Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Mencari


__ADS_3

Eza dan Wardah ada dikemudi depan. Sedangkan Liza dan Faiz ada di kursi belakangnya. Liza melirik ke arah Faiz yang sedari tadi diam membisu. Laki-laki itu hanya berbicara jika menanggapi Wardah ataupun Eza. Bahkan laki-laki itu sama sekali tak menengok ke arah Liza.


Faiz hanya menimpali percakapan Wardah dan Eza. Faiz yang notabenya laki-laki pendiam dan jebolan pesantren, lebih cenderung pendiam dan cuek dengan orang asing. Berhubung Faiz dan Liza tak saling kenal, harap maklum saja jika dirinya tak mempedulikan kehadiran Liza.


Sampai di mansion, Faiz mengamankan barang-barang belanjaan keperluan ospek di kampus. Sebelum makan, mereka memang sempat berbelanja keperluan Faiz terlebih dahulu.


Faiz hendak mengerjakan tugasnya di pendopo belakang, saat keluar pintu, ternyata sudah ada Kak Wardah dan perempuan yang bersama mereka tadi di sana. Faiz sempat memandang ke arah Liza yang kini sudah mengenakan dress tertutup dengan jilbab yang tersampir menutup sebagian rambut indahnya.


Sadar dengan arah pandangnya, Faiz lekas berbalik kembali ke dalam.


"Faiz, minta tolong ambilin cemilan di dapur," ujar Wardah saat melihat Faiz hendak keluar ke taman belakang tapi tak jadi.


Faiz mengangguk kemudian berlalu masuk ke dalam. Jangan lupakan Liza yang menatap Faiz tanpa berkedip. Sungguh ciptaan Allah yang sangat luar biasa.


"Cuek banget sih Kak, adiknya?" tanya Liza.


"Biasanya juga nggak gitu, gara-gara ada kamu aja tu jadi dingin," jawab Wardah.


"Lha kenapa? Gugup yaa lihat aura kecantikan aku?" tanya Liza dengan tingkat ke-PD-an yang amat tinggi.

__ADS_1


"Hidihh, PD banget anak ini," gumam Wardah.


Faiz ke dapur mencari-cari cemilan yang pas. Tapi tak tahu. Cukup lama Faiz berkutat di depan kulkas yang teramat dingin seperti sikapnya, tapi tak juga ada yang diambilnya.


"Nyari apa Iz?" Tanya Bunda yang tiba-tiba datang bersama Inayah.


"Kak Wardah minta tolong ambilin cemilan Bun, tapi bingung yang mana ini,". Jawab Faiz.


"Sini biar Bunda aja yang ambilin. Kamu bantuin Eza bersihin taman depan gih!" ujar Bunda.


"Siap Bun!" jawab Faiz.


Antara senang dan kecewa, pasalnya ia ingin melihat Liza lagi. Tapi ia terselamatkan pula dari kegugupan saat memberikan cemilan. Jadilah yang mengantar cemilan Bunda.


Fokus Liza kini tertuju pada sosok laki-laki yang sedari tadi mengusik pikirannya. Kenapa tak ada di meja makan?


"Sering-sering main ke sini Liz," ujar Mama pada Liza. Itu juga sukses membuyarkan lamunannya.


"Hehe, iyaa Tante," jawab Liza.

__ADS_1


Bunda yang tak melihat Faiz di meja makan meminta kepada Wardah untuk memanggilnya. Wardah juga heran, biasanya anak itu tak harus dipanggil. Kenapa kini tak ada?


Dipanggilnya Faiz ke kamarnya. Ternyata sang empunya tengah menyiapkan barang-barang perlengkapan ospek di universitasnya. Pantas saja diketok pintunya tak menyahut, ternyata masih fokus. Wardah masuk dan berjongkok di samping Faiz duduk.


"Kak Wardah?" kaget Faiz.


"Udah ditungguin yang lain di meja makan," ujar Wardah mengambil potongan kertas memasukkannya ke dalam tempat samah.


"Iyaa kak, bentar lagi kelar," jawab Faiz.


Sentuhan terakhir untuk atribut ospeknya, akhirnya selesai juga. Faiz mengikuti Wardah ke ruang makan. Keluarga yang lain sudah mulai makan tinggallah Faiz dan Wardah yang baru datang.


"Malamm..." sapa Faiz dengan senyuman manisnya.


"Ayo makan Iz! Habis ini langsung ke masjid," ujar Eza.


"Iyaa, kamu bantuin Kak Eza ngajar ngaji anak-anak ya Iz," sambung Faiz.


"Iyaa Pa," jawab Faiz yang kini sudah memanggil Papa Eza dengan sebutan itu. Meski sebenarnya masih tak terbiasa.

__ADS_1


Faiz melihat tempat duduk yang tersisa hanya satu. Yaitu di sebelah Liza dan Bunda. Mau tak mau, Faiz duduk di sana.


...Bersambung...


__ADS_2