
Sampai di kamarnya Farhan segera melepaskan pakaiannya mengganti dengan jubah mandi kemudian meletakkan pakaian kotornya di ruang cuci.
"Mandi bareng yuk Yaank," Ajak Farhan pada Anisa yang tengah duduk di pinggiran tempat tidur.
Kehendak hati berpikir, pasti akan lama nanti di dalan sana. Tapi Anisa ingin menyenangkan Farhan. Ia sudah selalu merepotkan suaminya, masa iya ia tak mau menuruti kemauannya.
Akhirnya Anisa berdiri dan merangkul lengan tangan Farhan dan menyeretnya ke kamar mandi. Farhan tersenyum puas seketika. Anisa melepaskan bajunya satu persatu dibantu dengan Farhan. Setelah selesai, Farhan memeluknya dari belakang, melorotkan jubah mandinya hingga keadaan mereka sama-sama b*g*l. Tepat di hadapan mereka cermin besar, sehingga mereka dapat melihat aktivitas mereka saat ini.
Cumbuan mesra mulai Farhan lancarkan. Usapan lembut pada punggung Anisa, sukses membuatnya meremang. Dibimbingnya Anisa ke bawah guyuran shower untuk menambah kesyahduan. Selanjutnya..... Lanjutkan sendiri ya gengs...... Hahahaha. Anisa malu kalau dijabarkan lengkap di sini.
Cklek!
Dengan muka cemberut Anisa keluar dari kamar mandi menuju walk in closet. Tak berselang lama Farhan mengikutinya dari belakang.
"Jangan marah dong Yang, kan kamunya mau tadi," Bujuk Farhan. Pasalnya istrinya tadi dengan senang hati mengizinkan dan menikmati, kini malah ngambek. Good mood, ayo berbaik hatilah, kembalilah pada Anisa.
"Iya mau! Tapi nggak selama itu, waktuku sama Wardah jadi berkurang," Lirihnya.
__ADS_1
"Iya sayang, habis ini kita berangkat," Ujar Farhan sembari memeluk Anisa dari belakang.
"Ya udah sana, aku mau dandan," Protes Anisa.
Farhan memakai pakaian yang sudah Anisa siapkan. Pandangannya tak beralih dari istrinya yang kini tengah memoleskan bedak tipis di wajahnya. Semakin gemoy dan semakin cute saja dia ini.
"Jangan dilihatin terus Mas, ntar kepengen lagi," Celetuk Anisa.
Tawa Farhan menggelegar mendengar ujaran Anisa. Bisa-bisanya ia mengatakan hal itu. Meskipun benar juga, ia masih ingin mengurung istrinya di kamar.
"Mau nyebrang apa Han? Gandengnya eret bener," Celetuk sosok yang lumayan lama tak terlihat dari pandangan Anisa dan Farhan. Kak Ical sudah duduk manis dengan Hilya di pangkuannya. Semakin aktif saja anak itu.
"Hilya sayaang! Uuuhh, kangeen... Minjem Kak," Anisa menghampiri kakaknya dan menggendong Hilya.
"Jangan gendong lama-lama dek, ntar di tendang perut kamu," Kak Aisy panik. Bagaimana tak panik, sang anak kini sangatlah aktif.
Kak Aisy membiarkan Anisa menciumi Hilya hingga puas baru setelah itu mengambil alih gendongan anaknya.
__ADS_1
"Tumben udah di sini Cal?" Tanya Farhan.
"Numpang sarapan," Jawab Kak Ical yang kini tengah menikmati sarapannya.
"Panggilanmu Han!" Tegur Ayah. Bagaimana bisa Farhan melupakan hal itu, bahwa Ayah tak suka jika ia memanggil Ical tanpa embel-embel "kak".
"Hehehe, lupa Yah..." Jawab Farhan.
Meja tampak ramai dengan kedatangan Hilya, tentu saja dengan bumbuan ocehan absurdnya. Oh iya! Husna dan Faiz sudah kembali ke pesantren dua hari setelah pelaksanaan acara 4 bulanan. Ya kali saja para reader online ku ini mencari mereka. Hahaha.
Setelah selesai sarapan, Anisa dan Farhan segera berangkat ke rumah Wardah. Masih ada waktu satu setengah jam untuk kangen-kangenan sebelum berpisah.
"Nanti kalau bisa jangan nangis kalau Wardah berangkat, takutnya dia berubah pikiran gara-gara sahabatnya yang ngidam," Ujar Farhan ketika mereka sedang dalam perjalanan.
"Iyaa, nanti aku nggak nangis. Nangisnya kalau dia udah masuk ruang tunggu ajah," Jawab Anisa.
Farhan terkekeh sejenak. Mari kita buktikan ucapan Anisa nanti.
__ADS_1