Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Ghibah


__ADS_3

Sebuah peluru bersarang di kulit mulusnya. Tepat di pergelangan tangannya yang hendak menembak Anisa. Ia merintih kesakitan. Polisi yang ada di belakang Farhan segera memborgol Anggun. Farhan segera menghampiri Anisa dan memeluknya erat.


“Maafkan, maafkan Mas sayang... Aku sudah membuatmu celaka sayang,” Ujar lirih Farhan. Tak henti-hentinya ia meminta maaf pada Anisa.


Nyaman dan tenang, itulah yang kini dirasakan Anisa. Tak ada perasaan takut sedikit pun jika sudah berada di dekat suaminya. Imah kini hanya melongo melihat drama romantis yang ada di hadapannya.


“Ganteng banget ya Allaah, aku mengagumi makhlukmu yang sudah beristri ya Allah,” lirihnya. Pandangannya tak teralihkan dari wajah tampan nana rupawan Muhammad Farhan Alfaridz.


“Ada yang lebih membutuhkan pertolongan Mas,” lirih Anisa. Ia sedikit melonggarkan pelukan Farhan.


Farhan memandangnya dengan bingung. Bukakankah kini istrinya yang di ambang bahaya? Mata Anisa tertuju pada Bu Gina yang berada di ranjang. Masih setia menutup matanya.


“Mas sudah siapkan ambulan di depan, kita bawa Ibu itu dan Pak Haris ke rumah sakit,” ujar Farhan.


“Bagaimana dengan Om Surya?” tanya Anisa.


“Sudah tuntas. Ayah dan Abi sudah meluruskannya, beliau bersedia di hukum untuk menebus kesalahannya,” Jawab Farhan.


Beberapa tim medis segera membawa Ibu Gina menuju ambulan. Sedangkan Anisa dan Farhan masih setia duduk di sebuah sofa ruang keluarga rumah itu.


“Abi dan Ayah tidak salah sayang, Om Surya hanya salah paham. Beliau mendengar isu tak benar dari orang-orang tak bertanggung jawab. Sebenarnya Ayah maupun Abi sudah menyiapkan bagian perusahaan untuk Om Surya. Tapi beliau selalu saja menolak saat Abi atau Ayah hendak menjelaskannya. Yaa, walaupun tak sebanyak bagian Ayah dan Abi. Itu sudah adil melihat perbuatannya tempo dulu yang menggelapkan dana perusahaan mereka,” jelas Farhan panjang lebar.


“Kita pulang yuk!” Ajak Anisa. Farhan mengangguk dan menggandeng Anisa menuju mobil. Disana sudah ada Ayah dan Abi.


“Kangen-kangenan masih bisa di rumah Han, gak kasihan apa lihat kami nungguin di sini,” sindir Faisal.


“Kak Ical apaan sih! Gak khawatir apa adiknya di culik,” Sanggah Anisa. Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil.


“Kalau gak khawatir ya gak mungkin Kakak di sini dek,” ujar Faisal setelah Anisa dan Farhan masuk. Saat ini di dalam mobil hanya ada Ical, Farhan, Anisa, dan asisten Ical di kantor yang kini tengah mengemudikan mobil.


“Jangan kotorin kaca sepion ini dengan kemesraan kalian, mentang-mentang gak ada Abi,” Ujar Ical dengan menunjuk kaca spion tengah mobil.


“Sewot banget dah lu! Mesra-mesraan sana ama Rendi,” Jawab Farhan.


“Gua masih normal, bini gua lebih nyata dari pada Rendi,” jawab Ical ngawur.


“Jadi, Bu Anggun itu anaknya Om Surya?” Tanya Anisa. Farhan hanya mengangguk dan tersenyum.


“Ini dimana sih Mas?” Tanya setelah beberapa saat menyusuri jalanan bebatuan khas plosok.


Keadaan yang masih menunjukkan tengah malam membuat suasana lebih mencekam. Jika saat berangkat mereka hanya dikawal oleh para ajudan, kini mereka ditambah oleh para polisi. Di urutan paling depan jalan dan di urutan akhir. Bukan hanya dua mobil polisi, bahkan ada empat mobil polisi. Tak ingin jika ada keadaan buruk kembali menimpa. Wah! Sudah menandingi Pak Presiden saja mereka. Hahaha. Attas ulah siapa polisi itu datang? Tentu saja Anisa yang tadi sempat menelponnya.


“Di jalan yaank,” Jawab Farhan dengan menyenderkan kepala Anisa di pundaknya. Bermaksud agar Anisa beristirahat. Ia yakin beberapa hari ini ia tidak istirahat dengan baik.


“Iiih, Adek tahu ini di jalan... maksudnya di daerah mana? Adek sebelumnya gak pernah lewat daerah seperti ini,” Protes Anisa. Tapi ia tak menolak pundak Farhan. Dipeluknya dada bidang Farhan mencari posisi yang nyaman.


“Kalimantan,” Jawab Kak Ical tiba-tiba. Anisa syok dan langsung duduk dengan tegap.

__ADS_1


“Seriuz?” Tanya Anisa menatap Farhan.


Farhan mengangguk. Anisa memeluk Farhan dengan erat seolah tak ingin melepaskan. Tangisan harunya luntur seketika. Farhan membalas pelukan erat Anisa. Menenggelamkan wajahnya di dada.


“Udah, apapun akan dilakukan untuk menyelamatkan adik kakak yang paling cantik,” Ujar Faisal lembut.


“Tangannya kenapa?” Tanya Farhan memegang pergelangan tangan Anisa yang sedikit memar. Ia baru menyadarinya.


Anisa tersenyum, “Gak papa Mas, udah gak sakit kok,” Jawab Anisa menarik tangannya kembali memeluk Farhan. Farhan tahu istrinya saat ini masih syok dengan kejadian yang menimpanya. Kini Anisa sudah terlelap.


“Kita langsung terbang atau bermalam dulu Cal?” Tanya Farhan pada Faisal.


“Langsung terbang, biar besok pagi sudah sampai rumah. Umi sama Bunda sudah tahu semuanya,” Ujar Faisal.


“Kok bisa?” Tanya Farhan.


“Bunda mengancam supir Ayah mau memecatnya kalau tidak mau kasih tahu Ayah dimana. Kemarinkan supir Ayah juga ikut kita nimbrung cari solusi. Katanya Abi sih gitu,” Jawab Faisal.


“Kok Pak Imam bisa percaya sama ancaman Bunda sih?” Gumam Farhan.


“Namanya juga orang sudah sepuh, pasti panik kalau denger kata-kata dipecat,” Sambar Ical.


“Pasti Umi sama Bunda panik banget. Mbak Aisyah gimana?” tanya Farhan.


“Gak tahu dah, semoga aja Mama bisa nutupin kabar itu dari Aisy,” Jawab Faisal pasrah.


Mereka harus transit di Jakarta terlebih dahulu baru kemudian ke Jombang. Anisa kini tengah bengong memandangi langit berbintang. Bagaimana mungkin ia bisa tidak sadar selama berjam-jam? Bahkan ia menggunakan pesawat sekali pun. Bagaimana cara para penculik itu mengelabuhi pihak maskapai?


“Kenapa Yaank?” Tanya Farhan kembali merebahkan kepala Anisa di dadanya.


“Kok bisa aku tidak sadar selama itu ya Mas?” Ujar Anisa.


“Kalian menggunakan pesawat pribadi. Om Surya menggunakan identitas kepemilikannya yang memang masih terdaftar sebagai salah satu pemilik perusahaan,” Jelas Farhan.


“Lalu, kenapa kita tidak menggunakan pesawat itu?” Tanya Anisa kembali.


“Sedang diamankan sebagi bukti sayaang, sudah, ayo tidur... Subuh kita sampai Jombang,” Ujar Farhan. Anisa akhirnya menurut.


.


.


.


“Demi apa! Mas-Mas yang di kelas bisnis itu ganteng bangeet,” Ujar salah satu pramugari kepada temannya setelah beberapa waktu lalu mengecek penumpang barang kali ada yang memerlukan bantuan.


“Baru tahu lu? Aku dari tadi lihatin dia terus. Kayaknya Mbak itu pacarnya deh,” Jawab Pramugari 2.

__ADS_1


“Selama janur kuning belum melengkung, masih ada kesempatan,” Jawab Pramugari 1 diangguki yang lainnya.


“Ada satu lagi yang ganteng juga lho gaess, manis banget dia,” Ujar salah satu yang lainnya.


“Heh, kalau kita mau sama tuh orang, inget style dong. Pacarnya ajah jlbaban kek gitu, mana mau sama kita yang pakai rok mini kek gini,” Jawab Pramugari 3.


“Jilbab itu gak menentukan perilaku baik seseorang. Lihat aja itu, masak iya jilbaban kok peluk-pelukan,” Jawab Pramugari 1.


.


.


.


Anisa tak bisa tidur lagi kini. Tapi masih merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami. Ia lebih berantusias untuk memandangi langit. Barang kali ia bisa melihat fajar shodiq. Pasti akan indah sekali. Farhan mulai menyadari jika Anisa sudah bangun.


“Mau minum atau makan sesuatu?” Tanya Farhan.


“Mau minum air mineral aja Mas, sama ngemil,” Jawab Anisa.


“Istriku paling unik, baru bangun tidur langsung ngemil,” ledek Farhan.


“Ngeledek dah,”


Farhan memanggil pramugari, “Ada yang bisa dibantu Kak,” Tanya pramugari itu.


“Emm, saya dan istri saya ingin cemilan dan air mineralnya Mbak,” Jawab Farhan.


Terlihat wajah kaget pada pramugari itu, “I-istrii?” Tanya Pramugari itu tergagap.


Farhan dan Anisa memasang wajah bingung. “Ada yang salah Mbak?” Tanya Anisa.


“Oh, ndak Mbak, tunggu sebentar ya,” Jawabnya dengan cepat.


Terlihat dari arah para pramugari duduk, mereka tengah memperdebatkan suatu hal. Sehingga membutuhkan waktu yang lumayan lama Anisa dan Farhan menunggu cemilan mereka.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka sampai juga di bandara Jombang. Walaupun aslinya gak ada Bandara Jombang, anggap ajah ini doa yak, semoga bentar lagi Jombang bangun Bandara. Hahaha.


Bersambung....


...**PENGUMUMAN...


...COMINGSOON NOVEL TERBARU LHU-LHU:...


...JUDULNYA MASIH DIRAHASIAKAN**... :")...


__ADS_1


__ADS_2