Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Selesai


__ADS_3

Bunda menghampiri Farhan. Bunda melihat pertengkaran itu. Para ibu-ibu sudah kembali ternyata. Jeweran mendarat dengan terjalnya pada telinga Farhan.


"Beraninya buat anak Bunda nangis ya!" tegas Bunda.


"Adudududuuuu Bunda, sakit Bun, sakit," teriak Farhan.


Farhan segera menghampiri Anisa yang sudah berada di kamar. Dilihatnya Anisa tengah menangis dengan posisi miring menghadap ke jendela kaca kamar. Terasa Farhan ikut berbaring dan memeluk dengan sayang istrinya.


"Maaf Yank, tadi aku cuma tanya, nggak bermaksud nyuekin kamu," ujar Farhan lembut.


Meski sebenarnya memang buka ia yang salah, tapi memang harus dia yang meminta maaf terlebih dahulu. Jika ingin peperangan ini cepat berakhir. Hahaha.


"Maafin aku ya?" tanya Farhan dengan mengecup lembut pelipis Anisa.. Terasa Anisa kini mengangguk mengiyakan. Diraihnya tangan Farhan yang memeluknya dan menggenggam erat.


"Aku inget deh Mas, siapa yang manggil aku Ninis." lirih Anisa. Ia berfikir keras tadi. Hingga bayangan itu muncul.


"Siapa?" tanya Farhan dengan lembut.


"Kayaknya itu temen aku waktu di pesantren deh. Yang dulu katanya suka sama aku," jawab Anisa.


"Duuh, bumilku banyak banget yang naksir, harus ekstra hati-hati ini Mas," ujar Farhan dengan mengeratkan pelukannya. Diciumi nya puncak kepala Anisa sebagai tanda sayang.

__ADS_1


"Aku blokir aja ya Mas?" tanya Anisa.


"Nggak usah, kita hubungin baik-baik dulu... Siapa tahu dia hanya ingin mengetahui kabar bidadarinya Mas Faridz," jawab Farhan.


Anisa berbalik menghadap Farhan dan memeluknya dengan kasih. Ia sangat bahagia memiliki sosok Farhan di sampingnya.


"Udah selesai ngajarnya?" tanya Anisa.


"Belum, Ayah yang lanjutin tadi," jawab Farhan dengan santainya.


"Waktu 7 bulanan, kita sekalian potret untuk kita oke!" ujar Farhan.


Anisa mengangguk dengan senyuman yang begitu manis. Farhan membimbing Anisa agar duduk dengan nyaman. Saatnya menghubungi nomor semalam. Anisa menyerahkan semuanya pada Farhan.


"Wa'alaikumussalam, mohon maaf anda siapa? Ada perlu apa dengan istri saya?" tanya Farhan mencoba tenang. Anisa mengelus tangan Farhan mencoba menenangkan.


"Ini benar dengan nomor Alya Anisa Azzahra?" Tanyanya memastikan.


"Iya benar, dia istri saya," jawab Farhan.


"Saya minta tolong pada anda agar tidak menghubungi istri saya kembali. Mohon maaf bukan karena apa-apa, tapi hal itu akan sangat tidak pantas," ujar Farhan lagi.

__ADS_1


"Bolehkah saya berbicara sebentar dengan istri anda?"


Farhan memberikan gawai pada Anisa. Ia menggeleng hendak menolak, tapi Farhan meyakinkan agar istrinya mau. Akhirnya Anisa menerimanya.


"Halo?" lirih Anisa.


"Nis, maaf kalau aku ganggu kamu. Maaf, aku kira kamu belum menikah," ujarnya.


"Ada yang perlu dibicarakan lagi?" tanya Wardah.


"Sudah, terima kasih sudah mau berbincang dengan ku walau sebentar. Aku akan melupakan mu seutuhnya. Assalamu'alaikum," ujarnya kemudian menutup gawainya.


Huufft! Lega rasanya. Sebenarnya kasihan, tapi mau bagaimana lagi. Farhan tersenyum lembut pada istrinya. Mengelus perutnya yang sudah sangat besar. Bahkan kini kakinya sudah mulai membengkak. Sesekali Farhan memijit kaki Anisa.


Kembalilah mereka ke ruang keluarga. Ternyata Ayah sudah selesai mengajar. Makan siang sudah menanti. Memanggil-manggil sang empu. Makan bersama seperti ini memang sangat menyenangkan.


Bunda sekalian menginfokan perlengkapan yang dibutuhkan dalam 7 bulanan. Hampir semuanya sudah terpenuhi. Tidak dengan satu hal. Keinginan Anisa tentang kehadiran Wardah di sini nantinya.


...Bersambung......


Sebentar lagi cerita Anisa dan Farhan akan tamat nih! Kira-kira kalian rela nggak nih? Hahaha.

__ADS_1


Babayyyy di detik-detik terakhir perjalanan Farhan dan Anisa...


__ADS_2