
Assalamu'alaikum kakak-kakak online, mohon maaf yaa, Lhu-Lhu baru bisa up lagi. Kemarin sedang ada acara buka bersama keluarga besar, tak enak jika tak ikut membantu. Malamnya, Lhu-Lhu disuguhi tugas seabrek yang deadline-nya pagi harinya.
Oke! Kita masuk ke ceritanya! Menyambung hari yang lalu.
.
.
.
Anisa menunggu Farhan sembari berayun di ayunan taman pekarangan mansion. Terasa sekali sepinya, tak ada orang sama sekali. Hanya terlihat penjaga gerbang yang tengah berbincang satu sama lain. Samar-samar terdengar mereka bercakap sesekali tertawa.
Rasa bosan mulai menyeruak. Anisa berkali-kali mondar-mandir keliling taman.
Bruuummm....
Mobil Ayah dan Abi memasuki gerbang.
"Sayang, kok di luar?" Tanya Ayah setelah melihat sang menantu ada di halaman.
"Lagi nungguin Mas Faridz Yah," Jawab Anisa dengan senyuman yang mengembang, tak lupa ia mencium tangan Ayah dan Abi.
"Farhan kemana?" Tanya Abi.
"Lagi nyari makana," Jawab Anisa lirih.
"Hahaha, nyidam ternyata! Ayo ke dalam dulu, kita tunggu di dalam saja," Ajak Ayah sembari merangkul menantunya yang tampak malu-malu.
.
__ADS_1
.
"Abii," Panggil Anisa.
Kini mereka tengah duduk berdua di sofa taman. Dengan Anisa yang duduk di sebelah Abi, dan tengah menyenderkan kepalanya di pundak Abi. Dulu sering sekali Anisa menghabiskan waktu berdua. Kini sepertinya sangat jarang.
"Hemm," Jawab Abi tanpa mengalihkan pandangannya dari koran yang dipinjamnya dari mamang penjaga gerbang.
"Mas Faridz lama banget," Keluh Anisa.
"Sabar Neng, makan yang ada di dapur ya? Ini udah mau siang, kasihan yang ada di perutnya... Masih membutuhkan nutrisi," Bujuk Abi yang melipat korannya.
"Pengennya gitu Bi, tapi gak bisa... Pasti mual," Lirih Anisa.
Abi membawa Anisa pada pelukan hangatnya. Tak dapat dipungkiri. Abi juga sangat merindukan saat-saat bersama seperti sekarang. Abi mengelus pundak Anisa lembut.
Anisa tampak ragu, ia ingin, tapi takut jika nanti mual lagi.
"Dicoba dulu, kalau memang mual, kita tunggu Farhan kembali membawa makanan masakan Bude Pojok," Ujar Abi seolah tahu kelut-kemelut pikiran Anisa.
Anisa mengangguk mengiyakan. Tapi Abi sama sekali tak mengizinkan Anisa ke dapur. Sudah dipastikan pasti akan mual kembali mencium aroma makanan di dalam tudung saji. Abi meminta Anisa agar menunggu di taman saja.
.
.
.
Abi memilih untuk memasakkan bubu. Kenapa bubur? Yaa, karena Abi ingatnya hanya resep membuat bubur. Wkwkwkwk.
__ADS_1
Abi mencuci beras, kemudian sayuran campurannya. Sepertinya Abi tampak kagok dalam urusan potong memotong. Terlihat jas dari hasil potongan sayurannya yang tak beraturan ukurannya. Maklumlah! Abi terakhir kali masak saat Anisa sakit beberapa tahun lalu. Tepatnya saat masih di pesantren, dan izin pulang karena sakit.
"Abi ngapain?" Tanya Umi yang baru pulang dari arisannya.
"Anisa belum makan dari pagi. Sekarang sudah jam 10 Farhan malah belum pulang juga," Ujar Abi.
"Abi buatin Anisa bubur?" Tanya Umi. Abi hanya mengangguk dan masih meneruskan kegiatannya.
"Farhan kemana?" Tanya Umi lagi.
"Lagi nyariin yang dipengenin istrinya, tapi malah belum pulang-pulang itu anak," Jawab Abi.
"Kenapa gak nungguin Farhan pulang Bi? Percuma juga masak, kalau bukan kehendaknya bakalan mual," Ujar Umi.
"Apa salahnya dicoba? Kalau gak mau bantu sana pergi aja. Abi mau fokus inget-inget resepnya," Sepertinya Abi mulai murka dengan omelan Umi. Hahahaha.
Umi pun tersenyum geli melihat sang suami sensitif jika sudah panik. Umi meletakkan tasnya di meja makan dan mulai mendekati Abi.
"Iya, Umi bantu," Ujar Umi lembut. Abi tersenyum sumringah dibuatnya.
"Bundanya Farhan mana? Gak bareng pulangnya?" Tanya Abi. Karena tadi pagi mereka berpisah dengan saling berpasangan dengan sahabatnya. Hehehe.
"Masih mampir ke rumah tetangga. Unu duluan deh! Soalnya kayak ngerasa gk nyaman gitu hatinya, kepikiran apa gak tahu. Eh! Ternyata mikirin Abi," Celetuk Umi.
"Hallah! Udah tua gayanya gombalan," Jawab Abi. Bukannya malah kebalik? Harusnya yang ngegombal Abi dong!
"Iyaa, mikirin Abi sama Anisa. Makanya Umk izin pulang dulu," Umi mengklarifikasi.
Bersambung....
__ADS_1