Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Tebal Muka


__ADS_3

"Jangan sayang, Bunda gak mau kamu ngajar lagi... Nanti kecapean kamunya," Sanggah Bunda tak setuju jika sang menantu kembali mengajar.


"Hanya sampai Mas Faridz gak mabok Bun," Bujuk Anisa.


Diam! Bunda tak menanggapi apapun kecuali helaan napas berat. Kini Anisa sedang berada di kamar Bunda. Sengaja Anisa berbicara kepada Bunda terlebih dahulu. Dikiranya Bunda akan setuju dan membantunya izin dengan yang lain.


"Bundaa," Lirih Anisa dengan menyentuh lengan ibu mertuanya itu.


"Bunda ngikut keputusan Mbah Kakung kamu saja yaa," Jawab Bunda.


Damn! Tak ada yang akan membantunya meminta izin. Sepertinya Anisa harus merayu Mbah Kakung agar mengizinkan mengajar kembali.


"Kamu kesayangan Kakungmu sayang... Cobalah bicara, kalau pun Bunda mengizinkan, belum tentu semua akan sependapat atau mengikuti," Ujar Bunda.


"Iya Bun, Anisa akan mencoba bicara dengan Mbak Kung," Jawab Anisa akhirnya.


.

__ADS_1


.


.


Hari ini Anisa sudah berada di kampus. Tentu saja bersama Farhan. Mana mau orang itu pisah dengan Anisa. Meskipun hanya ditinggal ke toilet saja sudah kelimpungan kalang kabut mencarinya. Ini mah lebih parah dari ngidamnya Anisa beberapa bulan yang lalu.


Tak apalah, setidaknya dengan begini, Anisa bisq mengajar kembali. Kelas yang biasanya ditangani Farhan dipindah alihkan pada Anisa. Bukan hanya Anisa, tapi juga Farhan sendiri. Ya! Satu kelas akan diampu oleh dua dosen sekaligus.


Keputusan siapa lagi jika bukan Farhan. Sedangkan kelas Anisa diambil alih oleh Ayah. Sebenarnya Ayah sudah tak memiliki jatah mengajar, tapi apa boleh buat. Dari pada sang menantu nanti malah kecapaian.


Semua ini karena ulah Farhan yang selalu saja merengek dan merengek. Sepertinya ia sudah lupa umur. Di kelas pun hanya Anisa yang sepenuhnya berkontribusi. Farhan hanya mendampingi dan terus memandangi di sampingnya.


"Yang, kita ke kantin yuk! Mamas pengen rujak yang dijual bude kantin," Bisik Farhan ketika mahasiswa kelas sedang presentasi.


"Nanti dulu Mas, sebentar lagi kan istirahat, kita baru ke kantin. Aku simak penjelasan kelompok ini dulu..." Jawab Anisa dengan berbisik pula. Pandangannya tak teralihkan dari mahasiswa di depan kelas itu.


"Kalau ngomong tuh jangan lihat yang lain sayang, luhatnya ke aku," Bisik Farhan sedikit geram.

__ADS_1


Astaghfirullah! Sabar Anisa, sabar.... Suamimu sedang terkena sindrom manusia manja plus sensitif saat ini. Anisa segera melihat ke arah suaminya dan tersenyum semanis-manisnya.


"Maafin adek ya Mas," Ujar Anisa lembut.


"Jangan lihatin kayak itu, Mas jadi malu," Cicit Farhan.


Macam mana pulak calon bapak satu ini. Plin-plan sekali. Minta di lipat masukin dalam karung, masukin lagi dalam box, dan lemparkan di Samudra Hindia.


Setelah memberikan penguatan materi, Anisa segera menutup pembelajaran lebih cepat kali ini. Tentu saja disambut dengan suka cita oleh mahasiswanya.


Farhan menarik-narik bagian bawah baju Anisa mengisyaratkan agar lebih cepat selesai. Oh No! Oh No? Ob No nonononono! Anisa seperti mengasuh anak saja ini...


Kini Anisa dan Farhan sudah berada di kantin kampus. Farhan sudah menghadap pada dua mangkok rujak dengan cabai ekstra. Biarlah kalau nantinya sakit perut. Biar tahu rasa, sudah diingatkan Anisa tapi masih tetap saja.


Pengunjung kantin tampak heran melihat pak rektor dan sang istri yang ada di kantin. Pasalnya, ini kali pertama Farhan dan Anisa makan di kantin kampus berdua. Biasanya mereka akan memesan makanan dan di antar ke ruangan Farhan.


Anisa harus tebal muka saat Farhan manja di tengah umum. Ia sempat berfikir, perasaan aku tak separah ini saat ngidam.

__ADS_1


...Bersambung... ...


__ADS_2