Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Rencana Jitu


__ADS_3

Pagi ini Anisa tengah bersiap untuk melaksanakan misinya terhadap Aisyah. Pagi ini Anisa dan Faisal akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian yang pas untuk dikenakan Faisal saat pertemuannya dengan Aisyah.


TOK! TOK! TOK!


Anisa mengetuk pintu kakaknya.


"Yuk! Kakak sudah siap". Ujar Faisal ketika membuka pintu.


"Sabaar, sarapan dulu. Semangat banget sih". Ujar Anisa. Anisa berjalan menuruni tangga menuju ruang makan.


"Pagi Abi, Umi". Sapa Anisa dengan mencium pipi keduanya. Begitupun dengan Faisal.


"Kalian mau kemana? Kok sudah rapi? Anisa lagi liburkan kuliahnya?". Tanya Umi.


"Iyaa mi, Anisa lagi libur kok. Anisa mau jalan-jalan sama kak Ical. Iyaa kan kak?". Jawab Anisa.


"He'em. Tepat sekali". Sahut Faisal. Mereka menikmati sarapan dengan tenang.


"Kami pamit dulu Bi, Mi. Assalamu'alaikum". Pamit Faisal dengan menyalami Abi dan Umi. Di ikuti Anisa.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati yaa, jangan ngebut-ngebut Kak". Pesan Umi.


"Iyaa mi". Jawab Faisal.


Mereka berangkat menggunakan mobil Anisa dengan Faisal yang mengemudikan. Jalanan kali ini lumayan padat. Mungkin karena akhir pekan. Orang-orang banyak keluar untuk refreshing.


"Tempat dam dekorasi buat nanti malam, Kakak serahkan sama kamu dan Farhan". Ujar Faisal.


"Kok bawa-bawa Mas Faridz sih?". Tanya Anisa kaget.


"Iyaa, setelah kamu ngantar kakak beli baju, Kakak harus siapin mental. Nah, yang bantuin kamu Farhan. Kakak udah ngomong sama dia". Jawab Faisal.


"Aneh banget. Yang punya acara malah gak berkontribusi sama sekali". Ujar Anisa.


"Gak papa laah. Anggap saja PDKT. Semoga saja habis kakak sukses meminang Aisyah, kamu dipinang sama Farhan deh". Jawab Faisal dengan tawanya.


"Ngacok. Aku sama Mas Faridz gak ada apapun kok". Ujar Anisa.


"Kamu gak ngerasa? Farhan tu perhatian lho sama kamu". Ujar Faisal.


"Dia itu memang baik kak. Mungkin karena kebaikan Dia kakak ngiranya perhatian". Jawab Anisa.


"Kamu yakin? Farhan laki-laki sholeh lho". Sambung Faisal.


"Kita lihat saja kedepannya. Aku sekarang masih bingung". Ujar Anisa.


"Kamu gak tertarik sama Farhan?". Tanya Faisal lagi.


Anisa diam membisu. Bingung hendak menjawab apa.


"Waaaah. Gak normal kamu dek. Cowok sebaik dan setampan Farhan gak tertarik". Sambung Faisal.


"Apaan sih kak? Kok malah bahas Mas Faridz sih". Keluh Anisa.


"Kakak tahu kok kalau Ibil sudah minta izin sama kamu untuk meminang". Ujar Faisal.


"Kok tahu?". Tanya Anisa.


"Dia cerita sama kakak". Jawab Faisal.


"Bukan cuma Cak Ibil. Salah satu dosen di kampus juga. Ditambah rencana perjodohan Abi. Ya Allaaah, aku gak siap dihadapkan dengan situasi ini". Anisa tampak frustasi.


"Sabaar. Ingat! Allah tidak akan menguji hambanya melebihi dari kesanggupannya. Kalau Allah sudah ngasih kamu tiga pilihan, berarti Allah percaya kamu bisa menentukan yang terbaik buat diri kamu sendiri". Nasehat Faisal


"Astaghfirullaaah, ampuni hambamu ini ya Allaah". Ujar Anisa.


"Waaaah. Ternyata adik kakak laris juga ya". Canda Faisal.


"Emangnya barang apa. Laris-laris". Jawab Anisa.


"Udah sampai nih. Yuk langsung ke tokonya". Ujar Faisal.


Faisal menggandeng Anisa menuju tempat yang akan mereka datangi. Sesampainya di tempat, Anisa tengah fokus memilih, memilah, mempertimbangkan, outfit yang cocok untuk sang kakak.


Faisal sampai bosan menunggu Anisa memilih. Mulai dari baju, celana, sampai sepatu.


"Coba ini deh kak". Ujar Anisa memberikan seonggok setelan kepada Faisal.


"Sebanyak ini?". Tanya Faisal.


"Udaah, coba aja. Aku tunggu". Jawab Anisa.


Beberapa kali Faisal mengganti pakaiannya. Sepertinya Anisa sengaja mengerjainya.

__ADS_1


"Nah! Pas! Cocok! Yang ini ajah". Ujar Anisa.



Faisal mengganti bajunya dan membayarnya.


"Ayo, kamu sudah janjian sama Aisyah kan? Kakak antar". Ujar Faisal.


Mereka beranjak dari pusat perbelanjaan beralih ke sebuah rumah makan modern atau cafe di kota Jombang.


"Kakak tinggal yaa, nanti kakak jemput lagi". Ujar Faisal.


"Jemput beneran lho".


"Iyaa". Faisal meninggalkan Anisa.


Anisa melangkah kedalam cafe. Ia mencari keberadaan Aisyah yang katanya sudah berada di tempat. Ia edarkan matanya keseluruh penjuru cafe.


"Assalamu'alaikum adikku". Ujar Aisyah dari belakang Anisa.


"Mbak Aisyah, wa'alaikumussalam". Jawab Anisa. Mereka berpelukan, karena memang sudah sangat lama tak bertemu. Yaaa, meskipun masih lancar komunikasi lewat telepon.


"Sudah lama nunggu Anisa?". Tanya Anisa.


"Belum kok. Barusan. Yuk kita duduk". Jawab Aisyah.


Mereka sangat asik bercerita. Menceritakan kembali bagaimana kedekatan mereka dahulu. Hingga terpisah saat Aisyah lulus dan Anisa melanjutkan jenjang kuliahnya.


"Nanti malam Mbak Aisy bisa makan malan bareng tidak?". Tanya Anisa.


"Emmm, nanti malam yaaa... Kamu beruntung. Mbak bisa kok". Jawab Aisyah.


"Alhamdulillah, nanti jam setengah tujuh kita ketemu di cafe ini ya". Ujar Anisa.


"Siap". Jawab Aisyah.


"Sudah zuhur nih, kita sholat yuk". Ajak Aisyah.


Anisa mengiyakan. Mereka pergi ke masjid terdekat dan melaksanakan sholat zuhur. Selepas sholat zuhur Aisyah pamit undur diri.


Mereka berpisah di masjid.


Anisa kembali ke cafe tempat ia bertemu dengan Aisyah. Didepan cafe ia melihat Farhan tengah tersenyum kepadanya.


"Pasti Kak Ical yang nyuruh Mas kesini". Ujar Anisa.


"Aammiiin". Sambung Anisa.


Mereka memasuki cafe. Hal awal yang mereka lakukan adalah memboking area rooftop cafe. Selepas itu Anisa dan Farhan mulai menghias tempat itu dibantu dengan beberapa pelayan.


"Alhamdulillah, kelar juga akhirnya". Ujar Anisa.


"Kita pulang dulu aja, kamu bawa mobil sendiri aa?". Tanya Farhan.


"Tadi sih mau dijemput Kak Ical, bentar ya mas Anisa telpon dulu". Jawab Anisa. Ia mencoba menghubungi Faisal, tapi sialnya tak dijawab sama sekali.


"Pasti sengaja tuh orang". Batin Anisa.


"Ayo, saya antar, sudaah, ayoo. Tidak usah sungkan"Ujar Farhan ketika melihat Anisa bimbang.


Akhirnya mereka pulang bersama. Rencananya mereka berdua sebelum maghrib akan ke cafe itu lagi. Untuk memastikan semua berjalan lancar.


"Nanti kamu saya jemput ya, pasti Ical nanti sibuk mempersiapkan diri. Gak mungkin kan mau ngajak Ical duluan". Ujar Farhan.


"Aku pakai mobil sendiri aja mas". Jawab Anisa.


"Gak mungkin diizinin sama Abi deh". Ujar Farhan.


"Bener juga yaa, ya udahlah. Bareng mas aja". Jawab Anisa. Farhan tersenyum puas.


"Alhamdulillah, sampai juga. Saya langsung pulang Nis. Assalamu'alaikum". Ujar Farhan.


"Iyaa mas. Hati-hati. Wa'alaikumussalam". Jawab Anisa.


Anisa masuk rumah dan langsung menuju kamar Faisal. Tanpa mengetok pintu. Ia langsung masuk dan mendapati Faisal tengah senyum-senyum di balkon kamarnya.


"Kaaan! Bener! Kak Ical sengaja gak jawab telponku". Serkah Anisa.


"Tapi enakkan. Pulang diantar sama pangeran tampan dan sholeh". Jawab Faisal.


"Hish!". Anisa meninggalkan Faisal. Sedangkan Faisal terkekeh. Senang sekali ia menggoda adiknya.


*Malam Hari

__ADS_1


Sesuai kesepakatan. Anisa dan Farhan berangkat bersama. Tentunya setelah mendapat izin dari Abi.


Mereka berdua memastikan seluruh perlengkapan yang dibutuhkan sesuai. Anisa dan Farhan kini berada di sebuah bangku makan. Sedikit tersembunyi. Tentunya untuk mengawasi gerak-gerik dua sejoli nantinya.


Faisal sudah bersiap di posisinya. Ia ngumpet di sebuah tiang yang cukup untuk menutupi dirinya.


Akhirnya yang ditunggu datang juga. Aisyah diantar oleh salah satu pelayan. Terlihat raut kebingungan diwajahnya.


"Apa ini? Gak mungkin kan, Anisa ngajak diner kek gini". Gumam Aisyah.



"Assalamu'alaikum". Sapa Faisal muncul dari samping Aisyah.


"Wwa.wa. wa'alaikumussalam. Pak Faisal?". Jawab Aisyah gugup beserta bingung + kaget.


Faisal tersenyum. "Silahkan duduk". Faisal mempersilahkan.


"Tidak usah takut. Saya tidak akan mencelakakan kamu". Sambung Faisal.


Awalnya Aisyah ragu. Tapi ia mengikuti Faisal.


"Mohon maaf pak. Ini apa ya maksudnya?". Tanya Aisyah.


"Sebaiknya kita makan dulu ya, nanti saya jelaskan". Ujar Faisal. Aisyah menurut. Mereka berdua makan dengan saling berdiam, canggung, gugup, menjadi satu. Setelah selesai,


"Aisyah, boleh kita berbicara sebentar dipinggir balkon itu?". Tanya Faisal.


"Silahkan pak". Jawab Aisyah. Mereka berdiri bersebelahan.


Faisal menghadap Aisyah. Aisyah yang ditatap pun merasa gugup sekaligus takut. Aisyah sama sekali tak pernah berbincang-bincang dengan atasannya itu. Kenapa sekarang ia malah makan malam berdua.


"Bismillahirahmanirrahim. Saya, Faisal Al-Ghifari. Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada anda Aisyah Khoirunnada, mungkin saya lancang, jika selama ini diam-diam telah mencari tahu latar belakang anda. Sejak saya bertemu anda untuk pertama kalinya di ruang miting. Saya tak tahu. Kenapa diri ini begitu penasaran dengan kehidupan anda. Semakin saya tahu... Hati ini begitu mendambakan anda". Ujar Faisal.


Aisyah terharu mendengarkannya. Bagaimana bisa? Orang sepertinya yang hidup pas-pasan, sederhana, didambakan oleh seorang CEO yang luar biasa.


"Bagaimana bisa?". Lirih Aisyah.


"Saya tidak tahu, sejak kapan perasaan ini ada. Mungkin ini terlalu mendadak untuk kamu. Tapi, saya sudah memantapkan tekad saya. Sayaa,...". Faisal berhenti sejenak.


"Saya! Faisal Al-Ghifari ingin mengkhitbah Anda. Aisyah Khoirunnada". Sambungnya.


Aisyah berkaca-kaca. Bagai dihantam bom nuklir. Ia tak sanggup membendung air matanya.


"Apa ini nyata?". Lirihnya lagi.


"Saya sangat bersungguh-sungguh". Ujar Faisal.


Disisi lain,


"Diterima gak ya mas?". Tanya Anisa pada Farhan.


"Semoga diterima". Jawab Farhan.


Mereka kini tengah mengintip dibalik tembok. Mereka sangat penasaran kata-kata apa yang diucapkan Faisal.


"Aku gak nyangka. Kak Ical bisa seromantis itu". Ujar Anisa.


"Kamu kenapa nangis Nisa?". Tanya Farhan ketika melihat Anisa berkaca-kaca.


"Terharu aku mas. Kak Ical bisa seperti itu". Jawab Anisa.


"Sayaa, Aisyah Khoirunnada. Menerima khitbah anda. Akan tetapi, saya minta anda untuk datang menemui orang tua saya terlebih dahulu". Jawab Aisyah akhirnya.


"Alhamdulillah Ya Allaaah". Ucap Faisal, Farhan, dan Anisa bersamaan.


Aisyah yang mendengar suara selain Faisal pun celingukan. Anisa dan Farhan keluar dari persembunyiannya. Anisa memeluk Aisyah.


"Terima kasih mbak Aisy. Sudah menerima Kak Ical. Terima kasih sudah mau menjadi mbak iparku". Ujar Anisa. Aisyah melepaskan pelukannya.


"Mbak ipar? Jadiii?". Jawab Aisyah tergantung. Anisa mengangguk. Ia merangkul kakaknya.


"Dia kakak Anisa". Ujar Anisa dengan cengir kudanya.


"Yang mempersiapkan ini semua Anisa dan Farhan, doakan mereka jadi pasangan juga". Sambar Faisal.


"Kak Icaaaal. Gak usah ngadi-ngadi". Ujar Anisa. Sedangkan Farhan tengah salah tingkah mendengar pernyataan temannya itu.


Mereka melanjutkan acara makan malam. Sebab Anisa merengek ingin makan malam bersama. Setelah makan malam selesai, Faisal mengantarkan Aisyah pulang kerumah. Begitupun dengan Farhan yang mengantarkan Anisa.


***Bersambung.....


Kalian pada penasaran gak sih sama case nya Mbak Aisyah? 🙈

__ADS_1


Untuk cover masih belum ada penanganan dari pihak terkait. Jadi sabar ya. Lhu-Lhu coba ganti dengan cover yang awal tapi ternyata tidak bisa. :"(


Jangan lupa sempatkan like + komen + vote + bintang limanya yaaaa 😘😘😘😘***


__ADS_2