Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
-


__ADS_3

Kali ini Farhan mengikuti keinginan istrinya. Ia memilih untuk pulang ke mansion. Bunda sudah dikabarin Farhan sebelum pulang tadi. Sampai di pekarangan, Bunda sudah menyambut dengan wajah pucat karena panik. Sedangkan Anisa masih tertidur di gendongan sang anak.


Tak berselang lama, Umi, Abi, dan Ayah ikut keluar. Ternyata Bunda langsung go publik mengabarkan pada besan sekaligus sahabatnya itu.


"Kok bisa gini sih Haan?" Tanya Bunda sembari mengikuti Farhan dari belakang.


"Nanti ya Bun Farhan jelasin, lebih baik sekarang panggil Dokter Hadi dulu," Ujar Farhan.


"Iya sayang, Ayahmu sudah menghubunginya," Jawab Bunda.


Dengan hati-hati Farhan meletakkan Anisa di tempat tidur. Dielusnya lembut pelipis Anisa. Farhan memang memantau istrinya dari tadi. Tentu saja dari cctv yang terhubung di gawainya. Sejak awal datang ke Universitas, Farhan sudah merasa jika sang istri tampaknya pucat.


Farhan jadi ingat perbincangannya beberapa malam yang lalu dengan Anisa.


"Mas, kok adek kayaknya buncit yaa? Adek diet aja kali yaa?" Tanyanya.

__ADS_1


"Jangan, gak usah diet-dietan dah.. Ntar malah kesiksa tubuhnya," Jawab Farhan.


Pikiran Farhan sudah melalabuana. Jangan-jangan sang istri benar-benar diet? Jangan-jangan sang istri diet dengan diam-diam tanpa sepengetahuannya. Tadi pagi waktu sarapan saja, Anisa cuma makan sedikit. Kalau memang iya, awas saja! Hukuman menantimu Anisa. Hahaha.


"Jelasin ke Umi Farhan, kenapa Anisa bisa begini?" Tanya Umi mengelus pundak Farhan.


"Tadi, Farhan sengaja mantau Anisa dari cctv. Soalnya dari pagi, Farhan perhatikan dia pucat. Pas Farhan nyaranin buat istirahat aja gak mau. Terus, pas di lift tadi tiba-tiba Anisa-nya kayak lemes gitu Bun, langsung deh Farhan susulin ke lift," Jelas Farhan dengan sejelas-jelasnya.


Sebelum ke ruangannya, Farhan pagi tadi memang menuju ruang monitoring cctv. Dimintanya cctv lobi tempat Anisa bertugas dan lift khusus agar ia bisa memantau secara langsung.


"Auty teapa?" Tanya bocah berumur satu tahun itu sembari berontak ingin mendekat pada Anisa.


"Aunty sakit sayang, nanti kalau Aunty sudah sembuh, Hilya boleh main lagi," Ujar Kak Aisy.


Tapi yang di ajak bicara tak mengindahka. Ia tetap berontak. Farhan mengambil alih gendongan ponakannya. Farhan duduk disisi Anisa dan Dokter Hadi di samping kirinya tengah memeriksa Anisa.

__ADS_1


"Lebih baik kita keluar dulu, takutnya malah mengganggu Dokter Hadi." Ujar Ayah mengajak para manusia itu keluar.


"Farhan,Hilya biar sama aku keluar," Ujar Kak Aisy merentangkan tangannya hendak mengambil anaknya. Tapi yang diajak malah mengeratkan tangan mungilnya di leher Farhan tanda tak mau ikut Uminya.


"Nggak papa Kak, biar sama aku aja. Gak akan ganggu insyaallah," Ujar Farhan menenangkan ponakannya yang terus mengeratkan tangannya.


Kak Aisy mengangguk dan keluar bersama yang lain. Kak Ical merangkul sang istri sembari menutup pintu.


Hilya kini duduk di pangkuan Farhan menghadap Anisa. Ia terus menoel-noel tangan dan pipi Anisa secara bergantian berharap Aunty nya segera bangun. Sedangkan Dokter tampak masih memeriksa Anisa dengan intens.


Assalamu'alaikum, gimana kabar kalian para pembaca setia Lhu-Lhu?


Ih iya! Puasanya gimana? Masih lancaarkan? Masih full kan?


Semoga selalu dilancarkan yaaa..... :")

__ADS_1


BersambungA


__ADS_2