Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Belanja Bulanan


__ADS_3

Acara makan-makan pun selesai. Anisa dan Husna membereskan meja makan.


“Anisa sayang?”. Panggil Bunda. Bunda menghampiri Anisa yang baru saja selesai mencuci piring.


“Iya Bun?”. Jawab Anisa.


“Bunda boleh minta tolong?”. Tanya Bunda.


“Insyaallah Bun, ada apa?”. Tanya Anisa.


“Kamu bantuin Bunda belanja bulanan ya?”. Pinta Bunda.


“Boleh Bun, apa aja yang perlu Anisa beli?”. Tanya Anisa.


“Catatan bumbu dapurnya ini, nanti sayur-sayur sama lauk pauknya kamu yang milih ya”. Jawab Bunda.


“Anisa gak tau biasanya Bunda beli apa”. Tutur Anisa.


“Kamu tanya Farhan aja nanti”. Jawab Bunda.


“Farhan, kamu antar Anisa belanja yaa, Bunda sama Ayah mau pergi sebentar”. Pinta Bunda pada Farhan.


“Husna ikut?”. Pinta Husna.


“Gak, Husna ikut Bunda sama Ayah. Oke!”. Jawab Bunda.


“Kok dadakan sih ma?”. Tanya Ayah.


“Syuuutt, udah deh yah, Bunda mau pergi sama Ayah sama Husna.”. Ujar Bunda.


“Iya-iya, ayuuk”. Jawab Ayah.


“Anisa sudah siap?”. Tanya Bunda.


“Sudah Bun”. Jawab Anisa.


“Ayo Han, berangkat. Nanti keburu sore lho”. Perintah Bunda.


Farhan pun berjalan keluar mansion dan mengambil mobilnya. “Anisa? Kamu gak papa kan?”. Tanya Bunda.


“Gak papa kok Bun, Anisa berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum”. Pamit Anisa dan menyalami Ayah Bunda. Anisa masuk mobil Farhan. Merekapun meninggalkan mansion.


“Bunda mau kemana?”. Tanya Ayah.


“Kita kerumah Uminya Anisa”. Jawab Bunda.


“Oalaaah, jadi ini rencananya Bunda to?”. Tanya Husna.


“Huss, jangan bilang kakak kamu”. Jawab Bunda.


“Ayo dah berangkat, Ayah juga ada perlu sama Abinya Anisa.”. Ajak Ayah.


“Kita kempesin mobilnya Anisa”. Ujar Bunda.


“Kenapa?”. Tanya Ayah.


“Ya biar Anisa dianterin sama Farhan lah. His Ayah ini, pantas saja dari dulu diajarin romantis gak peka-peka. Sekarang nurun ke Farhan kan”. Omel Bunda.


“Ayah romantis Bun”. Bela Ayah.


“Udah deh Yah, Bun, ayo berangkat”. Lerai Husna.


“Emangnya gak papa kalau kita gak izin dulu?”. Tanya Ayah sebelum benar-benar mengempesi ban mobil Husna.


“Mana ada sih Yah, orang mau menjalankan misi harus izin dulu?”. Ujar Bunda.


“Yaudah deh, aneh-aneh aja. Udah tua masih aja jalanin misi kek gini”. Ujar Ayah sambil membuka penutup ban.


“Nah, udah... Yuk kita pergi sekarang. Oh iya, Pak keamana. Nanti kalau Anisa atau Farhan tanya perihal ban mobil ini bilang aja gak tau gitu yaa”. Perintah Bunda.


“Siap Buk! Beres itu mah”. Jawab pak Keamanan. Ayah, Bunda, dan Husna pun melaju kerumah Anisa.


*Pusat Perbelanjaan.


Anisa dan Farhan telah sampai di pintu masuk Mall terlengkap di daerahnya.


“Saya ikut ke dalam gak?”. Tanya Farhan.


“Ya ikutlah mas, kan aku gak tau kebutuhan tambahannya apa aja”. Jawab Anisa.


“Ya udah, kamu tunggu saya di lantai satu. Saya mau markirin mobil dulu”. Ujar Farhan.


“Oke! Jangan lama-lama ya?”. Pinta Anisa.


“Iya, gak bisa jauh dari saya kamu ya? wkwkwk”. Ujar Farhan dengan tawa renyahnya.

__ADS_1


“Kalau iya?”. Balas Anisa dengan kedipan manjanya. Farhan yang mendengar itu diam mematung.


Beberapa saat kemudian, “Hahahahaha,mukanya mas kenapa merah? Hahaha, aku bercanda mass. Astaghfirullah, perutku sakit. hahaha”. Tawa Anisa pecah.


Farhan mendekat pada Anisa, tapi masih ada jarak. meskipun begitu Anisa tetap saja tegang. Sebab ia tak pernah sedekat ini. “Jangan pernah mengedipkan mata dengan senyum kamu itu pada orang lain”. Ucap Farhan. Iapun segera menjauhi Anisa. Jantung Farhan tak bisa dikontrol ternyata.


“Sudah sana, saya mau markirkan mobil”. Ucap Farhan.


“I.Iiyaa, Anisa ke.keluar dulu”. Ujar Anisa gagu dan langsung keluar dari mobil.


“Hahaha, emang enak aku balas”. Monolog Farhan dan langsung menuju parkiran.


*Farhan Prov


Mana sih Anisa? Dari tadi dicariin gak ketemu-ketemu. Jangan-jangan aku ditinggal lagi. apa aku keatas duluan ya, barang kali dia disana.


“Mas? Lama banget sih. Kok baru nongol”. Panggil Anisa.


“Saya nyariin kamu dari tadi. Dari mana kamu?”. Tanyaku.


“Tuh, lagi lihatin jilbab”. Tunjuk Anisa disalah satu toko jilbab.


“Pantas saja dari tadi saya muter-muter lantai satu gak nemuin kamu. Ya udah ayo ke atas”. Ajak ku.


Aku berjalan dahulu dan Anisa menyamakan langkahku. “Maaf ya mas”. Ucap Anisa.


“Buat?”. Tanyaku.


“Pasti mas capek nyariin aku”. Jawab Anisa.


“Gak juga. Anggap aja saya lagi olah raga tadi”. Ujarku. Aku gak capek. Hanya saja aku khawatir.


Sesampainya ditempat kebutuhan pokok, aku mengambil satu troli untuk tempat belanjaan. Sedangkan Anisa masih tetap berjalan disisiku. Sesekali ia mengambil belanjaan sesuai catatan dari Bunda dan dimasukkan didalam troli. Oh! Kami bagaikan pengantin baru yang tengah berbenja kebutuhan bulanan. “Mas? Kok berhenti”. Panggil Anisa.


“Eh iya, maaf”. Jawabku. Bisa-bisanya aku bengong sih.


Ku lihat Anisa tengah bersusah payah mengambil barang yang ada diatas. Kubiarkan saja. Hahaha, lucu sekali melihat mukanya yang cute itu. Dia menoleh kepadaku.


“Kenapa?”. Tanyaku.


“Gak punya simpati dikit aja gitu apa! Gak kasihan lihat cewek kesusahan ngambil barang?”. Ujarnya ketus.


“Kalau butuh bantuan tu ngomong. Akukan mau lihat perjuangan kamu ngambil barang itu tadi”. Jawabku dan melangkah maju untuk mengambil barang yang hendak diambil Anisa tadi.


“Dasar gak peka!”. Gerutunya dan berlalu meninggalkanku. Ntah kenapa tiap melihat dia ngambek aku begitu senang. Malah ingin menjahilinya.


Dugh!


“Allahu!”. Kagetku.


“Aduuh”. Aku menabrakkan troli ke tiang pembatas. Kaan, gara-gara gak fokus jalan.


“Mass? Gak papa? Kok bisa sih?”. Tanya Anisa.


“Gak papa”. Jawabku dan mencoba biasa saja. Malu aku tuh...


“Beneran?”. Tanya Anisa. Aku hanya mengangguk.


“Aku gantikan ya? Kyaknya mas capek deh”. Ujar Anisa dan hendak mengambil troli.


“Gak usah, aku tadi Cuma gak fokus kok”. Ujarku menolak.


“Ayo kila lanjutkan lagi”. ajakku. Anisa mengikutiku.


“Yang di catatan udah semua mas, untuk sayur biasanya apa ajah?”. Tanya Anisa.


“Emm, apa yaa? Satu keluarga sih gak milih-milih kalau makan”. Jawabku.


“Kalau gituu... aku yang pilih aja yaa”. Saran Anisa.


“Siap boss!”. Ujarku.


“hahaha”. Anisa tertawa, iapun dengan lihai memilih sayuran untuk dimasukkan kedalam troli.


Setelah beberapa waktu,


“Udah yaa, sayurannya gak usah banyak-banyak”. Ujar Anisa.


"Iya, udah aja... Biasanya Mbok Yem juga beli di tukang sayur kok". Ujarku.


"Okee deh! Ke kasir sekarang". Ucap Anisa. Aku mengikutinya.


"Mas ini biasanya sama ibunya. Udah punya gandengan ternyata ya? Duh, patah hati karyawan disini". Celetuk mbak kasir sambil mengambil troliku agar lebih dekat dengannya. Akupun hanya tersenyum.


"Mas sering nganterin Bunda belanja ya?". Tanya Anisa. Aku pun mengangguk.

__ADS_1


"Mas sama mbaknya pengantin baru yaa? Kelihatan lho aura-auranya". Ucap mbak kasir sambil menghitung.


"Siapa mbak yang pengantin baru?"Tanya Anisa.


"Mbaknya to". Jawab mbak kasir lagi.


"Beliau ini kakak saya mbak, bukan suami saya". Ujar Anisa.


"Masak sih? Kok gak mirip? Tapi cocok kalau jadi pasangan. Wkwkwk". Jawab mbak kasir.


"Iya mbak, dia adik saya. Tapi bentar lagi jadi pendamping saya". Candaku.


"Gak usah nyebar gosip deh". Jawab Anisa.


"Berapa semuanya mbak?". Tanya Anisa.


"Semuanya Rp.437.000,00 mbak". Jawab mbak kasir.


"Ini mbak". Ujarku dengan memberikan kartu pembayaran.


"Nanti tolong antarkan ke mobil ya mbak". Sambungku.


"Siap mas! Ini kartunya". Jawab mbak kasir.


"Terima kasih mbak". Ujar Anisa. Kamipun keluar dari pusat perbelanjaan bahan pokok.


"Mau kemana lagi? Makan? Kita ke food cart". Ajakku.


"Kita kan sudah makan tadi. Pulang aja yuuk". Ajak Anisa.


"Oke deh!". Kami berjalan beriringan. Ketika melewati eskalator pun juga.


"Mas, aku mau lihat lipstik itu dulu yaa". Pinta Anisa. Aku mengangguk.


"Ada yang bisa dibantu kak?". sapa penjaga lipstik itu. Aku pun tak tau namanya apa.


"Emm, ada liptint mustika ratu ndak yaa?". Tanya Anisa.


"Ada kak, silahkan dilihat". Ujar mbak-mbak itu dengan memberikan tiga jenis liptint yang sama pada Anisa.


"Mas Faridz bosan ya?". Tanya Anisa dengan memegang liptint.


"Lumayan,". Jawabku.


"Emangnya kamu pakai itu?". Tanyaku. Sebab ku perhatikan bibir Anisa sudah merah merekah.


"Iyaa, biar gak pucet". Jawab Anisa.


"Emmm, saya ambil yang ini mbak". Ujar Anisa.


"Ambil ketiganya mbak". Potongku.


"Eh! Buat apa?". Tanya Anisa.


"Udah, diem. Ini mbak kartunya". Ujarku. Setelah selesai kami menuju parkiran dengan menggunakan lift.


"Makasih ya mas". Ujar Anisa.


"Iya, tapi jangan menor-menor kalau makai". Ujarku.


"Mana lah aku menor. Aku gk pernah berlebihan kelees". Ujar Anisa.


"Iya-iyaa, yuk masuk mobil". Pintaku. Anisa menurut.


Bersambung....


Aku ingetin ya reek,


Farhan / Faridz itu satu orang yaa...


Anisa / Neng/ Eneng/ Ica juga satu orang...


Faisal itu kakaknya Anisa...


Faiz itu adiknya Anisa...


Husna itu adiknya Farhan...


Kalau kalian nemuin namanya ada yang kebalik/ketuker, kasih tau aku yaak...


Contonya: "Part sekian ada yang kebalik namanya lhuu"


Begituu.... Okeeee!!!!


Terima Kasih Semuanyaaaaa

__ADS_1


Love you so much 💞💞💞


__ADS_2