
Sayup-sayup mata Anisa terbuka. Terasa perih di pergelangan tangannya. Anisa mencoba duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Sepertinya kini ia tengah berada disebuah ranjang kayu. Terdengar decitan kayu ketika ia berusaha duduk. Kasur ini, juga tak se-empuk dan selembut kasur di rumahnya. Bahkan lebih terkesan keras. Kepalanya masih pusing. Yang ia ingat terakhir kalinya, ia berjalan keluar dari kamar mandi dan ketika melewati sepetak lorong sepi tiba-tiba ada yang membekapnya dari belakang.
Diedarkannya pandangannya menyusuri ruangan ini. Cukup gelap. Bukan cukup, tapi lebih dominan gelap. Alhamdulillah masih ada cahaya. Tertuju pada jendela yang tertutup beberapa bilah seperti papan. Tapi ia cukup meyakini jika saat ini masih malam. Ia hendak ke sana. Tapi terhenti oleh kakinya yang ternyata juga diikat. Ia mulai mengingat bayangan Farhan. Pasti ia kini tengah khawatir. Dimana ini?
“Kamu sedang apa Mas sekarang? Aku kangen banget,” batinnya, air matanya pun lolos seketika.
“Abi, Umi, maafkan segala kesalahan Anisa selama ini. Maaf jika Anisa sering menguji kesabaran kalian,” lirihnya lagi.
“Apa ini balasan atas perbuatan Anisa yang salah? Anisa tak tahu kesalahan Anisa dimana, tapi Anisa tahu jika seluruh manusia pasti pernah berdosa. Ya Allah Gusti, ampuni segala dosa kulo. Siapa pun itu, Anisa mohon maaf jika pernah menyinggung perasaan kalian,” batinnya berkecamuk.
Ia tak tahu harus bagaimana. Ikatan pada kaki dan tangannya begitu kuat. Ia yakin jika kini, tangan dan kakinya telah lecet.
“Anisa takut Ya Allah. Hamba tahu, jika hamba kini tak hanya takut pada-Mu. Hamba cukup takut pada gelapnya cahaya yang engkau ciptakan,” Anisa terus tersedu.
Apa ia harus berteriak? Tak bisa! Mulutnya di tutup lakban. Ia tak tahu harus berbuat apa. Yang ia tahu, saat ini hanya terus berdzikir dan membaca sholawat untuk meredam rasa takutnya.
Kreek! Suara pintu terbuka. Terlihat dua orang masuk. Satu berbadan tegap, dan satu lagi berbadan pendek dengan perut buncitnya. Anisa tak dapat melihat wajah keduanya. Karena memang saat ini gelap. Hanya sebuah lilin kecil yang dibawa orang bertubuh tegap untuk penerangan mereka.
“Kamu sudah sadar Anisa?” tanyanya. Tunggu! Sepertinya Anisa kenal dengan suara ini. Ia tampak berpikir ditengah gelapnya alam.
“Sepertinya kamu telah melupakan saya di ingatanmu. Tapi saya tak rela jika kamu melupakannya! Bagaimana jika saya ingatkan sekali lagi?” ujarnya.
Suaranya begitu menakutkan untuk Anisa dengar. Anisa tak berani memandang tubuh keduanya. Ia lebih memilih menghadap ke jendela dengan secercah cahayanya.
“Kamu mengabaikanku anak kesayangan Abi dan Ayah? Anak yang manja menurutku!!!” teriaknya. Berhasil membuat Anisa kaget. Ia tak berhasil berpura-pura kuat! Tangisannya telah lolos.
Ia berjalan kehadapan Anisa dan berdiri tepat disampingnya. Tak lupa dengan seseorang berbadan tegap tadi. Sepertinya itu bodyguardnya. Anisa masih tetap mematung.
Tak puas dengan respon seorang perempuan didepannya, laki-laki berperut buncit itu mencekam rahang Anisa sekuat-kuatnya dan menghadapkan padanya.
“Pasti kamu sekarang mengenali wajahku kan?” tanyanya. Iya, Anisa dapat melihat wajah yang tampak mulai ada kerutan setelah lilin itu sedikit didekatkan pada Pak Tua itu. IYA! ANISA INGAT BETUL!
__ADS_1
“Kamu kenal saya? Saya orang yang telah menabrak kamu di mall,” ujarnya dengan masih mencekal rahang Anisa.
“Sepertinya kamu ingin berbicara. Saya persilahkan,” ucapnya. Kemudia melepaskan cengkraman tangannya dan lakban di mulut Anisa.
“Izinkan saya sholat. Saya mohon,” lirih Anisa dengan mata yang masih berlinang air mata.
“HAHAHAHA!” tawa keras bapak tua itu menggelegar diseluruh ruangan.
“Kamu gila!!!!” Teriaknya. Anisa tak memberi respon apapun selain diam. Pak tua itu keluar dari kamar sejenak dan masuk kembali membawa seekor kucing.
“Saya sangat senang ketika mendengar kabar jika kamu depresi setelah insiden itu! Saya sangat bahagia! Tapi saya sangat benci saat satu bulan setelah itu kamu dinyatakan sembuh! Saya sangat muska saat itu!” tegasnya dengan suara keras. Anisa masih diam membisu dengan tatapan menuju ke arah kucing itu.
“Sekarang saya ingin mengembalikan ingatan kamu sayang. Tapi sebutan sayang itu ttelah luntur setelah Abi dan Ayahmu menanamkan dendam dihatiku,” lirihnya dengan menekan disetiap ucapannya.
“Apa salah Abi?” lirih Anisa.
“Abimu tak salah! Tapi ia telah menikmati hasil jerih payah kami bersama sendirian. Hanya sendiri! TANPA AKU,” tegasnya.
“Sepertinya Ayah dan Abimu menutupi semua hal besar ini secara rapat. Hebat sekali,”
“Perusahaan yang telah kami bangun bersama diserahkan dengan semena-mena kepada Abimu! Tanpa persetujuanku! Bahkan aku dijebloskan dipenjara dengan mudahnya! Apa itu yang disebut sahabat? HA!” Teriaknya. Anisa mulai ingat, jika Abinya memiliki 2 sahabat karib. Kepalanya kini mulai berputar seolah berkontraksi.
“Ayah dan Abi tak seperti itu, pasti ada salah paham disini,” lirih Anisa kembali.
“Itu menurutmu! Sebaiknya kau simak baik-baik hal ini” ujarnya.
Kemudian di ambilnya kucing itu dari tangan bodyguardnya. Dipegang tepat dikepalanya, sehingga kucing itu berontak tapi tak bisa. Bahkan pak tua itu tak peduli jika tangannya telah dicakar. Sebilah pisau yang cukup tajam berada didepan kucing itu.
Kepala Anisa rasanya sangat berat sekali. Nyeri yang luar biasa ia rasakan. Seolah-olah kini ia tengah diombang-ambingkan oleh sebuah perahu ditengah lautan berombak besar. Putaran-putaran memori beberapa tahun lalu yang sudah lama hilang kini mulai bermunculan.
“Dengan santainya Ayah mertua kamu itu mempermainkan perasaan saya. Ia tak peduli sama sekali dengan perasaan saya! Setelah saya mencoba untuk merelakan wanita itu untuknya, Ayah kamu malah melimpahkan seluruh aset kekayaan kepada Abimu. Saya tahu jika saya telah salah saat itu! Tapi saya lebih benci lagi saat Abi kamu mengambil hak saya! Saya awalnya akan merelakan kesembuhan depresi kamu. Tapi, setelah saya tahu kamu mengambil seseorang yang dicintai anak saya, saya menjadi semakin benci!” ujarannya terus berputar di kepala Anisa.
__ADS_1
“Jangan! Jangan bunuh Moli! Anisa mohon! Anisa mohon Om! Anisa sayang Moli. Om Surya, Anisa mohooon,” Anisa mulai berteriak dengan histeris. Wajahnya pucat pasi. Ia mengingat semuanya. Saat ia diculik dan didiamkan di gudang lembab dan gelap seorang diri. Esoknya kucing kesayangannya dibunuh tepat didepan matanya.
Secercah cahaya hadir disela-sela jendela yang tertutup tiga bilah kayu. Ia kini terbaring di sebuah ranjang kayu yang beralaskan kasur kumuh. Ia sudah sadar setelah semalam tiba-tiba ia pingsan tak sadarkan diri.
Tak ada apapun di ruangan ini selain ranjang dan sebuah meja usang di sebelahnya. Bukan hanya ranjang dan meja kumuh. Bahkan ruangan ini terlihat sempit dengan cat dinding yang telah mengelupas. Ruangan ini, atau mungkin rumah ini sepertinya cocok digunakan untuk latar tempat film horor, atau mungkin tempat sandera.
Ia ingat! Ia ingat kejadian semalam. Mulutnya kini kembali ditutup.
“Alhamdulillah jilbabku masih utuh,” Batin Anisa.
Dilihatnya lantai di samping ranjang usang itu. Tak ada bercak darah sedikit pun.
“Orang paling jahat di dunia ini pun masih memiliki secuil sisi baik di hatinya. Dengan secuil itu, ia pasti bisa menjadi orang baik seutuhnya,” batin Anisa.
Bersambung.....
Sampai mana ya pergerakan Farhan dan pendukungnya?
Lhu-lhu sambung besok deh!
Untuk keabsahan alurnya mohon bersabar yaa, Lhu-lhu sebenarnya gak tega mau buat alur nyesek kek gini.
Untuk kejelasan konfliknya, mohon bersabar yaa...
Lhu-lhu bakal jelasin kok!
Maaf gaeesss, besok gak berat-berat lagi kok! :”)
Lhu-lhu minta tolong, jika komen gunakan bahasa yang sopan ya 🙏🙏
Salam manis dari lhu-lhu yang manis. Hehehe...
__ADS_1