
Tiga hari telah berlalu, kini Farhan telah sembuh dari demamnya. Tiga hari itu pula Anisa harus menggantikan kelas mengajar Farhan. Tentunya secara daring.
"Udah siap Yank?" Tanya Farhan. Ia telah mengenakan setelan kokonya.
Dan Anisa tengah mengenakan kebaya warna senada dengan Farhan.
"Udah Mas, kita antar Faiz dan Husna dulu atau kondangan dulu?" Tanya balik Anisa.
"Tanyain aja sama anaknya," Jawab Farhan.
Jika kemarin Kak Ical yang akan mengantarkan Faiz dan Husna, hari ini ditukar alihkan dengan Anisa dan Farhan yang akan mengantarkan. Sekali jalan katanya. Sekalian Anisa dan Farhan hadir ke acara pernikahan Wardah dan Cak Ibil.
Acara pernikahan bertempat di pesantren, Lalu, kenapa harus bingung hadir ke acara dulu atau mengantarkan adik-adik? Meskipun satu lokasi, jarak antara tempat resepsi dipisahkan dengan asrama. Pasti Husna dan Faiz ingin ikut makan-makan dong!
Anisa dan Farhan telah ditunggu di meja makan. Mbah Uti dan Mbah Kakung belum kembali ke Jogja. Tentu saja itu permintaan Faiz.
Ayah dan Bunda juga berkumpul disini. Husna bermalam di mansion 2 hari. Ayah dan Bunda mengantarkan ke rumah besan agar Anisa dan Farhan tidak bolak-balik harus menjemput Husna.
"Berangkat habis makan?" Tanya Bunda setelah Farhan dan Anisa duduk.
"Iya Bun, biar nanti kalau pulang gak kesorean," Jawab Farhan sembari menunggu istrinya mengambilkan nasi goreng buatan Mbah Uti.
"Niatnya sih gitu, gak tahu kalau Bu Nyai nanti minta buat nginep," Sambung Umi.
"Udah bawa cadangan baju kok Mi, kalau diminta singgah," Jawab Anisa sembari meletakkan piring dan nasinya di depan sang suami.
Agenda Farhan dan Anisa, ia akan pulang sekitar habis zuhur. Maka dari itu mereka bersiap mengantarkan adik-adik mereka pagi-pagi sekali.Pasti mereka membutuhkan waktu yang panjang. Mengingat, ini acara sahabat Anisa.
"Kalau diminta singgah, kelas kuliah kalian bagaimana? Farhan juga sering meeting kan?" Tanya Abi. Tak. Biasanya mereka makan dengan obrolan. Biasanya akan senyap. Apalagi jika ada Mbah Kakung. Tapi, kali ini Mbah Kakung cukup enjoy mendengar obrolan kami. Mungkin Mbah Kakung juga tertarik dengan obrolan ini. Hahaha
"Bisa di handle Bi, bisa memanfaatkan daring," Jawab Farhan.
"Anakku sudah profesional! Jangan meremehkan kamu!" Sanggah Ayah tak terima dengan pertanyaan sahabatnya. Ujaran tak menuntut, tentu saja dengan bumbu-bumbu candaan di dalamnya.
"Kamu kudet banget jadi orang Li, Ali," Suara Mbah Kakung baru terdengar.
"Maklum Pak, kulo kan sudah lama hengkang dari istilah-istilah itu. Hahaha" Jawab Abi beralasan.
"Besok bawa besan-mu ke kantor Fif! Biar dia belajar lagi," Canda Mbah Kakung.
"Siap Pak," Jawab Ayah dengan mengangkat tangannya hormat tegap.
Pagi ini meja makan diwarnai dengan candaan-candaan keluarga terlapau besar itu. Mbah Kakung seolah melupakan kebiasaan makan dengan tenang kali ini. Hingga,
__ADS_1
"Sudah! Kalau makan jangan ngobrol terus!" Ujar Mbah Uti. Mereka langsung menundukkan kepalanya fokus makan. Yaaa, walaupun tinggal sedikit.
Oh iya, Kak Ical dan Kak Aisy pastinya makan di kamar sambil menjaga debay. Makanya tak ada suara mereka sama sekali.
Setelah menyelesaikan sarapan, Farhan dan Anisa segera berangkat. Saat ini jam para pekerja berangkat. Pasti akan ramai atau bahkan macet.
Faiz dan Husna duduk di jok belakang, sedangkan Anisa menemani sang suami di depan. Husna tampak memfokuskan diri pada gawainya. Kenapa anak pondok tiap mendapatkan kesempatan libur pasti bawaannya gawai? Maklumlah, mereka begitu fokus belajar di pesantren, mareka akan memuaskan dirinya sebelum tak memegang gawai selama satu semester.
"Alhamdulillah," Ujar Farhan ketika sampai.
Anisa mwlihat ke belakang, ternyata dua sejoli itu tertidur. Anisa membangunkan mereka, mudah membangunkan Husna. Tidak untuk Faiz.
"Mau langsung diantar ke asrama?" Tanya Anisa pada kedua adiknya setelah bangun semua.
"Mau ikut ke kondangan Kak," Lirih Husna.
"Ya udah, barangnya taruh di sini dulu," Jawab Anisa.
Mereka segera masuk ke area resepsi. Beruntung mereka tak ketinggalan. Acara ijab qobul belum dimulai. Jalanan cukup lancar tadi, jadi mereka bisa sampai sebelum peekiraan jam.
"Adek ke tempat Husna dulu ya Mas," Ujar Anisa setelah menyapa Abah Kyai.
"Iya, hati-hati ya," Jawab Farhan.
Anisa tersenyum dan berlalu menuju ruangan yang disebut Abah tadi. Husna dan Faiz mengikuti Farhan yang saat ini duduk bersama para Asatidz.
Anisa membuka pintu dibarengi salamnya.
Terlihat di sana Wardah di dandani dengan sedemikian rupa. Umi menghampiri Anisa dan memeluknya. Wardah belum menyadari. Karena memang masih di rias.
"Umi nungguin Anisa kemari Lho, udah kangen. Umi kemarin khawatir banget saat Farhan cerita mengenai penculikan kamu," Ujar Umi panjang lebar.
"Anisa ndak papa Umi, Anisa baik-baik saja, Alhamdulillah," Jawab Anisa.
Beberapa saat menunggu Wardah akhirnya selesai juga. Wardah yang dari tadi penasaran, dengan siapa gerangan Umi mengobrol? Ia menoleh ke belakang, ditemuinya Anisa yang tersenyum manis ke arahnya. Wardah segera menghampiri Anisa dan memeluknya erat.
"Pengantinnya cantik bangeet, aku sampai pangling Lho," Celetuk Anisa setelah dilepaskan Wardah.
"Makasih udah datang, aku yang gak datang waktu ijab qobul malahan," Jawab Wardah.
"Nggak papa, Wardah cantik banget Ya Mi," Ujar Anisa.
"Iyaa, kalian jarang dandan kalau keluar. Sekali dandan auranya keluar. Hahahha," Jawab Umi.
"Umi tinggal dulu ya, Anisa temani Wardah. Umi mau ke depan. Nanti Ibunya Wardah akan menjemput kalau sudah selesai Ijabnya," Ujar Bu Nyai.
__ADS_1
Hanya mereka berdua yang tertinggal dalam ruangan itu. Wardah begitu gugup. Terasa dari tangannya yang terlampau dingin ketika menggenggam tangan Anisa.
"Aku takut Nis," Lirih Wardah.
" Bismillahirahmanirrahim, semua akan berjalan lancar insyaallah," Jawab Anisa menenangkan.
"Kamu memang gugup kan Dah? Tapi disisi lain hatimu juga bahagia," Ujar Anisa sembari menyentuh dadanya.
Wardah mengangguk kemudian tersenyum.
"Aku awalnya memang tak menyukai Mas Aibil, tapi aku sekarang sudah yakin. Pilihan Abah dan Umi pasti yang terbaik," Ujar Wardah.
"Eeaak! Panggilannya udah berubah. Biasanya juga Cak Ibil," Ledek Anisa.
Wardah dari dulu begitu kagum pada Faisal. Ya,ia begitu kagum pada kakak sahabatnya. Ternyata rasa kagum itu berubah menjadi rasa cinta. Rasa cinta yang tak terbalas. Huhuhuhuuu, zeediiiiihhhh.
Umi dan Abah Kyai menjodohkan Wardah dan Cak Ibil tiga bulan yang lalu. Setelah melalui beberapa pertimbangan dan musyawarah keluarga, akhirnya terlaksana pada hari ini.
"Nis, gak usah ngledek deh. Alhamdulillah aku udah bisa move on dari kakak kamu," Ujar Wardah.
"Nama Cak Ibil aslinya siapa sih?" Tanya Anisa. Jujur, semenjak kenal Anisa tak tahu nama lengkap Cak Ibil.
"Muhammad Aibil Abqari. Masak kamu gak baca papan ucapan di depan sih Nis?" Jawab Wardah dengan sebal. Anisa cengengesan dan menggeleng.
"Gimana? Udah isi belum?" Tanya Wardah sambil mengusap perut sahabatnya.
"Doakan saja, saat ini aku masih menikmati masa pacaran," Jawab Anisa.
Wardah tersenyum dan mengangguk.
"Aku kagum sama kalian. Gak pernah aku dengar kalian berantem. Padahal pernikahan kalian udah jalan 5 bulan," Ujar Wardah.
"Alhamdulillah, memangnya kalau aku bertengkar bakalan ngomong sama kamu?" Tanya Anisa.
"Hehehe, iya juga sih. Kita kan harus menutupi aib suami. Lho! Berarti kamu sering bertengkar?" Wardah terkaget.
"Ya enggak Wardah, alhamdulillah gak ada perselisihan yang rumit. Mas Faridz itu sabar banget," Jawab Anisa.
"Alhamdulillah, semoga aku dan Mas Aibil juga bisa seperti kamu dan Mas Farhan," Harap Wardah.
"Aammiiin, eh! Itu udah mulai ijab qobulnya. Dengerin deh!" Ujar Anisa.
Bersambung....
Mohon maaf gaeesss, Lhu-Lhu 3 hari ini ngilang. Lhu-Lhu habis perjalanan jauuuuhhhhh. Capek banget. Tadi malam mau up malah ketiduran lagk. Maaf yaaak 🙏🙏🙏🙏🙈🙊
Cek IG Lhu-Lhu gaeesss, Lhu-Lhu mau launching karya baruuuu.....
__ADS_1
IG\= LhuLhu909