
Sudah seminggu Anisa istiqomah melakukan sholat istikhoro, tapi belum ada petunjuk sama sekali. Setiap bertemu dengan Pak Haris ataupun Farhan, Anisa begitu canggung.Ia rasa sangat tak pantas ditunggu oleh orang seperti para kandidat itu. Mungkin ketika ia sudah memutuskan hal ini, sedikit berkurang rasa canggungnya.
Hari ini, Anisa berniat untuk sowan sekaligus meminta petunjuk ataupun saran kepada Pak Kyai. Ia ditemani sang kakak.
Sebenarnya Faisal dan Faiz sudah gencar membujuk Anisa untuk memilih Farhan. Tapi Anisa masih tetap kekeh untuk mempertimbangkan dari segala sisi.
TOK! TOK! TOK!
Anisa membukakan pintu.
"Kamu jadi ke pesantren?". Tanya Umi.
"Insyaallah jadi mi". Jawab Anisa.
"Ya sudah, ayo kebawah. Sudah siap kan? Kak Ical sudah menunggu. Nanti malam kita kerumahnya Kak Aisyah". Ujar Umi.
Anisa dan Umi menuruni tangga. Faisal sudah menunggu di ruang keluarga dengan Abi.
"Kita berangkat sekarang?". Tanya Faisal.
"He'em". Jawab Anisa.
"Hati-hati dijalan. Semoga segera mendapat jawaban". Ujar Abi. Anisa dan Faisal berpamitan dan segera berangkat.
Sesampainya di pesantren mereka langsung menuju ke ndalem. Anisa tak mengabari Wardah mengenai kedatangannya ke pesantren. Bahkan ia belum menceritakan perihal khitbah ini.
"Abah sudah mengetahui kabar yang akan kamu sampaikan Anisa". Pak Kyai memulai pembicaraan.
(KITA RUBAH PANGGILAN UNTUK PAK KYAI YA. AUTHOR RASA LEBIH ENAK JIKA DI PANGGIL ABAH DAN UMI UNTUK BU NYAI)
Anisa tampak bingung. Dari mana Abah tahu?
"Abi kamu sudah mendiskusikan perihal perjodohan ini Nisa. Sudah sejak jauh-jauh hari". Sambung Abah. Anisa hanya menunduk dihadapan Abah.
"Anisa harus bagaimana Abah? Anisa sudah mencoba istikhoro, tapi sampai saat ini belum ada petunjuk". Ujar Anisa lirih.
Umi duduk di samping Anisa dan menggenggam tangannya.
"Istikhoro itu tidak selalu melalui mimpi nak. Ketika kamu sudah mantap dengan pilihan hati, maka itu jawaban istikhoromu". Ujar Umi lembut.
"Umi tahu. Sebenarnya kamu sudah mempunyai jawabannya. Kamu hanya perlu memantapkannya. Kamu lihat orang disekitar kamu. Bagaimana respon mereka? Bagaimana tanggapan mereka. Kamu juga bisa menggali informasi dari masing-masing orang itu untuk memantapkan hati kamu. Itu sudah cukup". Sambung Umi lagi.
"Ikut Umi ke taman yuk". Ajak Umi pada Anisa.
Anisa mengangguk dan mengikuti Umi ke taman belakang meninggalkan Faisal dan Pak Kyai. Anisa dan Umi duduk disebuah pendopo.
"Farhan orangnya bagaimana sih?". Tanya Umi spontan.
"Emmm, Mas Faridz orangnya baik, lembut, sholeh, tegas... Bertanggung jawab, pokoknya baik Mi". Jawab Anisa.
"Kalau Ibil?". Tanya Umi.
__ADS_1
"Anisaaa, kurang tahu kepribadian Cak Ibil. Yang Anisa tahu Cak Ibil itu laki-laki yang tegas, dan sholeh". Jawab Anisa.
"Kalau dosen kamu itu?". Tanya Umi lagi.
"Pak Haris, Anisa baru kenal mi, Anisa gak tahu bagaimana Pak Haris itu. Tapi, Anisa sama sekali belum ada kemantapan hati pada Haris itu mi". Jawab Anisa.
"Baik. Berarti kamu masih bingung antara Farhan dan Ibil. Mereka sama-sama baik dan sholeh". Anisa mengangguk.
"Kamu sudah coba cari informasi tentang mereka?". Tanya Umi. Anisa menggeleng.
"Orang disekitar Anisa sering menyinggung siapa ketika berkomunikasi dengan Anisa?". Tanya Umi.
"Keluarga Anisa, Umi, Abi, Kak Ical, Faiz, bahkan Mbok Yem begitu mendukung Mas Faridz". Jawab Anisa.
"Kamu sudah mendapatkan jawabannya Nak...". Ujar Umi dengan mengelus tangan Anisa. Anisa memandang Umi. Umi membalas dengan anggukan.
"Orang tua tidak akan menjerumuskan anaknya pada perkara yang buruk Nak. Turuti mereka, insyaallah semua lancar". Sambung Umi.
"Baik Mi, terima kasih untuk semuanya. Boleh Anisa memeluk Umi?". Tanya Anisa. Umi mengangguk. Merekapun berpelukan.
*Pulang
Faisal begitu penasaran dengan perbincangan Umi dan adiknya. Tapi ia sungkan untuk menanyakan pada Anisa. Aneh, padahal biasanya ia begitu terbuka dengan adiknya satu ini. Selama perjalanan mereka diam.
"Kakak mau tanya apa?". Ujar Anisa ketika melihat kegelisahan Faisal.
"Kamu sudah dapat jawabannya dek?". Tanya Faisal.
"Alhamdulillah". Faisal.
"Anisa takut membuat salah diantara mereka kecewa kak". Lirih Anisa.
"Bismillah. Semua sudah ada jalannya dek. Lalu, kapan kamu umumkan pada mereka?". Tanya Faisal.
"Hari ini. Setelah sholat zuhur, Anisa minta Abi untuk menemani Anisa". Jawab Anisa mantap.
*Some Time later
Anisa dan Abi kini telah berada di ruang tamu bersama dengan para kandidat calon suami Anisa. Anisa benar-benar sudah membulatkan tekadnya untuk memberi keputusan.
"Assalamu'alaikum Wr. Wb, Saya disini merupakan Abi dari Anisa. Barang kali diantara kalian ada yang belum mengenal saya. Terima kasih kalian telah bersedia hadir di kediaman kami. Hari ini, Anisa akan memutuskan siapa diantara kalian yang berhak meminang dirinya". Ujar Abi.
Awalnya Cak Ibil dan Pak Haris kaget jika ternyata yang menunggu keputusan Anisa tidak hanya mereka seorang. Yang lebih mengejutkan Ibil dan Haris adalah Farhan. Seorang Farhan juga menanti Anisa.
"Siapapun yang dipilih nantinya, merupakan keputusan yang telah dipertimbangkan secara matang-matang oleh Anisa ataupun pihak keluarga. Kami mohon maaf jika nantinya harus ada yang terluka disini. Baiklah, mungkin langsung saja. Nak, silahkan". Sambung Abi.
"Saya sangat meminta maaf pada anda-anda sekalian jika nantinya ada keputusan yang kurang bahkan tidak memuaskan. Semoga kalian mendapatkan pendamping yang lebih baik dari saya. Baiklah, langsung saja. Bismillaahirahmaanirrahim. Saya Alya Anisa Azzahra memilih.... Anda Muhammad Farhan Al-Faridz sebagai calon suami saya". Ujar Anisa dengan menunduk.
"Alhamdulillahirabil 'alamin". Ucap Bunda, Ayah dan Husna yang ternyata ada diruang keluarga bersama Umi, Faiz,Faisal dan Mbok Yem .
Saking bahagianya Bunda menghampiri Anisa dan memeluknya erat.
__ADS_1
"Terima kasih sayaang. Ya Allaaah Bunda senang sekali". Ujar Bunda. Bahkan Bunda sampai terharu.
"Bunda jangan nangiiis". Sambung Anisa dengan membalas pelukan Bunda.
"Bunda bahagia sekaliii". Jawab Bunda.
"Alhamdulillah, semoga dilancarkan semuanya. Saya pamit undur diri pak". Pamit Cak Ibil.
"Kami benar-benar minta maaf Nak Ibil. Semoga mendapatkan pengganti Anisa yang lebih baik". Ujar Abi.
"Aammiiiin, terima kasih pak. Saya pamit, assalamu'alaikum". Jawab Cak Ibil.
"Saya juga mau pamit pak, Assalamu'alaikum". Ujar Pak Haris.
"Wa'alaikumussalam". Jawab mereka yang ada disana.
"Yeee! Akhirnya punya calon mbak ipar kesayangan". Ujar Husna memeluk Anisa dari belakang.
"Astaghfirullah!". Kaget Anisa.
"Husna. Jangan seperti itu dong sayaang". Ujar Bunda.
"Bunda juga kok tadi". Jawab Husna.
"Sini kamu Husna. Abi mau kebelakang dulu". Pinta Abi agar Husna duduk di samping kiri Anisa.
Dengan senang hati Husna beralih ke samping Anisa. Tak henti-hentinya Husna memeluk Anisa.
Farhan melihat Anisa kegelian karena dipeluk Husna terlalu erat. "Lucu sekali mereka". Pikirnya.
"Saya akan berusaha yang terbaik untuk kamu Anisa. Agar kamu tidak merasakan penyesalan setelah memilih saya nantinya.". Batin Farhan.
"Okee! Sebaiknya kita bersiap untuk kerumahnya Aisyah deh". Ujar Faisal yang tiba-tiba nongol.
"Helleh. Mentang-mentang mau lamaran sama mbak ipar". Jawab Faiz.
"Hahaha, sepertinya memang sudah tidak sabar anak Bunda satu ini". Ujar Bunda.
Anisa dan Bunda membantu Umi dan Mbok Yem mempersiapkan barang bawaan. Sedangkan para lelaki tengah berbincang-bincang dan bersantai di taman belakang.
*Ba'da Isya'
Acara yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Acara lamaran berjalan dengan lancar.Keluarga Aisyah juga menerima dengan baik.
Kini mereka tengah mendiskusikan acara hari H pernikahan Faisal dan Aisyah. Sedangkan Anisa kini berada dikamar Aisyah. Aisyah mengajak Anisa untuk berbincang-bincang.
Aisyah menerima semua keputusan pihak keluarga mengenai waktu hari H. Makanya Aisyah memanfaatkan waktu untuk berbincang-bincang dengan Anisa. Mumpung Anisa sedang dirumah. Pihak keluarga juga tidak keberatan.
Sebenarnya Faisal ingin membuat acara lamaran resmi, dengan mengundang beberapa orang. Tapu Aisyah menolaknya. Ia belum siap jika karyawan kantor mengetahui hal ini. Jadilah acara lamaran ini hanya melibatkan family dekat.
Bersambung.....
__ADS_1