
Sayup-sayup terdengar aluna azan yang merdu dari jalanan setempat. Sejujurnya mata Anisa masih enggan untuk terbuka. Terlalu nyaman pelukan kali ini. Di bandingkan malam kemarin yang hanya sendiri.
Deg!
Sontak Anisa terkaget! Siapa yang memeluknya? Wanginya, wanginya begitu familiar. Langsung saja Anisa menjauh dari sosok yang memeluknya.
"Assalamualaikum Bia-nya dedek dalam peyuuut," Sapa Farhan dengan senyuman yang begitu menyejukkan.
"Kok Bia?" Tanya Anisa penasaran.
"Kan nanti dedek bayinya panggil aku Abi, lalu panggil mamanya Bia. Di balik hurufnya...." Jawab Farhan.
Anisa kembali fokus pada manusia di depannya ini. Bagaimana mungkin tiba-tiba suaminya ada di sini? Bukankah masih lusa jadwal kepulangannya? Apa ini hanya halusinasinya?
"Astaghfirullahal'adzim," Anisa menyebut beberapa kali. Berharap halusinasinya segera berakhir.
"Kok malah nyebut sih yang? Mas bukan setan," Protes Farhan.
Tak menggubris Farhan, Anisa memilih bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Bisa-bisanya ia tak bangun tahajud. Malah mengigau tak karuan. Setelah salat ia bertekat akan menelepon sang suami. Sepertinya ia kini rindu berat sampai terbawa suasana dan perasaan.
Keluar dari kamar mandi pandangan Anisa mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Tak ada bayangan Farhan lagi. Ternyata tadi murni hanya hayalannya.
Cklek!
__ADS_1
"Astaghfirullahal'adzim!" Bayangan Farhan kembali hadir. Sontak Anisa kaget sekaget kagetnya dan langsung terduduk di pinggiran tempat tidur.
"Kamu kenapa sih Yang? Ini mas, suami kamu..." Ujar Farhan yang kini berjalan mendekati Anisa dengan gelas susu di tangannya.
Anisa mengambil gawainya di atas nakas dan mulai mencari kontak Farhan. Separah inikah halusinasinya? Ternyata bunyi nada dering Farhan ada di nakas seberang.
"Gimana? Udah percaya? Ganteng-ganteng gini kok malah adek menjauh!" Sambung Farhan.
"Adek gak lagi ngigau kan Mas?" Tanya Anisa.
"Hahaha, ada-ada aja sih sayangku ini... Mas pulang malam tadi. Udah izin sama Pak Wakil Rektor dan Pak Toni," Jawab Farhan yang kini mendekati Anisa hendak merangkulnya.
"Jangan dekat-dekat! Adek udah wudu mau salat," Jawab Anisa.
Anisa segera menyiapkan peralatan salat untuk dirinya dan Farhan. Anisa masih tak habis pikir bagaimana mungkin sang suami melimpahkan tanggung jawabnya kepada orang lain. Tapi disisi lain ia juga senang dengan kepulangan Farhan yang dipercepat.
"Nanti gimana jelasin ke orang-orang kalau Mas pulang gak sesuai jadwal?" Tanya Anisa setelah selesai salat.
"Ngapain dijelasin yang? Ya udah tenang aja, biar mas yang ngomong ke Ayah," Jawab Farhan dengan santainya. Walaupun sebenarnya ia yakin nanti akan disembur.
.
.
__ADS_1
.
Tap!
Tap!
Tap!
Penampakan kedua pasutri tengah turun dari tangga menuju ruang makan. Manusia yang duduk di kursinya masing-masing pun terperangah mendapati Farhan yang berjalan bersama Anisa. Kecuali Bunda terntunya. Bunda tampak mesam-mesem melihat orang-orang yang terperangah.
Apalagi Ayah. Sepertinya beliau siap menerkam manusia tengik yang dengan santainya berjalan ke arahnya itu. Kenapa Pak Toni tak memberi tahu jika Farhan pulang? Itulah yang kini sedang di pikirkannya.
"Selamat pagi semuanya..." Sapa Farhan yang kemudian menyalami mereka satu persatu.
"Kapan pulangnya le?" Tanya Mbah Kakung.
"Tadi malam mbah... Kabur duluan, hehehe," Jawab Farhan.
Mbah Kakung dan Mbah Uti memang belum kembali ke Jogja. Mereka ingin tetap di Jombang menanti cicitnya lahir. Sedangkan Umi dan Abi sudah kembali ke rumah mereka. Pastinya mereka kangen pada cucu pertama mereka. Dan pastinya mereka harus membagi kasih sayang mereka, tidak hanya melulu dengan Anisa.
Wajah Ayah tampak tengah menahan uap bumi. Merah padam seketika. Tapi sepertinya tak berani menunjukkan pada Kakek dan Nenek Anisa. Hahaha. Siap-siap saja untuk Farhan. Bentar lagi jadi peyek.
...Bersambung.... ...
__ADS_1