
Tak terasa ziarah berjalan sudah berjalan selama 5 hari. Kini posisi mereka berada di kota Yogyakarta. Kota Keraton. Belum sampai, tapi hampir sampai. Anisa dan Farhan tampak menikmati perjalanan hari ini dari kamar mereka.
Ntah kenapa rasanya remuk badan ini. Setelah tadi malam tak bisa tidur. Gegara kondisi jalan yang bergelombang dan rusak. Anisa juga sudah kesekian kalinya mengeluh kecapaian. Bagaimana dengan keadaan mereka yang menggunakan bus dengan fasilitas biasa? Woaahh! Mantap!
Di tambah dengan rute tepat di kawasan gunung muria. Dari tempat parkiran, menuju lokasi makam harus menggunakan jasa ojek. Mereka sampai lokasi tepat pada waktu subuh, dengan gerimis yang menemani.
Sampai di depan tempat oleh-oleh, sepertinya itu pasar. Mereka harus menaiki tangga yang tak sedikit untuk sampai di masjid, kemudian makam Walisingo Sunan Ampel.
Beberapa kali Anisa meminta untuk istirahat, ntah kenapa ia cepat sekali kecapaian. Padahal ini bukan kali pertama ia kemari. Tapi, ini kali pertama ia sering mengeluh karena kecapaian. Farhan tentu saja tak tega melihat sang istri seperti itu. Berulang kali ia menawarkan untuk menggendongnya, tapi selalu ditolak. Barulah ketika selesai ziarah, ia bersedia untuk digendongnya.
Tenang, keuwuan mereka tak dilihat oleh para rombongan kok. Karena Anisa meminta untuk berjalan di akhir rombongan. Agar tak menjadi pusat perhatian. Yaaa, meskipun para pengunjung pasar tetap menyoroti mereka berdua. Anisa benar-benar tak kuat, jika harus berjalan sejauh itu dengan tangga yang lumayan tinggi.
.
.
.
Dua sejoli itu, kini tengah rebahan di atas tempat tidur dengan Anisa yang berbantalkan dada bidang sembari memeluk Farhan. Tak lupa tv yang menyala dengan oppa dan nona korea yang menghiasi. Farhan dengan legowonya mengikuti wanita yang sedang dalam keadaan mood manjaa...
"Mas mau ambil cemilan dulu Yank," Ujar Farhan lembut.
"Nggak boleh, nanti ajah," Jawab Anisa semakin mengeratkan pelukannya.
"Kamu kenapa sih Yaank?" Tanya Farhan ambigu.
__ADS_1
"Shyuuutt, diem! Aku gak denger, oppa itu ngomong apa!" Protes Anisa.
"Kayak paham aja apa yang di omong! Padahal lihat subtitle," Batin Farhan.
Jadilah Farhan mengamati film bucin yang disuguhkan padanya itu.Betapa kagetnya Farhan ketika Anisa menyuapinya cemilan. Sejak kapan istrinya memegang cemilan yang hendak ia ambil tadi?
Sepanjang jalan Anisa dan Farhan hanya berbaring di tempat tidur itu. Hingga seseorang mengtok papan pembatas yang tertutup gorden.
"Anisa? Udah sampai Jogja nih!" Seru Wardah.
"Ha? Iya? Kok gak kerasa ya. hehehe, oke Dah aku siap-siap sama Mas Faridz dulu," Teriak Anisa sembari bangkit dari tidurnya.
Anisa bergegas mengambil jilbab dan segera ke kamar mandi. Mukanya begitu lucek. Minyak betebaran di wajahnya. Tak apalah, menambah kesan gliwing. Wkwkwk.
Tujuan pertama, mereka adalah Masjid Kauman dan Makam Syekh Jumadil Kubro. Barulah setelah itu berpindah lagi, para rombongan diberi waktu untuk refresing di Malioboro. Tempat itu tak pernah tertinggal untuk dikunjungi. Sekaligus Anisa dan Farhan berkunjung ke rumah Mbah Kakung dan Mbah Uti.
Kebetulan rumah beliau terletak tak jauh dari sebuah pantai Yogyakarta. Pantai greweng katanya. Mereka berdua juga tak tahu seperti apa pantai itu. Terserahlah, yang penting bisa refresing.
Sembari menunggu jemputan dari Tante Yana, Farhan mengajak Anisa untuk berkeliling Malioboro. Tentu saja Anisa sangat senang. Ia sudah berpesan untuk membeli bakpia coklat. Disinilah mereka sekarang, tengah mengantri untuk membeli bakpia itu. Tentu saja Farhan yang mengantri. Anisa duduk manis di sebuah bangku besi yang memang disediakan dipinggir-pinggir pusat perbelanjaan.
Dimana Wardah dan Cak Ibil? Mereka berdua sudah berpisah dari tadi. Biarlah mereka mengenal satu sama lain. Hehehe. Anggap saja ini kesempatan mereka untuk mendalami raga masing-masing.
"Nih! Udah dapet. Sekalian Mas beliin buat bawaan ke rumah Mbah Kakung dan Mbah Uti." Ujar Farhan duduk di sebelah Anisa. Anisa hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu kenapa? Masih capek banget ya?" Tanya Farhan yang melihat Anisa tampak lesu.
__ADS_1
"Iyaa Mas, rasanya capek banget," Lirih Anisa dengan menyender pada bahu Farhan.
"Mau escreem?" Tanya Farhan.
"Mau!" Seru Anisa.
Escreem memang selalu berhasil merubah mood wanita satu ini. Farhan menggandeng Anisa menyebrangi jalanan yang cukup ramai. Menuju Mall Malioboro. Mungkin karena berada di pusat kota, makanya Mall ini sangat besar. Untung saja food court Mall ini tak jauh dari pintu masuk. Mereka tak harus jauh-jauh menaiki eskalator. .
.
.
Disinilah Anisa dan Farhan sekarang. Pantai Greweng. Mereka telah sampai di pantai itu.Sesampainya di rumah Mbah Kakung, Tante Yana ditodong Anisa untuk segera mengantarkan ke pantai.
Awalnya dicegah oleh Mbah Kakung dan Farhan, tapi Anisa malah ngambek. Oke! Jadinya mereka mengalah. Anisa begitu sensitif kali ini. Wardah dan Cak Ibil tak diajak. Sengaja, Farhan dan Anisa ingin mereka memiliki waktu lebih banyak. Siapa tahu dengan di bus hanya berdua, membuat mereka lebih leluasa.
Jangan abaikan jalanan menuju pantai ini. Farhan harus menggendong Anisa melewati jalanan lumayan terjal. Anisa memang kecapaian. Tapi ia ingin segera melihat pantai yang selalu dibangga-banggakan sang Bapak dari Abinya.
Selalu saja Farhan merasa tak tega melihat wajah kecewa sang istri, jadilah ia menuruti. Begitupun Mbah Kakung, beliau rasanya tak akan pernah berhasil untuk menolak permintaan cucunya itu.
Bersambung....
__ADS_1