
Anisa masih asik memasak cumi sambal hijau. “Bun, rasain dong”. Pinta Anisa.
“Boleh...”. jawab Bunda antusias.
“Ini beneran kamu yang masak?”. Tanya Bunda.
“Husna Bun yang masak”. Sahut Husna.
“Kalau kamu yang masak Bunda gak percaya”. Ucap Bunda. Anisa hanya tertawa menanggapi.
“Enak banget sayaang”. Ucap Bunda.
“Coba-coba, Husna pengen ngrasain”. Ujar Husna hendak merebut sendok Bunda.
“Hiish! Anak kecil gak boleh ngrecokin. Sana-sana kamu yang nata meja makan”. Ujar Bunda.
“Bundaaa, Husna pengen nyicipin jugaa”. Ujar Husna dengan mata berkaca-kaca.
“Nantikan kita makan sama-sama sayaang”. Ujar Bunda.
“Ya udah deh, Husna yang nyiapin di meja makan”. Ujar Husna dengan berat hati.
“Maaf ya Bun, Anisa Cuma bisa masak masakan sederhana”. Ujar Anisa dengan melanjutkan memasak menu lainnya.
“Lho, kenapa kamu ini? Bunda sama Ayah itu asalnya dari desa. Ketemu Umi kamu waktu kuliah dikota, Bunda biasanya juga masak masakan biasa sayang”. Jelas Bunda.
“Anisa merasa... emm, gimana ya Bun”. Ucap Anisa bingung.
“Sudah-sudah. Walaupun rumah kami seperti ini bukan berarti kami harus sombong kan?”. Ujar Bunda.
“Bunda dan keluarga Bunda bener-bener baik banget, Anisa boleh peluk?”. Tanya Anisa.
__ADS_1
“Sejak kapan Bunda alergi sama kamu?”. Canda Bunda. Merekapun berpelukan, kemudian melanjutkan memasak.
“Bunda biasanya masak sendiri?”. Tanya Anisa.
“Iya, biasanya dibantu sama mbok Yem. Bunda tuh dari dulu punya prinsip sayang. Kalau Bunda bakalan masakin keluarga Bunda sendiri. Jadi walaupun ada mbok Yem, beliau hanya bantu-bantu biasa”. Jawab Bunda.
“Anisa kagum deh sama Bunda. Pokoknya Bunda sama Umi tuh panutan Anisa”. Tutur Anisa. Bunda tersenyum mendengarkan penuturan Anisa.
“Udah jadi semua nih Bun”. Ucap Anisa dengan membawa menu terakhir yang ia buat.
“Bunda Cuma buat satu menu lhoo, kamu udah selesai 3 menu. Bunda gak sabar pengen makan, yuk ke ruang makan”. Ajak Bunda.
“Sini sayang, kamu duduk samping Bunda”. Ucap Bunda. Sedangkan Husna duduk disamping Anisa.
“Ayah sama kakak sudah dipanggil?”. Tanya Bunda.
“Sudah Bun, itu Ayah sama kakak”. Jawab Husna.
“Waahhh! Tumben Bunda masak enak?”. Ujar Ayah dan duduk di tempatnya.
“Emang biasanya Bunda masak gak enak?”. Tanya Bunda ngegas.
“Bukan begitu Bunda, biasanya enak kok. Enak banget malah. Tapi hari ini jauh lebih menggoda”. Jelas Ayah.
__ADS_1
“Wong Bunda Cuma masak oseng kacang panjang aja kok. Yang lainnya Anisa. Kan Bunda tadi nantang Anisa buat masak. Ternyata jago banget. Masyaallah. Iya kan Husna?”. Jelas Bunda.
“He’em, lihai banget kak Ica masaknya”. Dukung Husna.
“Bunda sama Husna terlalu berlebihan”. Jawab Anisa merendah.
“Sudah yuk, kita makan. Ayah pengen nyicipin masakan Anisa. Kalau Ayah nambah, berartti beneran enak”. Ucap Ayah. Bunda membantu Ayah menyiapkan makanannya. Sedangkan Anisa membantu Husna. Farhan hanya diam memperhatikan Anisa yang sangat perhatian dengan adiknya.
“Kamu mau disiapin sama Bunda atau Anisa Farhan?”. Ujar Bunda mengagetkan.
“Eh! Farhan ambil sendiri ajah”. Ucap Farhan salah tingkah. Ayah tertawa tapi ditahannya. Khawatir sang anak tambah malu.
“Ingaat, jangan bicara saat makan. Kita nilai masakan Anisa setelah makan selesai. Okee!”. Ayah membuat keputusan.
“Kok Anisa serasa ikut kompetisi yaa, hehehe”. Ujar Anisa.
“Iyaa, kamu ikut kompetisi sayang. Anggap aja latihan jadi calon mantu”. Jawab Bunda dengan tawanya.
“Bunda mah, ngelawak terus”. Ujar Anisa.
“Ayah hitung sampai tiga, kita nikmati makanan ini”. Ujar Ayah.
“Tunggu Yah, kalau mau nambah gimana?”. Tanya Husna.
“Nambah ya tinggal nambah. Kok susah”. Jawab Ayah.
“Sudah yaa, kita mulai. Jangan lupa berdo’a... dan 1, 2, 3!”. Ayah memberi aba-aba.
Anisa sangat kaget dengan sikap pak Afif. Ketika di kampus terlihat sangat berwibawa dan tegas. Tapi ketika dirumah sangat menyenangkan. Mereka menikmati makan siang dengan khitmad. Setelah beberapa waktu, ayah kembali menuangkan nasi untuk yang kedua kalinya. Anisa terlihat sangat senang. Ternyata Ayah benar-benar menyukai masakannya. Begitupun yang lain, terlihat begitu menikmati makan siang ini dengan lahap.
Bersambung.....
__ADS_1