
Selesai sholat berjamaah, Farhan memilih untuk sekedar jalan-jalan dipinggir pantai. Pantai pribadi memang banyak sekali untungnya. Tak ada orang asing yang berlalu lalang, tak ada sampah dari tangan orang-orang tak bertanggung jawab, dan yang pasti suasana damai, tentram, dapat ditemukan disini.
Tak jauh dari Farhan, terlihat Anisa tengah duduk di pasir. Farhan pun berinisiatif menyusulnya. Farhan duduk disamping Anisa dengan beberapa jarak.
"Assalamu'alaikum". Sapa Farhan dengan senyum manisnya.
"Wa'alaikumussalam, eh! Mas Faridz?". Jawab Anisa.
Tampaknya Anisa sedikit gusar. Ia mengingat bahwa ia tak memakai jilbab ketika tidur di balkon. Sedangkan saat itu Farhan berada di balkon kamar sebelahnya.
"Kamu kenapa Nis?". Tanya Farhan bingung.
"Emm, it.ittu, tidak apa-apa kok mas". Jawab Anisa.
"Kayaknya mas Faridz gak lihat aku deh, kemarin. Dilihat dari gelagatnya seperti tak terjadi sesuatu". Batin Anisa.
"Kok malah bengong?". Serka Farhan.
"Emm, ndak kok. Pemandangannya cantik banget ya mas". Jawab Anisa mengalihkan pembicaraan.
"Iyaa, cantik banget. Seperti kamu". Ujar Farhan.
"Ih, apaan sih. Ngawur. Wkwkwk". Jawab Anisa dengan tawa renyahnya.
"Ikut saya yuk, saya tunjukkan spot yang luar biasa". Ajak Farhan.
"Jauh gak?". Tanya Anisa.
"Nggak, ayuuk". Ajak Farhan lagi dan berdiri. Anisa Pun mengikuti Farhan.
Setelah beberapa saat, tibalah mereka.
"Waaah, ada ayunan di tengah air". Anisa terkagum-kagum.
"Ayo kesana". Ajak Farhan. Anisa mengangguk, ia berjalan didepan Farhan.
"Duduklah, biar saya ayunkan". Tawar Farhan.
"Gak usah mas, mas duduk di ayunan sebelah saja. Anisa cuma mau menikmati terpaan ombaknya kok". Jawab Anisa. Farhan menuruti dan duduk di ayunan sebelah Anisa.
Mereka berbincang-bincang ringan. Farhan diam-diam mengambil gambar Anisa yang tengah mengoceh ngalor-ngidul. Yang difoto pun tak sadar.
Hari semakin sore, dan ternyata dari pantai ini terlihat sunset.
__ADS_1
"Lihatlah sunset itu Nisa, Masyaallaah...". Ujar Farhan.
"Masyaallaah, indah sekali...". Jawab Anisa.
Setelah beberapa saat menikmati suasana sore, Farhan mengajak Anisa kembali ke villa. Khawatir jika para orang tua mencari keberadaan mereka.
"Udah sore banget ini, ayo kita pulang. Tadikan kita gak pamit kesininya". Ujar Farhan.
"Yaaah! Padahal masih pengen disini". Ujar Anisa.
"Besok kita kesini lagi. Aku juga masih ada tempat rahasia yang gak kalah cantiknya dari ini". Ujar Farhan.
"Benarkah?". Tanya Anisa. Farhan mengangguk. Akhirnya Anisa menuruti Farhan. Mereka kembali ke villa.
Ketika melewati genangan air, tiba-tiba
"Astaghfirullaaah, aduuuh". Keluh Anisa.
"Kenapa Nis?". Tanya Farhan.
Farhan menuntun Anisa ke pinggir pantai. Ternyata Anisa tesandung karang dan terluka dibagian mata kaki dan jempol kakinya.
Farhan mencoba membasuhnya menggunakan air botol yang sempat ia bawa tadi dan mengikat bagian jempol kaki Anisa menggunakan sapu tangannya.
"Apa tidak apa-apa memakai sapu tangan mas? Nanti kena darah?". Ujar Anisa.
"Insyaallah bisa". Jawab Anisa. Anisa mulai berjalan tertatih-tati.
"Maas, periih". Ujar Anisa.
"Saya bantu yaa, maaf". Jawab Farhan dengan menuntun Anisa.
"Maaf yaa. Gara-gara saya mengajak kamu ketempat tadi, kamu jadi celaka seperti ini". Ujar Farhan.
"Mas Faridz gak salah kok. Anisa aja yang kurang hati-hati, hehehe". Jawab Anisa.
Setelah sampai didekat villa, Faisal yang berada disana menghampiri Anisa dan Farhan.
"Ya Allaah, kamu kenapa dek? Astaghfirullaaah". Ujar Faisal panik.
"Gak papa, tadi kesandung batu karang". Jawab Anisa.
"Ayo kakak gendong". Ujar Faisal dan membungkuk didepan Anisa. Mau tak mau Anisa menuruti sang kakak.
Ketika memasuki villa, Umi yang melihat Anisa digendong pun khawatir sejadi jadinya.
__ADS_1
"Kamu kenapa naak? Dari mana aja? Kok bisa beginii?". Deretan pertanyaan muncul dalam satu nafas.
"Gak papa mi, cuma luka kecil kok". Jawab Anisa. Umi pergi mencari Bunda untuk menanyakan kotak P3K. Farhan mengikuti Faisal yang tengah menggendong Anisa menuju kamarnya.
"Lho! Ini kamar Anisa? Berartii, yang tadi siang ituuu". Farhan berkecamuk dengan batinnya setelah memasuki kamar Anisa.
"Kamu dari mana aja to neng? Kok bisa kyak gini? Mbok yaa hati-hati kalau jalan itu". Ujar Umi panjang lebar sambil mengobati luka Anisa.
"Anisa cuma jalan-jalan di pantai kok mi, gak sengaja tadi nendang batu karang". Jelas Anisa.
"Kan kasihan batu karangnya, gak salah apa-apa kok ditendang". Ujar Faisal yang duduk disisi Umi.
"Hish. Kak Ical nih, kan aku gak sengaja". Jawab Anisa. Setelah selesai dibersihkan, dan orang-orang keluar, Anisa memilih untuk mandi baru setelah itu memakai obat merah dilukanya.
*meja makan
"Kaki kamu udah gak papa kan neng?". Tanya Abi ketika Anisa sudah duduk dimeja makan.
"Udah mendingan bi". Jawab Anisa.
"Besok-besok hati-hati. Kalau jalan itu perhatikan jalannya". Ujar Umi.
"Iyaa". Jawab Anisa.
"Farhan, besok kalau mau keluar dijagain Anisanya. Jangan asal nyelonong ajah". Ujar Bunda pada Farhan.
"Tadi yang bantuin Anisa juga mas Faridz kok Bun". Bela Anisa.
"Syukurlah kalau gitu. Untung sama nak Farhan. Kalau sendiri gimana coba". Ujar Umi.
"Makasih ya nak". Sambung Umi. Farhan hanya mengangguk dan tersenyum pada Umi.
Walaupun kaki Anisa sakit, tak menghalanginya untuk menyiapkan makan malam dua keluarga ini. Tak sendiri. Tentu saja dengan Umi dan Bunda.
Makanan yang luar biasa. Masakan rumahan ala Anisa, tapi tak kalah dengan masakan restoran ternama. Dua keluarga ini tampak sangat lahap dalam menikmati tiap gigitannya.
__ADS_1
Bersambung....