
Aroma obat-obat cukup merebak di ruangan ini. Anisa kini sudah dibawa ke rumah sakit untuk persalinannya. Dengan telaten Farhan menyiapkan keperluan sang istri dibantu Bunda dan Umi. Sedangkan Anisa masih sibuk menelepon Wardah.
Tapi sayangnya yang ditelepon belum kembali ke Jombang. Tak apalah, yang terpenting sang suami setia menemani. Eaakkk!
Bukan Wardah yang datang, tapi kejutan lain yang hadir. Caca sudah sampai di Jombang mendapatkan utusan dari Mama Sarah dan Bunda Wardah untuk mengurus acara lamaran. Sekaligus melihat sahabat lamanya melahirkan si kembar.
Anisa sudah meringis sedari tadi menahan rasa sakitnya. Keringat sudah bercucuran memberitahukan jika rasa itu amat sangat sakit. Anisa mencoba sekuat tenaga untuk bertahan. Air matanya tak dapat dibendung lagi. Umi dan Bunda sudah mencoba untuk tak meneteskan air mata meski sebenarnya ingin menangis melihat Anisa menangis.
Anisa mulai menangis saat meminta maaf dengan Umi Abi dan orang-orang yang ada di ruangannya. Bayangan surga seolah-olah sudah ada di hadapannya. Tapi ia masih ingin bersama keluarganya. Ia ingin membesarkan bayi besarnya. Ia tak henti-hentinya mengumandangkan kalimat dzikir berharap tak terjadi hal yang serius nantinya.
Farhan? Jangan ditanyakan lagi. Sedari tadi Farhan menggenggam jemari Anisa dengan erat, mengelus kepala sang istri dan menyeka peluh dan air mata yang terus menerobos dengan lancarnya. Ia kasihan melihat sang istri seperti itu. Berbagai doa sudah ia bacakan sedari tadi. Bahkan ijazah doa untuk kelancaran persalinan dari Abah Kyai juga ia baca berulang kali.
"Nah! Pembukaannya sudah pas ya Ibu, kita mulai sekarang ya?" ujar sang dokter yang baru saja masuk ke ruang persalinannya. Mereka yang menunggui Anisa diminta untuk keluar. Tinggallah Farhan di sana yang masih setia memberikan semangat untuk sang istri.
...****************...
Farhan terus membacakan doa sembari mengelus, mencium, dan memeluk Anisa saat ia mulai mengejan dibantu oleh sang dokter. Hingga kini akhirnya, alhamdulillah dua anak laki-laki sudah terlahir di dunia. Welcome to word boys!
__ADS_1
Farhan menangis tersedu melihat kedua anaknya itu. Eza mulai mengadzani bayinya dan membacakan doa kepada mereka. Farhan memeluk Anisa erat. Diciuminya seluruh wajah Anisa sampai tak ada celah. Bahkan kini Anisa hanya bisa tersenyum sangat lemah menanggapi Farhan. Tenaganya sudah terkuras habis.
"Terima kasih sayang... Terima kasiih Bia sayaang," lirih Farhan tak henti-hentinya ia menciumi Anisa. Tangis bahagia mereka kini yang tengah mereka rasakan.
Farhan kini mencoba meletakkan dua bayinya di atas dada Anisa. Anisa yang sedari tadi merengek untuk memeluk sang buah hati. Dengan hati-hati dibantu dokter akhirnya berhasil juga. Senyum sumringah Anisa mulai terpancar melihat dua bayinya yang kini tengah tertidur pulas.
Farhan memfotonya kemudian mengirimkan pada Wardah. Bunda Farhan, Umi, Ayah, Abi, dan Bunda Wardah masih setia menungguinya. Sedangkan Mbah Kakung dan Mbah Uti tampaknya tadi tengah check up atas tawaran Abi.
Wardah tadi sempat mengabari jika rak bisa pulang sekarang karena masih ditahan oleh Kyai Eza. Ya mau bagaimana lagi. Sudah Anisa duga, pasti akan seperti itu. Karena dulu ia juga seperti itu.
"Assalamu'alaikum!" sapa seseorang dari ruang rawat Anisa. Ya! Anisa kini telah dipindahkan di ruang rawat.
"Waalaikumussalam,"
"Caca!" ujar Anisa dan Bunda Wardah bersamaan. Sedangkan yang lain hanya diam, mungkin karena wajah Caca yang berubah setelah sekian lama.
__ADS_1
"Teman kamu waktu mondok dulu Sayang?" tanya Umi.
"Iya Mi, Caca," jawab Anisa.
Caca tak memberi tahu Bunda jika ia berangkat sekarang ternyata. Pantas saja Bunda kaget dengan keberadaan Caca. Anisa tampak memperkenalkan Caca dengan yang lain. Kemudian Caca memperkenalkan Hito pacarnya yang datang bersamanya.
Hito tentu saja sangat canggung kali ini. Tak ada yang ia kenal kecuali Bunda Wardah dan Caca. Tapi Caca malah asik kangen-kangenan sembari melihat dua bayi lucu di sana. Farhan yang melihat gelagat kecanggungan di wajah Hito langsung menghampirinya dan mengajak keluar untuk ngopi di kantin. Tak dapat dipungkiri, Farhan mengantuk sekali sekarang. Semalam ia benar-benar tak bisa tidur memikirkan Anisa yang tidur bersama Wardah.
Sesekali ia juga membantu Wardah yang menggandeng Anisa jika ingin ke kamar kecil.
"Kita di teras masjid aja Mas, kalau di kantin rame," ujar Farhan. Hito mengikuti Farhan. Akhirnya pesanan kopinya mereka bawa di teras masjid rumah sakit.
"Panggil Hito saja Mas. Sepertinya Mas Farhan ini lebih di atas saya deh, hehehe," jawab Hito.
"Siap-siap, memang sayanya udah menjelang tua. Hahaha," celetuk Farhan.
Akhirnya mereka terlibat dengan perbincangan-perbincangan yang cukup panjang. Hito juga sudah mulai tak begitu sungkan dengan Farhan. Mereka memilih duduk di teras masjid karena memang tak jauh dari ruang rawat Anisa yang sengaja Farhan pilih di lantai dasar.
__ADS_1
Jangan ragukan dengan fasilitasnya, karena kamar rawat ini merupakan vvip. Tak berselang lama, bergabunglah Ayah, Abi, dan Mbah Kakung di sini. Obrolan mereka semakin panjang sepertinya. Sedangkan rombongan ibu-ibu masih setia di dalam ruang rawat Anisa.
...Bersambung ...