Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
....


__ADS_3

Setelah perjalanan kurang lebih sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di sebuah mansion yang sangat megah luar biasa. Gadis cilik di pangkuannya sudah terlelap ternyata. Pantas saja sepi. Wardah yang baru kali pertama menginjakkan kaki disini pun terkagum-kagum dibuatnya.


Wardah keluar mobil dengan hati-hati agar anak kecik itu tak terbagun. Diikutinya Kak Aisy dan Kak Ical memasuki mansion itu. Baru sekali memencet bel, seorang wanita seumuran Mbok Imah membukakan pintu untuk mereka.


Kak Ical yang akan memindahkan Hilya tampak kesusahan. Karena Hilya yang memeluk erat leher Wardah.


"Gak papa Kak, sama aku aja," Ujar Wardah.


Tak berselang lama, datanglah Umi dan Bunda Mas Farhan. Senyuman manis terukir jelas di bibir keduanya. Umi memeluk dan mencium Wardah. Kangen dengan anak satu ini. Karena memang sudah lama mereka tak bertemu.


"Anisa udah kalang kabut, takut kamu marah sayang," Ujar Umi.


"Iyaa Umi, Wardah juga mau minta maaf..." Jawab Wardah lirih.


"Ya sudah, kamu temui Anisa di taman belakang. Hilya biar Umi tidurkan di kamar... Kok ni bocil bisa nempel banget sama kamu, hahaha," Ujar Umi sembari mengambil alih gendongan Hilya. Agak susah memang. Bahkan Kak Aisy dan Kak Ical juga turun tangan membantu.


Setelah lepas dari bocil itu, Bunda menggandeng Wardah menuju halaman belakang. Wardah awalnya sedikit canggung dengan ibunda dari Mas Farhan itu. Dulu memang pernah bertemu, tapi sekedar menyapa biasa.

__ADS_1


"Itu Anisa-nya sayang, mau Bunda antar?" Ujar Bunda Farhan pada Wardah.


"Makasih ya tante... Wardah ke sana sendiri gak papa," Jawab Wardah.


"Panggil Bunda saja anak manis... Bunda lebih suka," Ujar Bunda mengelus pundak Wardah.


"Baik Bunda," Lirih Wardah.


Bunda tersenyum puas kemudian meninggalkan Wardah ke dalam. Wardah mendekati Anisa yang ternyata di sana ada Mbah Uti dan Mbah Kakung. Kedua suami istri itu mengisyaratkan pada Wardah agar lebih mendekat. Memberikan waktu berdua, kemudian pergi meninggalkan dua sahabat itu.


"Nenek, pupuknya segini cukup aa?" Tanya Anisa yang masih belum sadar jika kakek dan neneknya pergi.


"Emang bisa overdosis apa? Nenek mah aneh-aneh aja. Oh iya! Anisa jadi inget suara Wardah," Celetuk Anisa yang semakin tak semangat memegang perlengkapan menanamnya.


Wardah memeluk Anisa dari belakang. Dengan erat. Sangaaat erat.


"Maafin aku Niiiss," Lirih Wardah.

__ADS_1


"Wardah," Anisa berbalik dan mereka berpelukan kembali.


"Aku udah bikin debay stress ya?" Tanya Wardah mengelus perut Anisa.


"Hehehe, dikiiit," Jawab Anisa dengan isyarat penautan jari telunjuk dan ibu jari.


"Ayo, kita duduk di pendopo dulu," Ajak Anisa sembari menarik tangan Wardah.


Mereka berdua tampak temu kangen setelah adanya badai di antara mereka. Anisa dan Wardah saling bercerita, bercand, tertawa terpingkal-pingkal satu sama lain.


Sedangkan manusia di dalan mansion tampak mengintip dari balik jendela kaca. Kan gak mungkin kalau ngintip di jendela kayu atau tembok. Gak akan nampak.


"Mereka udah kayak saudara. Bahkan yang saudara sekalipun tak seakur mereka," Celetuk Bunda dengan senyum yang mengembang.


"Suruh Wardah nginep aja ya Mbah? Pasti makin ramai," Sambung Bunda memberi ide.


"Mbah Uti pengennya gitu, tapi Wardah itu anak yang super penurut... Kalau Bundanya minta dia pulang, ya harus pulang," Jawab Umi.

__ADS_1


......Bersambung ......


__ADS_2