi. Save, iya. Yuk". Jawab Farhan.


Sesampainya di tempat makan, Ayah dan Bunda sudah berada disana. Seperti biasa, Anisa melayani suaminya. Kali ini Farhan meminta pada istrinya untuk sepiring berdua.


"Bunda mau jalan sama Anisa nanti, bolehkan Yah?". Izin Bunda pada Ayah.


"Boleh, sama Farhan jugakan?". Tanya Ayah.


"Tapi, Farhan masih ada kerjaan". Lirih Farhan.


"Gak papa, Bunda sama Anisa aja. Diantar supir". Ujar Bunda.


"Gak papa cuma berdua?". Tanya Ayah khawatir.


"Tenang aja Yah, Anisa jago silat kok". Canda Anisa.


"Mana ada jago silat takut gelap". Ledek Farhan.


"Hiish, gak bisa diajak bercanda sih!". Gerutu Anisa disambut gelakan Ayah dan Bunda.


.


.


.


Anisa telah siap dengan perlengkapannya. Setelah mencuci baju, Anisa langsung bersiap untuk pergi. Anisa memang tak mau bajunya dan Farhan dicucikan para pekerja. Kurang afdhol rasanya. Iakan ingin dapat pahala.


Kini Anisa dan Bunda telah berada di mall. Tak jauh dari mansion. Tak membutuhkan waktu lama.


"Astaghfirullah!". Kaget Anisa saat tak sengaja menabrak seseorang.


"Maaf Pak, saya tidak sengaja". Ujar Anisa memohon maaf dan membantu sang bapak berdiri.


"Iya nak, tidak apa-apa". Jawab sang bapak.


Bunda tercekat mendengarkan suara lelaki itu. Bunda yang awalnya berjalan dahulu kini berbalik untuk memastikan suatu hal.


Deg! Benar. Itu benar dia. Apa dia sengaja mengawasi kami. Perlahan langkahnya mendekati Anisa.


"Siti? Apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu". Sapa bapak itu pada Bunda.


"Ayo sayang, kita pergi. Kami permisi". Pamit Bunda dengan menarik jemari Anisa.


"Bunda kenal sama bapak itu?". Tanya Anisa setelah menjauh.


"Iya sayang, Bunda kenal". Jawab Bunda.


"Kenapa kita cepat-cepat pergi?". Tanya Anisa.


"Sayang, dengarkan Bunda. Kamu jauhi orang tadi yaa? Bunda mohon". Ujar Bunda dengan tatapan khawatirnya. Anisa bingung dibuatnya.


"Belum saatnya kamu tahu tentang orang itu nak, ayo kita belanja". Sambung Bunda. Anisa mencoba mengerti dan mengangguk.


Di Mansion.


"Farhan! Han! Farhan! Cepat buka pintunya!". Teriak Ayah panik didepan kamar Farhan.


"Ada apa Yah?". Jawab Farhan malas setelah membuka pintu.


"Lihat ini". Ayah menyodorkan gawainya.


"Astaghfirullah! Kenapa orang itu bisa disana?". Farhan ikut panik. Ia mengambil jaket dan kunci mobil.


"Tenang! Dia tidak akan macam-macam saat ini. Kamu jangan panik. Bahaya dijalan jika kamu panik seperti ini. Ayo kita susul mereka". Ujar Ayah.


Sesampainya di mall, Farhan langsung berlari masuk kedalam mencari istrinya. Berkali-kali ia telpon tak diangkatnya.


"Assalamu'alaikum, sayang kamu dimana? Dibagian mana? Oke, tunggu mas". Ujar Farhan mematikan telponnya.

__ADS_1


Dilihatnya sang istri tengah asik memilih parfum dengan sesekali mencium aromanya. Farhan mendekat dan memeluk Anisa. Tak dihiraukan tempat umum atau tidak. Yang terpenting saat ini ia panik dan khawatir dengan istrinya.


Bersambung....


__ADS_2