
Masih berada di hotel tempat berlangsungnya acara pertunangan Pak Haris dan Bu Anggun. Anisa dan Farhan kini tengah menyimak sambutan dari paman Bu Anggun. Ya! Ternyata yang mewakili Ayah Bu Anggun adalah Pamannya sendiri.
“Adek ke kamar mandi dulu Mas,” ujar Anisa.
“Mas antar ya?” pinta Farhan.
“Gak usah, kan Cuma di samping situ. Adek sendiri aja ya,” jawab Anisa.
“Pokoknya Mas antar,” ujar Farhan tak mau dibantah. Akhirnya Anisa mengalah.
“Pak Farhan!” langkah Farhan dan Anisa terhenti.
“Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?” jawab Farhan kepada salah satu dosen di universitasnya.
“Mohon maaf mengganggu. Emm, di sana ada wali mahasiswa yang ingin bertemu Bapak,” ujarnya sedikit ragu, takut jika mengganggu waktu Farhan. Farhan melihat ke arah para dosen duduk. Iya, di sana ada seperti sepasang suami istri tengah memandangi Farhan dengan penuh harap diizinkan untuk bertemu. Farhan mengalihkan pandangannya pada Anisa.
“Ndak papa Mas, Mas ke sana saja. Adek sendiri gak papa,” ujar Anisa dengan mengelus tangan Farhan.
Hufftt! “Ya udah , Adek hati-hati. Mas ke sana dulu ya?” jawab Farhan. Anisa mengangguk.
“Assalamu’alaikum,” pamit Anisa.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Farhan.
Anisa segera berlalu ke toilet. Tak betah rasanya menahan. Di toilet tak begitu mengantri. Ya mana mungkin hotel bintang lima hanya menyediakan kamar mandi kecil dan sedikit. Hahaha.
Keluar dari WC baru terasa sepinya. Ternyata tinggal ia sendiri disini. Untung saja Anisa buka seorang yang penakut. Kecuali ketika mati lampu pastinya. Anisa bukan perempuan yang akan takut akan makhluk-makhluk astral. Anisa menyempatkan diri untuk merapikan riasannya walaupun sebenarnya tak berantakan. Setelah dirasa cukup, ia segera ke tempat acara kembali.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
“Sekali lagi saya ucapkan Terima kasih Pak Rektor. kalau begitu, saya pamit undur diri,” pamit Wali mahasiswa yang tadi ingin bertemu denganku.
“Iya Pak, sama-sama. Monggo,” jawabku.
Sudah tak heran jika ada wali santri ingin bertemu denganku. Sebenarnya mereka hanya ingin berterima kasih karena sudah membimbing anak-anak mereka di universitas. Padahal itu semua bukan murni karena aku sendiri. Justru itu berkat kerja keras dan kerjasama kami para akademika universitas. Tak tanggung-tanggung mereka terkadang juga berkeluh kesah atas anaknya dan terkadang meminta solusi. Apa dipikir aku ini psikiater? Hahaha, ya sudahlah. Yang jelas kami pihak universitas akan memberikan yang terbaik untuk para mahasiswa.
Oh iya, apa Anisa belum kembali dari kamar mandi ya? Kenapa belum terlihat batang hidungnya? Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Atau ia ketempat prasmanan? Kulangkahkan kakiku ke tempat makanan tersaji. Tapi edaran pandanganku belum menemukan dimana ratuku.
“Pak Farhan, sekali lagi terima kasih telah hadir di acara kami. Oh iya, Bu Anisa mana ya?” ujar Pak Haris yang menghampiriku bersama Bu Anggun.
“Iya sama-sama Pak, Bu, saya juga tidak tahu dimana istri saya. Tadi pamitnya ke kamar mandi, tapi belum kembali juga,” jawabku.
“Mungkin masih antri Pak di toilet,” ujar Bu Anggun.
“Iya mungkin, saya coba cek istri saya dulu Pak, Bu. Oh iya, sekalian saya mau pamit undur diri. Acaranya sudah selesaikan ya?” Pamitku. Perasaanku mulai tak karuan memikirkan Anisa.
"Berarti Bapak tidak ikut mencicipi hidangan kami?" tanya Pak Haris.
"Sekali lagi saya mohon maaf Pak, sepertinya saya langsung pulang saja," jawabku. Sebenarnya tak enak jika langsung pergi. Tapi bagaimana lagi.
“Saya permisi, assalamu’alaikum,” pamitku.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Bu Anggun dan Pak Haris.
Sekali lagi ku edarkan pandanganku dan berkeliling di ruang acara ini untuk mencari Anisa. Kemana dia? Tasnya ada denganku. Itu berarti ia tak membawa handphone. Aku berlari menuju toilet wanita. Tak mungkin aku masuk! Bagaimana ini?
“Permisi Bu, mohon maaf mengganggu waktunya sebentar. Saya ingin meminta pertolongan Ibu,” ujarku pada Ibu-Ibu yang baru saja keluar dari toilet.
“Ada apa nak?” tanya Ibu itu. Sepertinya ia tak tega melihat raut wajahku yang panik ini.
“Saya tengah mencari istri saya Bu, sudah setengah jam tapi belum kembali dari toilet ke tempat acara sama sekali. Saya minta tolong agar Ibu mengecekkan istri saya di toilet ini. Saya tidak mungkin masuk ke toilet perempuan Bu,” jelasku panjang lebar.
“Coba lihat fotonya,” ujar sang Ibu. Aku segera membuka handphone ku dan membukanya. Tepat pada wallpaperku.
__ADS_1
“Ibu tadi sempat melihatnya keluar dari toilet waktu Ibu hendak masuk kesini. Saya yakin kok itu dia. Mungkin ia sudah ditempat acaranya. Coba kamu cek lagi,” ujar Ibu itu.
DEG! Kemungkinan-kemungkinan buruk mulai bermunculan di otakku. Sudah tiga kali aku mengelilingi tempat acara itu dan tak kutemukan sama sekali istriku yang cantik dan manisnya masyaallah. Tidak! Aku harus berfikir positif.
“Terima kasih atas informasinya Bu,” ujarku lirih.
“Iya Nak, lekas carilah. Jika perlu kamu keruang pengecekan CCTV. Ibu permisi,” jawab sang Ibu kemudian berlalu. Aku menunduk hormat pada beliau.
Pikir! Pikir! Ayo berpikir Farhan! Apa iya aku harus mengecek CCTV? Aku berlari mencari tahu dimana pusat pengendali CCTV.
Siapa mereka? Dua orang berbaju hitam telah membawa Anisa yang tak sadarkan diri. Sial!
Mana mungkin hotel semegah ini tidak bisa mendeteksi adanya kejanggalan dalam tingkah laku penyusup. Bisa-bisanya CCTV luar hotel tak berfungsi!
Iya! Aku melupakan satu hal yang sangat penting. Segera ku buka handphone ku dan berselancar melacak GPS yang kupasang di jam tangan Anisa. Alhamdulillah! Segera kulacak dimana ia sekarang.
Astaghfirullah! Apa-apaan ini? Kalimantan! Aku harus hubungi Ical!
“Sial! Kita kecolongan! Lebih baik kamu segera pulang! Aku dan Abi segera ke rumahmu. Kita susun rencana,” ujarnya setelah ku ceritakan duduk permasalahannya.
“Sebaiknya aku langsung menuju bandara Cal!” ujarku.
“Jangan membantah! Jangan gegabah Farhan! Cepat pulang sekarang! Atau aku coret kamu dari daftar adik iparku!” teriaknya dan langsung mematikan sambungan telephone sepihak.
Apa-apaan dia ini! Bisa-bisanya mengancamku dengan mencoret dari daftar adik ipar. Bagaimana aku menjelaskan pada Abi dan Ayah? Pasti mereka akan sangat murka kepadaku. Kulajukan mobilku dengan kecepatan penuh menyusuri jalanan Jombang. Yang jelas aku harus segera sampai di mansion sebelum Ical datang! Eh! Kenapa aku jadi takut jika dicoret dari daftar adik ipar? Ia pasti hanya bercanda! Ayo Farhaaan! Fokus! Anisa sekarang pasti sangat ketakutan! Kenapa kamu bisa teledor Farhan! Harusnya kamu ikuti terus kemana pun istrimu pergi Farhan! Bodohnya aku! Kenapa aku tak memerintahkan bodyguard untuk mengawasi!
AAAAAKKHHHHH!
Tak akan ku biarkan kalian lolos!
"Hallo! Usut ada campur tangan apa antara hotel itu dengan sahabat tak tahu diri itu!" Tegasku dibalik sambungan telepon.
Bersambung......
Kalian Lhu-Lhu buat pinisirin dulu yaaa!!!!
Hehehe, maapkan jika tak nggenah ceritanya! :”)
Maklum, baru belajar nulis!
__ADS_1