Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Gumuusssh


__ADS_3

Anisa Prov


Sepi sekali rasanya rumah ini. Padahal hanya berkurang 1 orang. Faiz kemarin hari telah berangkat ke Pesantren. Padahal kemarin Faiz telah merengek pada Abi untuk menunda keberangkatannya. Bukan Abi namanya kalau mengizinkan hal sepele seperti itu. Hahaha. Kasihan sekali Faiz.


Pagi ini aku telah siap dengan setelan yang sedikit lebih wau. Kataku sih, hak tau kata yang lain. Hahaha, dasar aku ini.


"Mi, Anisa berangkat ke kampus dulu ya. Assalamu'alaikum". Pamitku.


"Iyaa, Hati-hati. Wa'alaikumussalam". Jawab Umi. Setelah bersalaman, kucium pipi kanan kirinya seperti biasa.


Abi kemana yaa? Emmm, biasanya kalau pagi begini tidak di rumah, pasti sedang jalan-jalan disekitar komplek atau kalau tidak, sedang mengobrol dengan Mang Darma dan Pak Uyut.


"Lho mang, kok mobilnya belum dipanasin?". Tanyaku pada Mang Darma. Tadi aku sempat meminta tolong pada beliau untuk memanaskan mobilku.


"Sama Bapak katanya ndak usah neng. Makanya saya gak jadi manasin". Jawab Mang Darma.


"Anisa?". Panggil Abi.


Oh My To The Good. Mas Faridz disini? Ngapain? Oh oh oh. Pasti kerjaannya Abi ini. Ku pasang wajah sok sok bodoh + bingung + kaget ketika melihat Mas Faridz. Hahahaha.


"Kok Mas Faridz disini?". Tanyaku.


"Ya mau jemput calon istrinya lah. Mau ngapain lagi? Ngapelin Abi?". Bukannya Mas Faridz yang jawab, malah Abi.


"Sudah sana berangkat. Katanya ada work shop". Sambung Abi.


"Iya-iya Abi, kami berangkat. Assalamu'alaikum". Ujarku. Ku salami Abi dan kulakukan seperti yang kulakukan pada Umi tadi, diikuti mas Faridz.


"Wa'alaikumussalam". Jawab Abi.


"Silahkan". Ujar Mas Faridz membukakan pintu mobil.


Duuuhh, manisnya. Jujur, ini kali pertama aku diperlakukan seperti ini. Maklumlah, dari lahir jomblo aku ini.


"Ciieee". Kak Ical kenapa sih sering banget jadi jelangkung. Tak ku gubris, aku langsung masuk kedalam mobil.


"Heh! Farhan. Aku ini calon kakak mu. Hormat dong". Goda Kak Ical pada Mas Faridz.


"Saya permisi suhuu. Assalamu'alaikum". Jawab Mas Faridz dengan membungkukkan setengah tubuhnya.


Demi Apa! Aku hampir ngakak didalam mobil. Untung saja kacanya gelap. Kan harus jaga image. Hahaha.


Farhan Prov


Tak ada percakapan sama sekali selama diperjalanan. Kami berdua saling bungkam satu sama lain. Ketika kucuri pandang padanya pasti selalu kepergok. Alhasil hanya saling balas senyum saja.


Ya Allaaah, aku bingung mau membuka percakapan. Hal apa yang akan ku bahas. Aha! Aku ingat. Aku bahas tentang....


"Anisa?". Panggilku.


"Iya mas?".


"Emmm, 2 minggu lagi kan mahasiswa usai liburan. Nah, rencana ziarah itu sekitar satu bulan lagi. Kamu jadi mau ikut?". Tanyaku.


"Emmm, jadi gak yaa... Pengen sih, tapi Anisa izin Abi dulu yaa". Jawabnya.

__ADS_1


"Nanti biar saya yang izin Abi. Kamu saya rekomendasikan sebagai panitia yaa?". Tawarku


"Bukan ide yang buruk. Pasti kalau jadi panitia, lebih mudah izin sama Abi". Jawabnya. Kubalas dengan senyuman.


Tanpa jadi panitia pun Abi pasti akan mengizinkannya. Tapi, kalau jadi panitia Anisa nantinya pasti duduk di kursi penumpang depan. Jadi bisa lebih dekat. Astaghfirullah, kenapa aku mikirnya terlalu jauuh!


"Alhamdulillah, sampai juga kita". Ujar ku.


"Mas, aku gak mau kalau orang kampus tahu tentang kita". Ujarnya.


"Kenapa? Kamu gak malu jadi calon istri saya?". Tanyaku spontan.


"Eh! Tunggu duluuu! Jangan salah paham.... Dengerin aku dulu maaas". Jawabnya panik dengan sedikit menarik lengan bajuku. Duuuh, manisnya kamu Anisaaa. Aku mengangguk padanya.


"Aku gak mau dipandang aneh sama mereka-mereka. Pasti nanti bakalan trending topik. Aku belum siap. Apalagi mas ini orang terpandang di kampus". Ujarnya lirih.


"Huufft, baiklah.Saya mengerti. Ayo kita turun". Jawabku.


Ku bukakan pintu mobil Anisa. Kami berjalan beriringan menuju ruang seminar. Kulihat Anisa tak nyaman sejak tadi diperhatikan oleh orang-orang yang ada di sekitar kami.


"Jangan kamu perhatikan mereka". Ujarku lirih pada Anisa ketika hendak masuk lift.


"Maas, jangan terlalu dekaaat". Ujarnya. Aku pun menjauh dengan spontan.


"Maaf". Ucapku.


Didalam lift tak ada percakapan sama sekali. Sesampainya di ruangan, kami berpisah mengurus keperluan masing-masing. Aku kini bertindak sebagai rektor, dan Anisa sebagai moderator workshop.


Sial! Kenapa narasumbernya laki-laki. Salah ternyata jika kemarin aku menyerahkan keputusan tentang narasumber kepada Mbak Sania ketua Panitia.


"Eh! Tidak apa-apa pak". Jawabku kaget.


Ternyata aku mengepalkan tanganku tak sadar. Pantas saja Pak Soni terlihat heran.


Lhu-lhu Prov


Setelah acara selesai Farhan menunggu Anisa di depan ruangan yang cukup sepi. Agar tak ada yang mengetahui.


"Kok chatnya mendadak sih? Kan aku udah mau turun tadi". Ujar Anisa setelah datang.


"Ada apa?". Tanya nya lagi.


"Gak papa sih". Jawab Farhan Gaje.


"Yang bener maas..". Rengek Anisa.


"Saya cuma pengen ketemu kamu". Jawab Farhan. Anisa yang mendengar itu tersipu malu. Hingga merah pipinya.


"Hallah! Baru diterima aja udah gombal". Sahut Anisa.


"Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah kamu berikan pada saya Anisa". Ujar Farhan.


"Kok tiba-tiba jadi serius gini sih? Duuuh hawanya kok panas yaa". Gumam Anisa tapi masih bisa didengar Farhan dengan mengibaskan tangannya ke wajah.


"Ah! Sudahlah. Kamu mah, diajak ngomong serius malah kek gitu. Kan saya gak fokus jadinya". Ujar Farhan. Tawa Anisapun pecah seketika.

__ADS_1


"Sudah-sudah. Gak ada yang lucu. Emmm, mau saya foto disini?". Tanya Farhan.


"Kenapa?". Tanya Anisa heran.


"View nya bagus". Jawab Farhan.


"Boleh deh, hehehe". Anisa mulai berpose.




"Sudah. Yuk ke ruangan saya". Ajak Farhan.


"Ogah. Belum halal aja udah ngajak berduaan". Jawab Anisa.


"Astaghfirullah, jadi orang itu jangan su'udzon. Di ruangan saya ada Bunda. Bunda nyuruh saya ajak kamu". Jawab Farhan.


"Aduuuuh.... Topeng mana topeng? Mau kali lah aku ini". Batin Anisa. Bahkan mukanya kini sudah merah.


"Hahaha, sudah. Saya tidak akan membocorkan sifat kepedean kamu sama orang lain". Ujar Farhan. Farhan melangkah menuju lift. Akhirnya Anisa mengikutinya.


Didalam lift tak begitu banyak orang. Mungkin karena yang didalam sini adalah pak rektor, maka yang lainpun mengalah karena hormat.


Kini posisi Anisa dan Farhan beriringan berada disisi depan pintu lift. Tepatnya di belakang orang-orang yang lain.


"Fotonya mana mas tadi?". Tanya Anisa dengan berbisik.


"Nanti kalau sudah di ruangan saya". Jawab Farhan tak kalah berbisiknya.


"Dasar! Ngomong aja mau minta foto saya tapi gak berani". Ledek Anisa.


"Sejak kapan kamu jadi cerewet kalau dihadapan saya? Dulu kamu kalem lho orangnya. ". Ujar Farhan.


"Biar mas tahu sifat asliku. Kalau mas ilfil ya udah. Gak papa. Mumpung belum diresmikan". Jawab Anisa. Mereka masih mode berbisik yaa.


"Kamu meragukan saya?". Tanya Farhan. Anisa hanya mengendikkan bahu.


"Hiiiisshhh, saya gem...". Ucapan Farhan terhenti karena orang yang ada didepannya berbalik karena mendengar Farhan berbicara sedikit kuat. Ia lupa jika kini tengah berada ditempat umum. Sedangkan Anisa tengah menahan tawanya.


Keluar dari lift, tawa Anisa pecah sejadi-jadinya.


"Mau ngomong apa tadi pak Farhaaan?". Goda Anisa.


"Awas kamu yaa". Jawab Farhan. Anisa masih konsisten dengan tawanya.


"Sudah Anisa. Sudah gak ada yang lucu". Ujar Farhan.


"Ekspresi mas Faridz tadi. Lucu banget. Wkwkwkwk. Aduuuuuh, aku sampai nangis". Jawab Anisa dengan mengusap ekor matanya.


"Hiiiisssshh! Aku gemeees sama kamuuu. Pengen nyubit tapi belum boleh". Ujar Farhan dengan ekspresi gemesnya.


"Hish. Aku kabur ah. Ngeri lama-lama sama Mas". Jawab Anisa dan berlalu masuk ke ruangan Fathan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2