
Part Ke Sekian
Sudah sebulan ini Anisa menjalani rutinitas sebagai ibu dari dua anak kembarnya. Tiap malam ia harus terjaga saat anaknya rewel meminta ***** atau mengompol. Anisa juga saat ini tak mengajar pasca melahirkan. Tak tahu nantinya akan kembali mengajar lagi atau tidak. Seperti malam ini, Anisa kembali terbangun saat si Abang menangis. Ternyata sudah ada Farhan yang mendekati tempat tidur mereka.
“Bobok aja Yank, biar Mas yang ganti popoknya,” ujar Farhan dengan suara seraknya khas bangun tidur.
Bukannya menurut, Anisa malah mengikat rambutnya asal kemudian turun dari ranjang keluar meninggalkan Farhan di kamar. Ternyata Anisa pergi ke dapur membuatkan susu untuk suaminya. Kasihan melihat sang suami harus bekerja seharian kemudian membantunya mengurus si kecil di malam harinya. Mungkin itu prespektif Anisa, tidak untuk Farhan. Ia merasa kasihan kepada istrinya harus menjaga dua anaknya sehari full 24 jam perhari. Pernah sekali ia melihat istrinya ketiduran saat memberikan asi. Dua anak kecil itu saling mengoceh lirih. Anisa tak terusik sama sekali. Untung saja di sisi ranjang sudah diberikan bantal untuk menjaga si kembar agar tak terguling ke bawah.
Melihat Farhan mendekati ranjang tiba-tiba mereka tersenyum menyambut abinya pulang. Farhan mencium mereka satu persatu tak terlupakan Anisa tentunya. Disibaknya rambut sang istri agar tak menutupi wajah ayunya. Dua anak tampan itu terus menatap abinya dengan tatapan kekaguman.
“Assalamu’alaikum malaikat Abi,” sapa Farhan. Tak ada jawaban tentunya, kecuali ocehan mereka. Farhan menaikkan selimut agar menutupi tubuh sang istri.
Flashback off.
Anisa memberika segelas susu untuk suaminya yang kini memangku sang anak di kursi goyang. Mengelus lembut punggung sang anak agar tertidur kembali. Anisa memberikan susu kepada suaminya kemudian kembali ke ranjang. Bukan untuk tidur, melainkan hanya duduk memerhatikan sang suami menidurkan si kecil.
Memandangi Farhan sedari tadi membuat Anisa kembali mengantuk. Alhasil ia tertidur dengan sendirinya. Farhan juga telah berhasil menidurkan si kecil kembali. Farhan mengelus lembut pelipis Anisa. Wanita yang sangat kuat menurutnya. Anisa yang terusik kembali membuka matanya.
“Tidur Yank,” ujar Farhan yang kini memeluk istrinya.
“Bulan depan kita ke nikahannya Wardah nggak Mas?” tanya Anisa. Ntah mengapa tiba-tiba ia mengingat sahabatnya itu.
“Insyaallah kita datang. Semoga kembar dan kita selalu diberi kesehatan dan semoga Mas bisa mengatur waktu nantinya,” jawab Farhan.
Farhan memang selalu berkomunikasi dengan Eza untuk menanyakan persiapan acara besar. Farhan juga terus berusaha untuk mengosongkan jadwalnya di saat hari-H Eza dan Wardah berlangsung.
__ADS_1
...
...Dua bulan kemudian...
Anisa kini telah siap dengan barang bawaan mereka. Dua koper ditambah satu tas berisi keperluan si kecil selama perjalanan. Farhan juga sudah siap dengan pakaian casulnya. Dua baby boy juga sudah tampan dengan pakaian pilihan sang Abi. Kali ini adalah perjalanan jauh perdana yang dilakukan baby twin.
Jauh-jauh hari Farhan dan Anisa sudah berkonsultasi dengan dokter khusus si baby. Sudah lulus uji, boleh diajak bepergian jauh. Selama perjalanan pun si kecil sangat perhatian. Tak rewel sama sekali. Mungkin karena seluruh kebutuhannya sudah siap sedia, jadi selama perjalanan aman sentosa sejahtera.
Di bandara sudah ada Papa Eza dan Kak Yusuf yang menjemput. Betapa senangnya Papa Surya melihat kembar. Bahkan selama perjalanan, Papa Surya tampak bermain dengan si Kembar di pangkuannya.
“Masyaallah, cantiknya Mimi satu ini,” celetuk Anisa menghampiri Wardah yang ada di ruang keluarga menunggu acara dimulai. Anisa membahasakan Mimi untuk anaknya. Atas rekomendasi Eza tentunya.
“Sini sayaang, pengen gendong deh! ” jawab Wardah mengulurkan tangannya mengambil alih gendongan kembar.
Anisa memang sudah sampai di Jakarta sejak dua hari yang lalu. Wardah benar-benar berteman dengan si kembar, karena mereka tak rewel sama sekali. Bahkan selama perjalanan, kata Anisa sang anak tak rewel sama sekali.
Jika si Upin bersama Wardah, maka Ipin bersama sang Abi. Farhan juga sudah ikut ke Jakarta. Saat ini ia tengah bercengkrama dengan Papa Surya dan Kak Yusuf. Oh tunggu! Ada Dinda dan Inayah juga ternyata. Dua bocil itu tampak excited untuk mengajak bermain si Ipin atau yang memiliki nama asli Alzain.
Wardah memberikan Arzan kepada Anisa kembali. Karena acara siraman akan di mulai.
"Aku masih nggak habis pikir, nama Upin ternyata sama dengan Mas Eza," celetuk Wardah.
"Itu nama dari Abah Munif, bisa kebetulan gitu sama dengan Eza, hahaha," jawab Anisa.
Beberapa petuah telah disampaikan oleh Mbah Kung dan Pakde Wawan. Tetua dari keluarga Wardah. Sudah lama Wardah tak bertemu orang tua dari sang Ayah, membuatnya rindu tapi juga canggung. Wardah bersimpuh dihadapan Bunda, Mbah Kakung, dan yang lainnya meminta ridho untuk keberlangsungan akad nikah beberapa hari yang akan datang.
__ADS_1
Tangis haru mewarnai pembukaan acara kali ini. Harusnya Ayah yang saat ini duduk di samping Bunda, tapi kini harus digantikan Pakde Wawan.
"Eza kemarin baru saja kembali dari Jombang," ujar Bunda ketika menemani anak gadisnya mengganti pakaian.
"Ngapain Bun?" tanya Wardah kaget. Pasalnya tak ada yang memberitahu mengenai Eza. Setiap Wardah bertanya mengenai keberadaan Eza, pasti jawabannya selalu bekerja di kantor.
"Mengunjungi Ayah, dia ingin mengobrol dengan leluasa katanya... Kalau ada Dedek, dia nggak berani nangis nanti," jawab Bunda.
Wardah saat ini sudah menggunakan pakaian kebaya adat jawa dengan dikalungi oleh bunga-bunga yang dirangkai dengan begitu cantiknya. Caca dan Anisa mendampingi Wardah sembari menunggu gilirannya dipanggil menuju tempat penyiraman.
"Mas Eza sudah kembali ke Jakarta Ca?" tanya Wardah memastikan.
"Sudah, dia lagi dipingit. Ngeyel dianya, padahal Papanya udah ngelarang," jawab Caca.
"Tenang Dah, dia waktu berangkat dikawal ketat kok, hahaha," celetuk Anisa.
Wardah diapit oleh Caca dan Anisa menuju tempat penyiraman. Kata-kata pemanis dari pembawa acara pilihan Mbak Winda menambah kemeriahan acara kali ini. Kemeriahan yang tak melunturkan adat budaya yang digunakan.
Sangat megah acara ini berlangsung. Dari acara lamaran, hingga siraman acaranya masih saja live streaming.
Cantik sekali sahabatnya itu. Berbahagialah Wardah. Kamu pantas bahagia. Bunda menyiram dan dilanjutkan dengan Pakde Wawan menggantikan Sang Ayah tercinta.
Anisa teringat dengan kehadiran Eza yang tiba-tiba ke Jombang. Hendak ke makam Ayah Wardah tuturnya. Alhasil Farhanlah yang mengantarkannya. Tangis haru bahagia Eza tumpahkan seraya berbincang dengan nisan Ayah. Begulah kata Farhan.
__ADS_1
...Bersambung ...