
Anisa dan Wardah masih mendengarkan dengan fokus lantunan ijab qobul Cak Ibil. Tangan Wardah semakin dingin. Pegangannya pada jemari Anisa pun semakin erat. Gugup, takut, deg-degan, campur aduk rasanya.
"SAH!" Sorakan yang terdengar dari luar.
"Alhamdulillah," Ucap Anisa dan Wardah secara bersama.
Wardah memeluk Anisa. Air matanya tak dapat dibendung kembali. Tangis bahagia menghiasi wajah cantiknya.
"Ush! Ush! Ush! Udaaah, nanti riasannya belepotan. Sini aku benerin dulu," Ujar Anisa. Di ambilnya tisu di atas nakas. Untung saja riasan itu water proof.
"Nih bawa! Buat pegangan kalau nanti nangis lagi," Ujar Anisa memberikan beberapa lembar tisu.
.
.
"Nak? Ayo ke depan," Panggil Ibunda Wardah.
Wardah melihat Anisa.
"Kenapa liatin gua gitu!" Sanggah Anisa.
"Hehehe, maap say. Ayo! Tenang yaa, slow, semua akan lancar," Sambung Anisa menenangkan.
Dituntunnya Wardah keluar kamar bersama Ibu Wardah di sisi sebelahnya. Pusat pandangan tamu undangan kini tertuju pada sang pengantin. Anisa ikut gugup dibuatnya. Seolah kini ia flashback kebelakang. Ditambah dengan Farhan yang duduk tak jauh dari Cak Ibil, membuatnya semakin gugup atas pandangannya.
Anisa tersenyum canggung pada suaminya yang juga tersenyum padanya. Bahkan Farhan juga menyediakan tempat duduk di sebelahnya. Coocweet...
"Lihat deh, Cak Ibil senyum sama kamu Dah," Bisik Anisa menghilangkan kegugupan akibat pandangan Farhan.
Wajah Wardah merah seketika. Malu. Tentu saja. Setelah Wardah duduk, Anisa segera menghampiri Farhan.
"Mas liatin adek atau liatin Wardah?" Tanya Anisa.
"Maunya liatin siapa?" Tanya balik Farhan.
"Ih! Malesin!" Gerutu Anisa. Memalingkan wajahnya dari Farhan.
"Ya liatin istrinya Mas yang paling cantik ini dong," Bisik Farhan.
Blussh. Anisa tersipu dibuatnya. Farhan menyentuh sebelah tangan Anisa kemudian diletakkannya pada pangkuan. Digenggam erat-erat seolah tak mengizinkan Anisa pergi meski sebentar.
"Husna sama Faiz mana Mas?" Tanya Anisa.
"Tadi sih izin mau ngambil cemilan. Mungkin masih tinggal disana," Jawab Farhan.
"Kira-kira, gimana ya ekspresi mereka berdua ketika melihat kado dari kita?" Bisik Anisa.
"Pasti seneng, Mas yakin!" Jawab Farhan dengan PD-nya.
__ADS_1
.
.
.
Acara sungkeman telah selesai. Kini berlanjut dengan acara resepsi. Wardah telah mengganti gaunnya dengan yang baru.
Wardah dan Cak Ibil kini telah berada di atas pelaminan. Mereka tengah berfoto bersama keluarga besar yang hadir. Tentunya keluarga pesantren juga.
Tidak dengan Anisa. Setelah puas tersenyum memandang wajah berseri sang sahabat, ia menarik lengan suaminya untuk menuju ke arah prasmanan. Anisa begitu lapar. Ternyata yang menjaga prasmanan mbak-mbak pondok. Dan kang santri yang bertugas mengambil persediaan makan jika habis. Disaat seperti inilah Kang dan Mbak santri bisa bertatap muka dengan puas. Hahaha.
Husna ternyata sudah berkumpul dengan teman-temannya yang juga membantu di acara. Sedangkan Faiz tengah menikmati makanan di depannya. Tidak sendiri, ia juga menemukan temannya juga ternyata. Adik Cak Ibil sekelas dengan Faiz. Beruntung sekali anak itu.
"Udah habis berapa piring dek?" Tanya Farhan menghampiri Faiz.
"Ngeledek aja terus! Aku baru makan ya Kak, tadi cuma ngemil aja. Iya kan Bal?" Jawab Faiz sembari meminta dukungan Iqbal temannya itu, yakni adik Cak Ibil.
"Iya Ustadz," Jawab Iqbal.
Farhan menepuk pundak Faiz kemudian menggandeng Anisa untuk mengambil makanan.
"Silahkan Ustadz, Ustadzah," Ujar Mbak santri pada Farhan dan Anisa setelah memberikan piring.
"Kak! Kalau mau foto-foto ajak Husna ya?" Ujar Husna yang berdiri diantara penjaga prasmanan itu.
"Kan ada teman-teman kamu dek?" Jawab Anisa.
"Biar bisa dua kali foto. Sekalian nemenin Faiz, hehehe," Celetuk Husna.
"Karepmu wes," Jawab Anisa. Wardah memang begitu exis. Gila kamera, hehehe.
Farhan dan Anisa duduk di dekat Faiz. Awalnya Farhan mengajak untuk duduk bersama para asatidz yang kebetulan juga tengah makan. Tapi rasanya sungkan.
"Ustadz Farhan dan Ustadzah Anisa mari gabung bersama kami," Panggil Ustadz Nawa pada mereka.
"Jangan dipanggil Ustadz atau Ustadzah atuh, saya dan istri saya kan bukan asatidz di pesantren," Ujar Farhan dengan Hati-hati.
"Ya ndak papa. Kamu dan Anisa itu sudah menjadi bagian dari pesantren juga. Anisa kan anak angkatnya Abah. Iya to?" Jawab Ustadz Zulfi.
"Mboten Ustadz, seluruh penghuni pesantren ini semuanya juga anaknya Abah," Anisa menimpali.
"Yo wis, tak panggil Farhan dan Anisa aja. Biar lebih santai," Ujar Ustadzah Hana mencoba menengahi.
Mereka menikmati makanan ditemani dengan obrolan-obrolan ringan. Sesekali Ustadz Zulfi membahas bisnis dengan Farhan. Sepertinya akan ada jalinan kerjasama antara Universitas dengan pesantren ini.
.
__ADS_1
.
Tak terasa azan zuhur telah berkumandang menyeruakkan kedamaian di seluruh penjuru pesantren. Anisa akan mengantarkan Faiz ke asrama baru setelah itu sholat, dan pamit untuk pulang.
"Faiz gak usah di antar ke asrama Kak, Faiz diminta untuk jadi vokalis sholawat di acara ini," Ujar Faiz.
"Oalah, ya sudah. Nanti kakak minta tolong sama santri supaya barang kamu dan Husna dibawa ke asrama," Jawab Farhan.
Dua sejoli itu menghampiri Umi dan Abah Kyai untuk pamit. Pas sekali Abah Kyai di atas pelaminan hendak berfoto.
"Farhan, Anisa, ayo foto sama-sama," Ajak Umi.
Dengan senang hati Anisa dan Farhan mengikuti perintah Umi.
"Kalian jangan pulang dulu ya, bantu-bantu di pesantren dulu, Abah kan harus mengurus pengantin ini. Farhan dan Anisa bantu-bantu ngajar ya?" Skak! Jika biasanya Umi yang melarang, kini Abah Kyai yang mengutus langsung.
"Insyaallah saya dan Anisa sanggup Bah," Jawab Farhan patuh. Tak ada kamus Farhan yang mengatakan tidak pada guru. Selagi itu tak menyalahi syariat islam, Farhan akan menyetujui.
"Ada kesibukan di kantor kamu Le?" Tanya Abah Kyai.
"Mboten Bah, bisa di handle dari sini," Jawab Farhan.
"Alhamdulillah, kamu gantikan Abah mengajar tafsir jalalain kelas 3 Aliyah," Ujar Abah Kyai.
"Pripun kaleh Gus Hasan Bah?" Tanya Farhan.
"Hasan sudah punya tanggung jawab kelas. Kamu Abah aturi untuk menggantikan Abah, dan Anisa menggantikan Umi. Sampai Abah dan Umi kembali ke pesantren lagi. Kebetulan setelah acara ini, Abah dan Umi juga harus sambang ke pesantren Kyai Marzuki," Jelas Abah.
"Inggih Bah, insyaallah siap," Lirih Farhan dengan menunduk patuh.
Abah dan Umi kembali ke tempat penyambutan tamu. Kini giliran Anisa dan Farhan yang berfoto.
"Kak Farhan sama Kak Ica kok gak panggil aku sih!" Ujar Husna menghampiri mereka.
"Hop! Tunggu dulu. Kamu habis ini. Kakak mau foto sama pengantin dulu," Cegah Farhan.
Husna cemberut dibuatnya. Sedangkan Farhan dan Anisa tengah asik berfoto dengan kedua pengantin itu. Beberapa kali jepretan, barulah Husna bergabung.
"Selamat ya Cak Ibil, Wardah, barokallahulakum. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Sampai di akhirat," Doa Anisa dan Farhan.
"Aammiiin, terima kasih sudah menyempatkan untuk hadir," Ujar Wardah. Sedangkan Cak Ibil hanya tersenyum manis.
"Iya sama-sama, oh iya! Ini ada sedikit kejutan untuk kalian. Semoga kalian suka ya?" Ujar Farhan dengan memberikan sebuah amplop kecil.
"Terima kasih Farhan, Anisa," Kini Cak Ibil yang berterimakasih.
"Setelah acara, kalian langsung buka ya? Anisa dan Mas Faridz ke asrama dulu, belum sholat zuhur," Ujar Anisa. Wardah dan Cak Ibil pun mengiyakan.
Bersambung....
__ADS_1