
Sudah seminggu ini Anisa dan Farhan kembali pada rutinitas awal. Mereka telah kembali ke Jombang dengan diantarkan Bulek Yani. Banyak banget yang nanyain Wardah nih... Wardah sudah pulang duluan bersama suaminya yaak. Tenttu saja menggunakan bus super canggih itu. Farhan memberikan satu rute istimewa untuk mereka berdua. Untuk peziarah yang lain sudah kembali ke Jombang terlebih dahulu,
Wardah dan Cak Ibil diberi tiket istimewa untuk mengunjungi tempat wisata tambahan berdua. Anggap saja sebagai bulan madu asli. Sedangkan Farhan dan Anita mampir di rumah Mbah Kakung dan sekarang diantar oleh Bulek Yani dengan suaminya. Bulek Yani ini merupakan adik dari Abi yang tinggal satu desa dengan Mbah Kakung.
Pagi ini Anisa sudah berada di kelasnya sejak pukul 06.40. Mengisi kuliah waktu pagi sangat membuat keteteran. Apalagi saat ini hari senin, para dosen harus berangkat lebih awal sebab ada apel mingguan. Anisa sampai membawakan bekal untuk sang suami. Berhubung Farhan tak ada jam waktu pagi, jadilah ia nganggur di kantornya.
“Terima kasih atas waktunya, silahkan membaca doa akhir perkuliahan,” Tutup Anisa mengakhiri perkuliahannya.
.
.
Ternyata setelah mengisi jam pagi, Anisa belum diridhoi untuk istirahat. Ia harus mengikuti rapat dosen untuk membahas tindak lanjut pembelajaran di era covid. Padahal ia belum sarapan sejak pagi.
“Ini udah jam setengah sembilan lho yaank, kamu belum sarapan. Sarapan dulu ya?” Bujuk Farhan ketika menuju ruang rapat.
“Gak enak kalau gak ikut rapat Mas, kita-kan sudah satu minggu gak ke kampus,” Jawab Anisa.
“Nanti kalau seupama rapatnya lama, Adek keuar dulu deh... beneran,” Sambung Anisa.
“Bener yaa? Nanti kalau jam sembilan belum selesai, adek ke ruangan Mas dulu,” Ujar Farhan.
“Iyaa,” Jawab Anisa.
.
.
__ADS_1
Rapat berjalan cukup lama. bahkan saat ini jam telah menunjukkan pukul 09:30 WIB. Farhan dari tadi sudah menoel-noel Anisa agar segera keluar. Istrinya dari pagi belum makan.
“Mohon maaf, Saya permisi sebentar nggeh dengan bu Anisa. Silahkan dilanjutkan terlebh dahulu,” Pamit Farhan yang tak sabar jika menunggu Anisa bergerak.
Farhan menggandeng Anisa menuju ruangannya. Untung saja ruang rapat hanya berbeda satu lantai. Jadi tak terlalu jauh jika ke ruangannya. Farhan mendudukkan Anisa di sofa kemudian menyiapkan bekal yang tadi pagi dibawa. Farhan begitu khawatir setelah beberapa hari yang lalu Anisa pingsan sebelum pulang dari rumah Mbah Kakung. Hendak di ajak ke rumah sakit ia tak mau. Katanya sih hanya karena belum makan.
“Mas balik ke ruang rapat ajah. Adek bisa sendiri kok,” Ujar Anisa sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Gak papa sendiri?” Tanya Farhan.
“Gak papa, tapi Adek gak kesana lagi boleh?”
“Boleh, tunggu Mas disini ya... nanti mas izinkan,” Ujar Farhan.
“Ya sudah, Mas ke ruang rapat dulu. Assalamu’alaikum,” Pamit Farhan dengan mengecup kening Anisa.
“Waalaikumussalam,” Jawab Anisa.
Memiikirkan Wardah, ia jadi ingin menelepon. Kira-kira sedang sibuk tidak ya?
Anisa melanjutkan makannya sebelum menelepon Wardah. ia yakin jika tak sebentar waktu yang digunakan untuk mengobrol. Meskipun perbincangan mereka tidak semuanya bermutu. Siapa tahu nanti Wardah mau bercerita.
.
.
“Gimana?” Tanya Anisa dengan memasang wajah pinisirin di oncam. Ya! Mereka kini tengah video call.
__ADS_1
Wardah yang tahu maksud Anisa pun memasang wajah sendu, perasaan Anisa tak enak kali ini. Apa mungkin rencananya dengan Farhan gagal?
“Udah lah Nis, gak usah susah-susah lagi bantuin aku. Kita tunggu saja. Biar waktu yang menjawab smua kegundahan hatiku,” Lirihnya. Anisa terbawa suasana. Genangan air mulai menggenang dipelupuk matanya.
“Kamu kenapa Nis? Kok malah nangis sih? Aku gak papa, Mas Aibil gak nyakitin aku kok,” Wardah mulai panik.
“Cak Ibil nyakitin kamu Dah, dia nyakitin hati kamu,” Jawab Anisa dengan sesenggukan.
“Anisa, aku gak papa... Kamu jangan nangis gitu, aku bingung mau gimana. Aku telepon Mas Farhan lho kalau gak mau diem. Aku gak mau lagi curhat sama kamu,” Wardah mulai mengancam.
“Iya-iya, aku diem,” Jawab Anisa sembari mengusap air matanya.
“Ya udah, bentar lagi aku mau ngajar. Kamu istirahat, kemarin-kemari katanya sempat pingsan,” Ujar Wardah. tahu dari mana dia kalau Anisa pingsan.
“Aku sempat nelpon kamu. Tapi yang angkat Mas Farhan. Udah ya? Aku tutup. Assalamu’alaikum,” Jawab Wadah seolah tahu keheranan Anisa dan menutupya.
“Waalaikumussalam,”
Meskipun Wardah sudah meminta Anisa untuk berhenti membantu meluluhkan hati Cak Ibil, tapi Anisa masih berat untuk mengabukannya. Ia tak mungkin membiarkan sahabatnya bersedih terlalu lama. Ia behak bahagia. Wardah sudah cukup menderita selama ini.
Tak terasa, setelah memikirkan cara baru yang tak kunjung muncul, Anisa tertidur di sofa ruangan Farhan.
“Assalamu’alaikum, sayangku, cintaku takkan perrnah terganti,” Sapa Farhan memasuki ruangannya. Ia pu dikejutkan Anisa yang meringkuk pada sofa dihadapannya.
“Kenapa gak tidur di kamar sih yaank?” Gumam Farhan.
Ia tersenyum ketika melihat makanan di meja yang sudah kandas tak tersisa. Dibersihkannya meja itu sekaligus mencuci piring-piringnya. Jangan lupa jika ruangan Farhan bak apartemen. Setelah mencuci tangan barulah ia memindahkan Anisa ke kamar.
__ADS_1
“Kamu habis nangis?” Lirihnya. Farhan melihat mata Anisa sembab. Seperrtinya habis menangis. Sebaiknya ia tanyakan nanti saat sang istri bangun. Farhan memilih untuk meneruskan pkerjaannya yang tertunda. Diambilnya laptop dan mulai berselancar dengan menyender di kepala tempat tidur.
Bersambung....