
Suasana ruang tamu masih sunyi sepi. Tak ada percakapan sama sekali. Kini yang mereka tunggu adalah keputusan Ibil. Ya! Wardah menyerahkan keputusan kepada suaminya. Terserah ia mau dibawa kemana hubungan ini.
"Wardah serahkan semuanya pada Cak Ibil. Sebenarnya kami sudah memiliki kesepakatan untuk melanjutkan pernikahan selama dua bulan. Jika Cak Ibil masih belum mencintai Wardah, Wardah ikhlas untuk dicerai. Tapi, keadaannya sekarang berbeda. Wardah serahkan semuanya pada Cak Ibil. Ingin melanjutkan perjanjian 2 bulan itu monggo, atau mau membuat keputusan baru nggeh monggo," Wardah mengutarakan semua pendapatnya beberapa menit yang lalu. Pandangan masih sama menunduk dengan dalamnya. Ia tak menggunakan embel-embel sebutan "Mas" lagi.
"Jawab Bil, Bapak serahkan semuanya padamu juga. Pesan bapak, jangan sakiti Wardah terlalu dalam lagi," Ujar Pak Supono setelah dari tadi diam menunggu jawaban anaknya. Sedangkan Cak Ibil masih terus diam.
"Saya tidak akan membiarkan kamu mempermainkan adik saya. Lepaskanlah jika memang kamu tak sanggup membuatnya bahagia. Saya sama sekali tidak setuju jika kamu meminta-minta waktu apaaalah itu! Kamu berkedok Ustadz, harusnya paham! Tidak ada pernikahan yang berlandaskan waktu!" Emosi Kak Yusuf mulai menjadi. Farhan yang ada di sampingnya mencoba meredamkan amarahnya.
"Sabar, tenang kak, kita cari jalan keluarnya sama-sama," Ujar Farhan.
" Oke! Diam kamu! Saya anggap setuju untuk pisah dengan Wardah! Jangan ganggu Wardah! Jangan hubungi Wardah!" Tegas Kak Yusuf. Sedangkan Cak Ibil masih diam membisu dengan menunduk.
"Anisa, bawa Wardah ke kamar ya," Ujar Kak Yusuf, kali ini melembutkan intonasinya.
"Baik Kak," Jawab Anisa.
Ibu Surinah memeluk Wardah dengan eratnya. Hati tak rela jika menantu baik ini harus pergi, tapi pasti akan sangat jahat jika membiarkan anaknya menyakiti hatinya.
"Wardah mohon maaf jika selama ini berbuat salah pada Ibu dan Bapak," Lirih Wardah dengan air mata yang menggenang deras.
__ADS_1
"Kamu gak salah nduk, kamu gak ada salah. Jangan putus tali silaturrahmi kita ya nak, maafkan keluarga Ibu," Jawab Ibu Surinah. Wardah mengangguk dan memaksakan senyumannya. Diciumnya punggung tangan ibu mertuanya itu. Kemudian beralih kepada bapak mertuanya.
"Assalamu'alaikum," Pamit Wardah yang disusul Anisa sembari menggandengnya.
"Wa'alaikumussalam," Jawab mereka yang ada di ruang tamu.
.
.
.
Kini Wardah tengah terduduk lemas di pinggir tempat tidurnya.
"Sabar ya Dah, aku selalu ada untuk kamu... Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan kedepannya. Allah pasti memiliki rencana yang luar biasa untuk hari selanjutnya." Ujar Anisa. Ia ikut duduk di samping Wardah sembari memeluknya dari samping.
"Kamu jangan pulang ya... Aku gak mau tidur sama Bunda malam ini, pasti nanti ditanyai macam-macam... Aku belum siap," Lirih Wardah memohon pada Anisa.
"Insyaallah, aku izin sama Mas Faridz dulu yaa," Jawab Anisa.
__ADS_1
Sementara itu, di ruang tamu, ayah Cak Ibil meminta maaf pada atas perilaku anaknya. Malu? Tentu saja! Awalnya dengan sangat mantab Ibil membujuk sang bapak dan ibuk, kini malah menyia-nyiakannya.
"Sekali lagi saya tanya pada kamu Ibil, kamu siap melepaskan Wardah?" Tanya Kak Yusuf.
"Mungkin lebih baik saya melepaskan Wardah, saya tidak tahu kedepannya dapat membahagiakan Wardah atau tidak," Lirih Cak Ibil.
"Baik, kamu tunggu surat panggilan dari Department Agama dan segera tanda-tangani." Jawab Kak Yusuf.
Setelah menyepakati hal itu, keluarga Cak Ibil langsung kembali ke kota asalnya. Bunda sudah memesankan tiket, mereka tinggal menunggu di terminal.
"Tolong lupakan Anisa Cak, saya mohon, jangan ganggu kami," Lirih Farhan sembari mengantarkan keluarga itu keluar rumah. Tak dapat dipungkiri, ia kini malah khawatir Cak Ibil nekat.
"Tenang, aku mencoba mengikhlaskan semua," Jawab Cak Ibil.
"Bapak yang akan membunuhnya jika ia berani mengganggu Anisa dan Wardah Le! Tenang saja, rasanya bapak tak merasa memiliki anak seperti ini," Sambung Bapak Cak Ibil.
...Bersambung.......
Okeee! Nantikan kehidupan Wardah yang baru di novelnya ya gaesss! See youu!
__ADS_1
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh :")