
Menjelang maghrib Anisa masih tak ingin pulang. Ia ingin melihat senja katanya. Padahal medan yang dilalui untuk kembali ke rumah Mbah Kakung bukanlah medan yang mudah.Mereka harus berjalan terlebih dahulu hingga sampai di parkiran yang sesungguhnya.
.
.
Dengan lapang dada Farhan menggendong Anisa kembali. Hanya bermodalkan senter gawai dan sebuah ublik (penerang dari minyak tanah). Sudah seperti ajang uji nyali.
Belum sampai rumah Anisa sudah tertidur digendongan Farhan.Untung saja mereka pulang setelah sholat isya'. Farhan tak perlu mengganggu tidur sang istri.
"Lho! Ini tidur apa pingsan?" Teriak Mbah Uti menghampiri Farhan yang membopong Anisa. Tidak hanya Mbah Uti, seluruh manusia juga ikut menghampiri setelah mendengar teriakan Mbah Uti.
"Tidur Mbah, kecapaian," Ujar Farhan.
Mbah Uti menunjukkan kamar cucunya itu. Sampai di rumah Mbah Kakung, Anisa dan Farhan langsung menuju pantai. Jadinya tak sempat ke kamar dulu. Farhan semakin diuji dengan tangga-tangga dan lokasi kamar mereka yang berada di lantai dua.
"Udah makan malam belum Le?" Tanya Mba Uti yang ikut ke kamar.
"Udah kok Mbah, tadi sebelum pulang sekalian Makan sama Bude," Jawab Farhan dengan senyuman khasnya.
"Capek ya? Tadi, katanya kamu gendong Anisa terus... Mau Mbah pesenin tukang pijat?" Tanya Mba Uti lagi.
__ADS_1
"Ndak usah Mbah, Anisa gak seberat yang Mbah Uti bayangkan... Gak kerasa gendong anak ini, hahaha," Canda Farhan.
Mbah Uti yakin pasti Farhan capek. Hanya saja cucu iparnya itu tengah menutupinya. Mbah Uti menyuruh Farhan untuk membelakanginya. Mulailah beliau memijat pundak Farhan. Farhan berusaha menolak, tapi itu semua percuma setelah Mbah Kakung datang dan memaksa Farhan untuk menurut.
"Ya sudah, kamu istirahat sekarang," Ujar Mbah Uti di akhir pijatannya.
"Terima kasih Mbah," Ujar Farhan.
Anggukan serta senyuman menjadi jawaban beliau. Tepukan di pundak Farhan dari Mbah Kakung tak tertinggal. Barulah mereka keluar dan menutup pintu.
Farhan membersihkan tubuhnya sebelum tidur, tak lupa ia mengganti baju Anisa supaya lebih nyaman tidurnya.
.
.
.
Sesekali ia mengusap tangan Farhan yang melingkar di perutnya. Ia sempat bingung awalnya, bingung + kasihan setelah menyadari pengorbanan sang suami kemarin hari.
Farhan mengerjapkan matanya dan semakin mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Capek ya? Maafin Adek ya?" Lirih Anisa dengan mengelus pipi Farhan.
"Syuut, Mas gak capek... Cuma masih ngantuk aja," Jawab Farhan dengan suara khas bangun tidur.
"Ayo sholat, nanti Adek pijitin habis sholat," Ujar Anisa.
Farhan masih tak bergeming. Hingga menghabiskan waktu sholat malam mereka. Hingga ketika azan subuh barulah Farhan melepaskan pelukannya. Tak lupa dengan cengirannya.
"Maaf, kirain masih lama waktu sholat tahajud-nya," Ujar Farhan.
"Iyaa gak papa... Ayo sholat subuh," Ajak Anisa yang beranjak ke kamar mandi diikuti Farhan.
Anisa menepati janjinya yang akan memijit Farhan. Sampai Farhan tertidur kembali.
.
.
Pagi-pagi ini Farhan tampak membantu Mbah Kakung mencangkul di kebunnya. Sepertinya akan ditanami sayuran. Di tempat sejuk seperti ini seolah tak membuat para pekerja lelah. Suasana yang sangat asri. Tak ada jalan raya ramai seperti di kota. Cocok untuk menenangkan diri dan pikiran.
Sementara itu, Anisa dan Mbah Uti sedang menyiapkan sarapan yang akan dibawa ke kebun. Tak hanya memasak, Mbah Uti dengan semangatnya menceritakan kejadian semalam dengan cucunya itu.
__ADS_1
Bersambung...