Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Kedatangan


__ADS_3

Bagai anai-anai yang tertiup angin. Dalam sekejap bisa berpindah tempat. Kini Anisa dan Farhan telah berada di pusat perbelanjaan Kota Jombang.


Selepas salat asar mereka langsung cuss! Berangkat. Kenapa tak siang tadi? Kek mana sih? Jelas-jelas tadi Anisa kelelahan, Farhan memerintahkan agar beristirahat.


Tak banyak barang yang akan mereka beli. Sebab keperluan lainnya sudah tersedia. Tinggal printilan yang belum sempat membeli.


Sekalian jalan-jalan sore doong! Suasana sore memang cocok digunakan untuk refreshing. Tidak terlalu terik, sehingga lebih nyaman untuk sekedar berjalan-jalan.


Sebelum jalan-jalan menyusuri sorenya kota Jombang, Farhan mengajak Anisa untuk menonton bioskop.


Perdana! Ya, ini pertama kalinya Farhan ke bioskop dengan sang istri.


"Jangan yang horor," Ujar Anisa ketika Farhan memilih-milih film.


"Mau genre apa?" Tanya Farhan.


"Komedi ajah,"


"Komedinya harus nunggu 3 jam lagi sayang, nanti kelamaan nunggunya,” Ujar Farhan lembut. Mengalihkan perhatian Mbak-Mbak yang bertugas. Terlihat dengan jelas raut kekaguman di wajahnya. Tak lepas dari kesadaran Anisa.


"Ya udah, horor aja." Ujar Anisa kemudian merangkul lengan Farhan.


Senyuman bangga hadir di tampang karismatik itu. Dielusnya jemari Anisa kemudian membayar tiket bioskop.


.


.


.


Dua jam berlalu di dalam bioskop. Sekalipun Anisa tak melihat pada layar. Ia hanya meringkuk memeluk Farhan dengan menutupi telinganya.


Pernah sekali ia menjerit dengan syoknya tepat ketika hantu itu muncul dan saat itu juga ia tengah iseng mengintip dari sela-sela dekapan sang suami.


Bukan sengaja. Farhan bahkan tak ada niat sedikit pun sengaja menonton horor. Ia hanya mencari film dengan waktu tayang segera. Maklum! Ia terbiasa mengatur waktu dengan good.


Anisa bagaimana? Jangan ditanya. Ia takut! Tak pernah sekalipun ia melepaskan rangkulannya.


.


.


Sebelum kembali ke rumah, Anisa mengajak untuk makan di luar. Dengan senang hati dong!


Hitung-hitung ini sebagai dinner romantis.

__ADS_1


"Kita pesenin apa buat orang rumah?" Tanya Farhan.


"Emm, apa yaa... Bunda juga mau ke rumah katanya" Sembari membolak-balikkan buku menu.


"Pizza sama cemilan chickme saja Mbak," Ujar Anisa kemudian.


Beberapa waktu yang lalu Bunda sempat menelepon Anisa. Mengabari jika akan menginap di rumah. Karena besok sang menantu kesayangan akan pergi ziarah dengan anaknya.


Oh iya! Mereka dinner-nya selepas salat maghrib di masjid yang mereka lewati hendak ke restoran.


Bukan Anisa jika makan hanya sebentar. Maka dari itu, agar lepas dari kewajiban salat maghrib, mereka melaksanakannya di awal waktu.


.


.


"Alhamdulillah, sampai juga."Ujar Farhan setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah.


"Bunda udah sampai Mas, itu mobilnya," Ujar Anisa dengan sumringah.


"Iya, ayo ke dalam. Jangan lupa belanjaannya," Jawab Farhan.


"Mang Darma, tolong pindahkan mobil ke garasi ya? Sama punya Ayah saya juga," Farhan memberikan kunci mobilnya pada Mang Darma.


.


.


Farhan membawa belanjaan Anisa. Sedangkan Anisa membawa makanan yang dibelinya tadi.


"Assalamu'alaikum," Sapa mereka berdua.


"Wa'alaikumussalam, Ya Allah Sayangnya Bunda udah sampai. Bunda kangen lhoo," Bunda menghampiri Anisa dan memeluknya erat.


"Besok malah udah pergi lagi," Sambung Bunda dengan muka sedihnya.


"Tenang Bun, ziarahnya cuma 5 hari kok. Mungkin kalau lebih, Farhan mau ngajak Anisa jalan-jalan dulu," Ujar Farhan.


"Iyaa, Bunda lagi kangen aja. Yuk ke ruang keluarga," Ajak Bunda.


Begitulah dua keluarga yang dipersatukan melalui ikatan persahabatan dan cinta antara anak. Rumah besan seolah menjadi rumah sendiri. Tak ada kesungkanan sama sekali.


"Anisa siapin makanan dulu ya Bun. Mas Faridz sama Bunda ke sana dulu ajah," Ujar Anisa dan dibalas isyarat Bunda tautan jari telunjuk dengan ibu jari sebagai tanda Oke!


Dengan telaten Anisa menyiapkan di mangkuk-mangkuk cemilan yang dibelinya. Dengan pizza yang tetap berada di kotaknya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Ica kuu!" Sapa seorang perempuan menghampiri Anisa.


"Lho! Wardah! Udah sampai? Ya Allah, kangen bangeeet," Acara peluk memeluk antara dua sejoli itupun tak dapat dihindari.


"Kapan sampainya? Naik apa? Kak Ical jemput kan? Gimana kabarnya?" Anisa memberondong dengan pertanyaan-pertanyaannya.


"Syuuutt, satu-satu tanyanya," Wardah duduk di kursi meja makan sembari melihat Anisa yang tengah menyiapkan makanan.


"Aku tadi sama Mas Aibil naik bus ke sini. Terus dijemput deh sama Kak Ical.Waktu azan maghrib deh aku sampai sini. Eh, ternyata udah ada Bundanya Mas Farhan. Demi apa! Baik banget Niiiss!" Sambung Wardah dengan panjang lebar.


"Iya, Bunda memang baik. Tapi Ibunya Cak Ibil baik juga kan?"


"Alhamdulillah baik banget, Bapak juga baik banget. Tapi Mas Aibilnya yang masih sulit," Ujarnya lirih. Terlihat jelas kesedihan dan beban batin yang dibawa Wardah. Ntah mengapa' Anisa seolah bisa merasakan kesedihan itu,


"Sabar, aku yakin lambat laun Cak Ibil pasti bisa luluh. Semangat sayangkuuu. Kita ke ruang keluarga yuk," Ajak Anisa. Wardah membantu dengan membawa minuman di nampan.


Untung saja ruang keluarga Abi besar. Jadi saat kumpul-kumpul gini gak sumpek. Hahaha.


Anisa memilih duduk di tengah-tengah Farhan dan Bunda setelah Bunda memintanya.


Sedangkan Wardah duduk di samping Cak Ibil dan Umi.


Alhamdulillah Anisa memesan makanan lebih banyak. Tak menyangka jika sahabatnya akan datang secepat itu.


"Bunda bawa Jacy sama Jeje lho! Bunda nungguin kamu pulang gak pulang-pulang," Ujar Bunda mengelus jemari Anisa.


"Bunda berlebihan dah! Baru aja 5 hari ditinggal udah kangen. Lebay," Canda Farhan.


"Diam Han! Nanti kamu di sembur. Lagi sensitif Bundamu," Sambung Ayah yang dibalas kekehan Abi.


"Sendiko dawuh Bunda, Ayah," Farhan membungkuk bak tengah sungkeman.


Jangan lupa dengan dedek bayi Kak Ical yaa. Dia juga ikut nimbrung dengan kata-kata abstraknya. Suasana malam ini tampak semakin mencair dengan lancarnya. Canda tawa, cerita-cerita menjadi satu. Cak sesekali ikut nimbrung juga. Sedangkan Wardah Tengah memangku dedek bayi. Ia berpindah duduk di dekat Kak Aisy.


Tanpa rasa malu, Jilbab Anisa tampak dielus oleh Bunda. Anisa sejak tadi memang merebahkan kepalanya di pangkuan Bunda.


"Jangan terlalu manja Neng," Tegur Abi pada Anisa.


"Biarin to! Aku malah seneng kok." Sanggah Bunda.


"Ya gitulah Bi, anak Bunda sudah dialihkan pada istri dari anaknya sendiri," Ujar Farhan dengan ekspresi yang dibuat-buat sedih.


"Hallah! Mas yang lebay gitu!" Sambar Anisa.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2