Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Revisi


__ADS_3

Selesai menjelaskan pada Bapak-bapak, ibu-ibu, dan kakak-kakak di ruang keluarga, Farhan kembali ke kamarnya. Takut jika sang istri membutuhkan bantuannya sesegera mungkin. Farhan telah bertekad akan memberitahukan kepada Anisa saat ini juga.


"Assalamu'alaikum," Sapa Farhan memasuki kamarnya.


"Wa'alaikumussalam," Jawab Anisa dengan senyumnya yang teduh.


Anisa sudah duduk bersandar di kepala tempat tidur. Farhan mendekati Anisa dan duduk di sebelahnya. Diliriknya bocah yang tadi tidur, kini masih tidur dengan memeluk kaki Anisa.


"Betah banget tuh bocil tidur," Ujar Farhan menoel hidungnya tapi tak terusik sama sekali.


"Hehehe, biarin ih Mas, kasihan," Jawab Anisa.


Farhan mengumpulkan keberaniannya untuk memulai topik pembicaraan.


"Kenapa Mas?" Sepertinya Anisa tahu Farhan tampak bimbang.


"Emm, begini... Dokter Hadi," Tiba-tiba Ujarannya terpotong.


"Kenapa? Adek sakit parah ya? Sakit dalam? Gimana? Harus gimana?" Tanya Anisa panik.


"Syuuth, gak ada yang salah sama kamu sayang... Dengerin dulu Mas ngomong," Ujar Farhan menenangkan Anisa. Anisa mengangguk patuh.

__ADS_1


"Sebelumnya Mas mau tanya, adek pernah mual, pusing, hilang selera makan gak sebelum kejadian hari ini?" Tanya Farhan.


"Emm, gak deh Mas... Kenapa? Adek kena corona?" Tanya Anisa semakin panik.


"Hey, ngomong apa sih? Ndak lah, gini... Dokter Hadi bilang... Jikaa... Jikaa Hilya akan dapat sepupu," Ujar Farhan dengan sedikit gugup. Kini tersenyum lebar karena telah menyampaikan maksudnya.


Tampak Anisa masih mencerna tiap ujaran suaminya. Ia masih belum ngeklik dengan ujaran suaminya.


"Sayaang, kamu hamil sayaang," Ujar Farhan akhirnya.


Anisa spontan menghadap pada Farhan. Tak peduli lagi pada bocah yang memeluk kakinya. Hilya meringkuk melanjutkan tidurnya.


"Mas gak bercanda kan?" Tanya Anisa dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan haru.


"Kurang lebih sudah 6 mingguan. Makanya perutnya buncit," Sambung Farhan.


Direntangkannya tangan Farhan dan dipekuknya Anisa yang sudah sesenggukan.


"Kok nangis? Gak bahagia apa?" Goda Farhan.


"Iiiihh, adek terharu, semua yang kita doakan dan ikhtiarkan membuahkan hasil Mas," Lirih Anisa.

__ADS_1


"Alhamdulillah, hahaha, Mas jadi ingat waktu dokter Hadi tertawa tadi. Bisa-bisanya salah satu dari kita gak ada yg tahu masalah ini. Eh! Tiba-tiba sudah 6 bulan," Ujar Farhan.


Anisa tiba-tiba duduk tegap. Dan turun dari ranjang dan membuka laci lemari. Farhan hanya melihat dengan heran. Tampak di genggamannya sebuah box kecil berwarna biru dan sebuah cup bening. Farhan yang penasaran pun mengikuti Anisa yang masuk ke kamar mandi.


"Mau ngapain?" Tanya Farhan.


"Mau mastiin Mas, adek mau cek pakai tespact." Jawab Anisa yang duduk di wc duduk sambil membuka box di tangannya.


"Kok adek punya tespek sih?" Tanya Farhan.


"Iya, Adek sering tes sendiri kalau lagi telat haid Mas... Setiap tes pasti negatif. Makanya, dua bulan gk halangan adek udah gak mau tes lagi. Takut mengecewakan," Jawab Anisa.


Farhan membantu Anisa menampung urinnya. Farhan juga membaca tata cara penggunaan benda itu. Walaupun Anisa sudah tahu, Farhan bersikeras ingin menggunakannya. Satu detik, dua detik, tiga detik..... Setelah sepuluh detik, stik itu di angkat Farhan dan di cocokkan dengan gambar pada brosur petunjuk pemakaian.


Farhan menunjukkan pada Anisa yang sudah bergaris



"Masak gak percaya sama dokter sendiri sih?" Goda Farhan yang kembali memeluk Anisa.


Ia sungguh sangat bahagia saat ini. Sungguh sangat bahagia. Tak mau diganggu-gugat. Ia akan menjadi Ayaaahhhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!!!

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2