Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Siapa Liza?


__ADS_3

Urusan Anisa di Jakarta sudah selesai. Faiz bersedia untuk kuliah sekaligus bekerja dengan Eza. Pagi ini Wardah dan Eza mengantar sahabatnya itu ke bandara. Hari ini mereka akan kembali ke kotanya. By-by baby twins.


"Kasih tahu aku kalau ada apa-apa sama Faiz ya, kalau nakal pukul aja, aku ridho," celetuk Anisa.


"Kapan sih kak, Faiz tuh nakal?" sambung Faiz tak terima.


"Tenang, kabarnya nggak akan telat," jawab Wardah.


Lagi-lagi mereka harus ldr-an. Padahal Wardah masih ingin bersama kembar. Anisa dan Farhan yang bekerja sebagai tenaga pengajar di universitas, juga tidak bisa berlama-lama meninggalkan mahasiswanya. Meskipun sebenarnya bisa digantikan dengan dosen lain ataupun diganti secara online. Tapi, tanggung jawab menangani pekerjaan juga tidak bisa disepelekan.


Pulang dari bandara, Eza mengajak Wardah dan Faiz ke salah satu restoran untuk makan siang. Mereka menunggu Anisa masuk ke ruang tunggu hingga menjelang siang.


Jika biasanya Eza mengajak Wardah ke restoran hotel ataupun café estetik, berbeda dengan kali ini. Tempat makan kali ini yang memilih adalah Faiz. Rumah makan padanglah yang menjadi pilihannya. Dari dulu dirinya ingin mencoba nasi padang, tapi belum kesampaian. Dengan senang hati Eza dan Wardah mengikuti kemauannya.


“Ini beneran rumah makan Kak? Kok besar banget,” tanya Faiz. Pasalnya, yang ia lihat di vlog-vlog food floger dan rumah makan di kotanya, kebanyakan berupa warung kecil.

__ADS_1


“Ada yang warung biasa sebenarnya Iz, tapi yang rekomended y aini. Biasanya ada yang abal-abal,” jawab Eza sembari mencari tempat duduk yang pas.


Faiz manggut-manggut menimpali. First in person-nya memasuki rumah makan ini begitu terkejud. Karena bangunanannya yang megah. Setelah memasuki ruangan awal, mereka akan disuguhkan dengan monument-monumen miniature kota Padang. Dan itu membuat Faiz semakin tercengang. Eza memilih tempat duduk lesehan agar lebih leluasa.


Mereka disuguhkan beberapa menu makanan di atas meja, dipersilahkan memilih sendiri menu yang akan di makan, dan nantinya akan dihitung dan dibayar menu yang berkurang. Disaat fokus dengan makanan mereka, tiba-tiba datanglah seorang gadis memeluk Wardah dari belakang.


“Kak Wardah!” girang gadis itu.


“Liza? Kamu di sini juga?” kaget Wardah. Ternyata gadis itu Liza. Perempuan yang tempo hari curhatan dengan Wardah selama pesta berlangsung. Tidak lama memang, tapi ntah mengapa anak SMA itu bisa terlampau dekat dengan Wardah.


“Sejak kita berpisah waktu pesta malam itu!” jawab Liza dengan PD-nya. Liza memang sudah bertekat untuk belajar ilmu agama dan akhlak kepada Wardah. Niatnya esok hari ia akan ke mansion, tapi mereka sudah dipertemukan di tempat ini.


Sepulang sekolah, Sang Papa mengajak Liza untuk berhenti di sebuah rumah makan Padang. Untuk family time katanya. Tapi fokus Sang anak beralih pada sepasang suami istri yang dikenalnya yang duduk tak jauh dari mereka. Sontak setelah menyelesaikan makannya Liza menghampiri Wardah dengan mengejutkannya dari belakang. Wardah yang postur tinggi tubuhnya kalah jauh dari Liza, sontak terhuyung hamper terjungkal. Beruntung dirinya masil bisa mengendalikan tubuhnya agar tetap tegap. Eza yang mengetahui keberadaan Papa Liza menghampir beliau untuk menyapa.


“Hey, ini siapa kak?” tanya Liza memicingkan matanya terhadap Faiz yang duduk di samping Wardah.

__ADS_1


“Adik kakak, kamu kapan mau main ke rumah kakak?” tanya Wardah.


“Pengennya hari ini, tapi Liza belum pulang ganti baju,” jawab Liza lesu.


“Nanti kakak pinjami kalau mau bareng sama kakak sekalian. Tapi izin dulu sama Ayah kamu,” ujar Wardah.


“Siapp Bos!” jawab Liza dengan semangat.


Tentu saja Liza kegirangan. Ia ingin segera belajar dengan istri mantan laki-laki yang disukainya dulu. Iya dulu, sebab sekarang ia hanya menganggap Eza dan Wardah sebagai kakaknya. Justru Liza kembali penasaran pada laki-laki yang mengaku sebagai adik dari Wardah. Tampan, tapi cukup pendiam menurutnya.


Liza bergegas meminta izin kepada Papa-nya yang kini tengah mengobrol dengan Eza. Tampak raut wajah heran saat Liza mengutarakan maksudnya. Tapi akhirnya Sang Papa mengizinkannya. Liza kembali kemeja Wardah bersama Eza. Dan mereka langsung pamit pulang.


Eza dan Wardah ada dikemudi depan. Sedangkan Liza dan Faiza da di kursi belakangnya. Liza melirik kea rah Faiz yang sedari tadi diam membisu. Laki-laki itu hanya berbicara jika menanggapi Wardah ataupun Eza. Bahkan laki-laki itu sama sekali tak menengok ke arah Liza.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2