Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Jakarta 1


__ADS_3

Selepas sholat isya' para mahasiswa asing dan pendampingnya makan malam bersama di kantin hotel.


Para mahasiswa tampak menikmati makanan asing yang baru saja mereka temui.


"Bagaimana menurut kalian makanan Indonesia?". Tanya Anisa.


"Emm, sedikit aneh. Tapi rasanya enak". Jawab Rukhin.


"Makanan seperti ini yang akan kalian makan selama di Indonesia". Sambung Anisa.


"Kami harus membiasakannya. Kalau tidak, pasti kami mati kelaparan". Canda Jasyi.


Disambut tawaan mereka yang ada disana. Setelah menikmati hidangan makan malam, mereka dipersilahkan untuk istirahat. Sebab esok sudah harus menuju Jombang.


*Kamar Anisa dan Bu Reza


"Kamu kalau dirumah biasanya tidur awal apa gak Nis?". Tanya Bu Reza yang sedang berdandan di meja rias.


"Emm, kalau lagi banyak kerjaan ya nglembur mbak. Tapi kalau lagi senggang ya awal". Jawab Anisa yang sedang menyender di kepala ranjang sambil membaca buku.


"Kamu gak mau perawatan wajah dulu sebelum tidur?". Tanya Bu Reza.


"Gak biasa mbak, hehehe". Jawab Anisa.


TOK! TOK! TOK!


Seseorang mengetuk pintu.


"Siapa ya?". Ujar Anisa dengan membuka knop pintu.


Jasyi dan Akira melambaikan tangan pada Anisa.


"Kalian? Ada yang bisa dibantu? Mari masuk". Tanya Anisa.


"Kami mau minta pakaian yang sudah kakak sediakan". Ujar Jasyi sambil mengikuti Anisa masuk.


"Oh iyaa, silahkan duduk dulu. Kakak ambilkan yaa". Anisa bergegas membuka kopernya dan mencari pakaian.


"Hallo, tunggu kak Anisa cari pakaian kalian dulu yaa". Ujar Bu Reza menghampiri Jasyi dan Akira.


"Iya bu. Saya sempat tidak mengenali ibu saat tidak memakai hijab". Ujar Akira.


"Oh iyaa, saya memakai hijab saat diluar saja. Didalam ruangan seperti ini tidak. Kecuali kalau didalam ruangan sedang ada lawan jenis". Jelas Bu Reza.

__ADS_1


"Kenapa bu?". Tanya Jasyi.


"Tidak apa-apa, sudah kebiasaannya seperti ini". Jawab Bu Reza.


"Nah! Ini pakaian kalian. Bagaimana? Kalian keberatan?". Tanya Anisa.


"Tidak kak, kami sudah menyetujui seluruh persyaratan kontrak. Jadi kami harus mematuhinya". Jawab Jasyi dan diangguki Akira.


"Alhamdulillah, Lama-lama kalian akan terbiasa". Ujar Bu Reza.


"Ya sudah bu, kami kembali ke kamar. Selamat malam". Pamit Jasyi dan Akira.


"Selamat malam". Jawab Anisa dengan mengantarkan mereka keluar kamar.


Anisa dan Bu Reza bersiap untuk tidur.


"Kamu gak berencana tidur dengan memakai jilbabkan Nis?". Tanya Bu Reza.


"Tidak bu, ini saya mau melepasnya". Ujar Anisa. Setelah itu mereka lekas tidur. Tak ingin jika esok hari harus terburu-buru karena kesiangan.


Prov Farhan.


Alhamdulillah, jadwal keberangkatan ditunda. Akhirnya aku masih bisa mengajak para mahasiswa berkeliling di Jakarta. Bukan para mahasiswa yang menjadi garis bawah sebenarnya. Akan tetapi Anisa. Wkwkwkwk



Pada saat sarapan para mahasiswa semua telah kuberi tahu tentang penundaan keberangkatan. Dan mereka tampak sangat gembira saat aku mengumumkan kegiatan study banding perdana di tempat wisata Jakarta.


Kami berkumpul di loby hotel dan berangkat menggunakan bus khusus. Pertama yang kucari saat sampai loby adalah Anisa. Kapan sih anak itu tampil biasa saja? Percuma. Walaupun tampil biasa tetap terlihat elegan menurutku.



Kami memasuki bus. Tujuan awal kami yaitu monas. Sebelum berangkat, para mahasiswa begitu penasaran dengan monas. Maklum, ini perjalanan perdana mereka berkunjung ke Indonesia.


"Nah! Dihadapan kalian itu adalah monas. Bagaimana?". Ujar Anisa pada para mahasiswa setelah sampai.


"Luar biasa kak. Akhirnya saya bisa melihatnya secara langsung". Ujar Rukhin.


Yang lainnya kulihat juga tak kalah terkagum-kagum melihat monumen yang satu ini.


"Mas, kita cuma lihat luarnya?". Tanya Anisa padaku.


"Ya nggak lah...". Jawabku.

__ADS_1


"Ayo kita masuk". Ajakku.


"Boleh pak?". Tanya Hasan.


"Ayo ikuti saya saja". Jawabku.


Aku mengajak mereka ke museum yang ada di monas. Senang sekali melihat mereka tersenyum gembira dengan melihat-lihat sejarah-sejarah yang ada di museum.


Ku hampiri Anisa yang tengah melihat salah satu monumen kemerdekaan.


"Udah pernah kesini sebelumnya?". Tanyaku.


"Udah, tapi cuma diluarnya ajah". Jawab Anisa dengan senyum manisnya.


"Setelah dari museum, kita ke puncaknya yuk mas? Aku pengen tahu". Mohon Anisa padaku. Duuuh, betapa imutnya dia.


"Gak ah. Males". Jawabku menggodanya.


Kulihat ia mengerucutkan bibirnya dan meninggalkan ku seorang. Rasanya ingin ku cubit pipi cuby nya.


"Kita ke puncak?". Tawarku pada para mahasiswa yang kebetulan berkumpul. Kulihat Anisa berbinar dan tersenyum kepadaku ketika mendengar aku menyetujui keinginannya.


"Dengan senang hati pak". Jawab Jasyi.


Kami pergi ke lantai 2 monas untuk mencari lift.


"Makasih mas". Ujar Anisa ketika berjalan beriringan.


"Saya gak ngajak kamu lho". Godaku.


"Hallah. Tega banget ninggalin anak Abi yang cantik ini sendirian". Jawabnya.


"Saya terpaksa ngajak kamu. Ntar kalau kamu hilang bisa dibunuh saya sama Abi". Jawabku.


"Dasar". Ia meninggalkanku.


Sesampainya dipuncak, kami menikmati pemandangan kota Jakarta. Sesekali kami para pembimbing sekaligus tutor mengajak mahasiswa belajar mempraktekkan bahasa Indonesia yang telah mereka kuasai.


Mereka kami tantang untuk berkomunikasi dengan pengunjung menggunakan bahasa Indonesia. Tentunya dengan pengawasan kami. Lucu melihat mereka sesekali kebingungan menentukan kosa kata.


Walaupun kebingungan, mereka tetap happy. Mereka menikmati jalan-jalan sambil belajar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2