Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Kembali Kerumah


__ADS_3

Awalnya Anisa dan Farhan memiliki waktu 5 hari untuk menghabiskan waktu berdua di hotel. Tapi mereka memilih untuk kembali pada hari ini.


"Barang-barangnya sudah di bagasi semua, kita mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?". Tanya Farhan.


"Pulang laah". Jawab Anisa.


"Okee, lets go!". Ujar Farhan mulai mengemudikan mobilnya.


"Kita pulang ke mana mas?". Tanya Anisa. Mengingat mereka kini memiliki dua tujuan tempat tinggal.


"Kerumah Abi, katanya mau ketemu Mbah Kakung dan Mbah Putri". Jawab Farhan.


"Mas gak papa?". Tanya Anisa ragu.


"Ya gak papa lah sayaang, kan sekarang keluarga kamu udah jadi keluarga mas juga". Jawab Farhan dengan mengusap kepala Anisa.


Jalanan Jombang saat ini terlihat sedikit macet. Sesekali Anisa mengganggu Farhan dengan merangkul lengan Farhan.


"Tidur aja, kamu rese kalau lagi gabut". Ujar Farhan.


"Aku gak ngantuk maas". Rengek Anisa kembali merangkul sebelah lengan Farhan.


"Macetnya masih lanjang lho yang, mending kamu nonton aja deh. Tuh laptopnya ada di jok belakang". Ujar Farhan.


Anisa langsung mengambil tas kerja Farhan dan mengambil laptopnya. Mulailah Anisa menelusuri isi laptop.


"Emangnya mas punya film apa?". Tanya Anisa.


"Gak ada, kamu download sendiri laah, pakek hostpot hp". Jawab Farhan dengan santainya.


"Dasaar. Minjam hp mas". Ujar Anisa.


Farhan merogoh gawainya di saku dan memberikan pada Anisa.


"Sandinya?". Tanya Anisa.


"Nama istriku". Jawab Farhan.


Bluush. Merahlah muka Anisa. Anisa mulai mendownload film yang menurutnya bagus. Tak jadi menggunakan laptop, ia memilih menggunakan gawai Farhan. Setelah melewati jalanan yang lumayan padat, kini mereka telah sampai di rumah Abi.


"Assalamu'alaikum". Sapa Anisa dan Farhan.


"Wa'alaikumussalam, lhoo putu ayu wes balek? Bukannya jadwal pulang besok?". Tanya Mbah uti.


"Anisa kangen sama mbah kung dan mbah uti". Jawab Anisa dengan memeluk Mbah uti.


"Ayo masuk dulu. Kasihan suamimu capek". Ujar Mbah Uti.


Mereka memasuki rumah, ternyata seluruh keluarga sedang berkumpul di ruang keluarga. Jika biasanya ada sofa disana, kini hanya alas lantai lesehan.


"Aduduuu, pengantin baru udah pulang ajah". Ledek Faisal.


Anisa dan Farhan menyalami keluarga besar yang ada disana. Tidak terlalu banyak sebenarnya. Hanya Abi, Umi, Faisal, Aisyah, Kakek, Nenek Anisa.


Anisa duduk di antara Mbah Uti dan Mbah Kakungnya. Mulailah direbahkan kepalanya dipangkuan mbah kakung. Sedangkan Farhan, Farhan duduk disamping Ayah.


"Suamimu kok dianggurin sih dek". Ledek Faisal.


"Anisa masih kangen Mbah kak".Lirih Anisa.


"Gak usah ngeledekin adekmu terus Cal. Mbah juga kangen sama cucu ayunya kok". Jawab Mbah Kakung. Mereka menghabiskan waktu bersama hingga menjelang zuhur.


"Ayo siap-siap sholat zuhur. Faisal azan". Ujar Abi.


"Faiz udah berangkat ya Mi?". Tanya Anisa.

__ADS_1


"Iyaa, oh iya, kemarin Husna nitipin kado buat kamu. Umi taruh di kamar". Jawab Umi.


Anisa segera duduk dan berlalu ke kamarnya. Ketika hendak menapaki kakinya di tangga,


"Ndok, suaminya jangan ditinggal to". Ujar Mbah Uti.


"Gak papa Mbah, Farhan bisa sendiri". Jawab Farhan dengan senyumannya.


"Kamu jangan canggung yaa". Ujar Mbah Kakung.


"Mboten Mbah, kulo nyaman ten mriki kok". Jawab Farhan.


"Alhamdulillah naknu. Sana siap-siap zuhur". Ujar Mbah Kakung.


"Siap Mbah". Jawab Farhan dan segera menyusul istrinya.


"Yaang? Sayaang?". Panggil Farhan mencari istrinya didalam kamar.


Terdengar suara percikan air dari kamar mandi. Sepertinya sang istri sedang mandi. Muncullah ide iseng Farhan, perlahan ia langkahkan kaki menuju kamar mandi.


Ceklek!


"Asem, dikunci". Ujar Farhan.


"Gak bisa nakal kamu maas!". Teriak Anisa dari dalam.


Ternyata istrinya sudah mengetahui akal bulusnya sang suami. Farhan menunggu istrinya dengan berbaring di ranjang. Tak diam saja, ia memilih untuk mengecek email laporan Universitas selama ia cuti.


"Mau mandi dulu gak mas?". Tanya Anisa.


Farhan mengangguk. Akhirnya Anisa mengambilkan pakaian sholat Farhan. Farhan menutup gawainya dan hendak mandi.


"Ini". Ujar Anisa memberikan pakaian Farhan.


Muncul ide barunya. Diarahkannya tangan Farhan hendak menyentuh tangan Anisa. Agar ia batal wudhu niatnya.


Farhan tak jera, ia terus menggencarkan usahanya untuk membuat Anisa batal wudhu. Alhasil kini mereka kejar-kejaran didalam kamar berdua. Tak jarang Anisa menginjak-injak tempat tidurnya diikuti Farhan. Timpukan-timpukan bantal antara keduanya pun tak bisa dihindari.


"Astaghfirullaaaah! Kalian ngapain siiih?". Teriak Umi tiba-tiba.


Farhan langsung menghentikan acara kejar-kejarannya. Anisa berlari kearah Uminya.


"Mas Faridz tuh Mii, masak Anisa udah wudhu mau dipegang lagi. Kan batal jadinya". Adu Anisa.


"Hiiiish, punya istri kok pengadu". Bisik Farhan pada Anisa.


Saking kagetnya Anisa sedikit menampar pipi Farhan.


"Astaghfirullah". Ujar Farhan pura-pura kesakitan dengan merintih memegang pipinya.


Anisa yang kaget pun sepontan mengelus pipi suaminya.


"Astaghfirullah, maas... Minta maaf, Ya Allah, Anisa gak sengaja lho". Ujar Anisa lirih.


"Wudhu lagiiii!". Ujar Farhan tertawa terpingkal-pingkal.


"Hiiissh, mas iniii. Umiiii....". Rengek Anisa kembali.


"Kalian ini, sudah sana cepet wudhu. Bunda ke mushola dulu. Lihatin kalian terus bikin Umi bengek ketawa". Ujar Umi dan berlalu pergi.


Farhan berlari ke kamar mandi menghindari teriakan istrinya. Keluar dari kamar mandi, Anisa berniat untuk memegang Farhan kembali.


"Eiiits! Kita sudah ditunggu sayaang". Ujar Farhan menghindar.


"Dasar! Curang!". Jawab Anisa berlalu ke kamar mandi. Farhan tertawa terpingkal-pingkal lagi dibuatnya.

__ADS_1


Setelah selesai bersiap, Farhan dan Anisa pergi ke musholah.


"Tangannya dikondisikan dong mas". Ujar Anisa ketika tangan Farhan menyentuh bahu.


"Kan ada penghalangnya yaang, gak batal dong". Ujar Farhan.


"Nanti kalau khilaf kena muka gimana?". Tambah Anisa.


"Dari tadi kok ejek-ejekan teeuus. Ayoo cepet, udah ditunggu tuh". Ujar Umi.


Setelah sholat zuhur Anisa dan Farhan kembali ke kamar untuk istirahat. Sesuai perintah Mbah Kakung. Khawatir jika cucu menantunya kecapekan. Hehehe.


"Kamu belum lalaran lho, lalaran dulu yuk". Ujar Farhan sesampainya di kamar.


"Siap boss!". Jawab Anisa.


Beberapa ayat hingga surat Anisa lantunkan. Farhan sayup-sayup menjadi mengantu dibuatnya. Hahahah


"Kok malah ngantuk siiih". Ujar Anisa memukul paha Farhan.


"Suara kamu merdu banget yaang, ngantuk deh. Mas lapeer". Lirih Farhan.


"Kita belum makan siang yaa, ya udah aku masak dulu". Ujar Anisa mengambil Al-Qur'an di tangan Farhan dan meletakkannya di tempat. Ia mengganti jilbab dan berlalu ke dapur.


Rumah tampak sepi, sebab Mbah Kakung dan Mbah Uti mengajak untuk pergi jalan-jalan di mall untuk mencari keperluan. Awalnya Anisa ingin ikut, tapi Mbah Kakung melarang.


Anisa mulai memilih bahan masakan di kulkas. Terlalu banyak sayuran didalamnya, bingung ia dibuatnya.


"Masak apa yaa, emmmm". Gumamnya dengan memilih.


"Bikin yang simpel aja dah, sarden diapain yaaa... Buat saos spageti aja". Gumamnya sambil mengambil kaleng sarden dan spageti.


"Yaaang, buat yang praktis aja, udah laper nih". Ujar Farhan.


Farhan menumpukan kedua tangannya di meja makan dengan memperhatikan Anisa dari belakang.


"Hahaha, mas lucu banget kalau gitu, iyaa ini Anisa juga bikin yang praktis kok. Bentar lagi jadi". Jawab Anisa.


Farhan menghampiri Anisa dan memeluknya dari belakang.


"Jangan gitu maaas, udah mau selesai nih, tinggal plating". Ujar Anisa.


"Ya plating ajalaah, mas mau kayak ini". Jawab Farhan. Mau tak mau Anisa melanjutkan kegiatannya.


"Nah, sudah jadi... Ayo makan mas". Ujar Anisa.



"Sarden ta?". Tanya Farhan dengan melepaskan pelukannya. Ia mengikuti Anisa menuju meja makan.


"Iyaa, mas gak suka sarden ya?". Tanya Anisa balik.


"Agak nyengat amisnya". Jawab Farhan.


"Cobain dulu deh, ini sardennya Anisa goreng dulu tadi. Biar gak terlalu amis". Ujar Anisa.


Farhan mengangguk dan langsung mencobanya.


"Hmmm, lumayaan..". Jawab Farhan.


"Kok lumayan, gak enak berarti?". Tanya Anisa.


"Enaak, amisnya juga gak begitu. Istri Mas kan pintar masak". Jawab Farhan. Ia tarik Anisa hingga duduk dipangkuannya.


"Nih, mas suapin". Ujar Farhan mengarahkan spageti ke mulut istrinya.

__ADS_1


Mereka menghabiskan makanan berdua menjelang sholat asar.


Bersambung.....


__ADS_2