
Suasana pedesaan merupakan tempat yang paling tepat untuk menenangkan pikiran. Kicauan burung yang saling bersahutan, suara jangkrik di kala malam tiba, suara aliran air di parit yang mengaliri sawah seolah menjadi obat dari kebisingan kota.
Setelah menyelesaikan masakannya, Anisa dan Mbah Uti menyusul Mbah Kakung dan Farhan yang sudah berangkat terlebih dahulu. Tak jauh, hanya melewati beberapa pekarangan belakang rumah warga dan sepetak sawah, sampailah mereka di kebun sayur dan buah milik sang kakek.
Sampai ditujuan, Anisa tercengang melihat Farhan yang sedang mencangkul dengan lihainya. Ia kira, Farhan tak bisa menjadi Pak Tani. Hahaha.
Keringat yang menetes di pelipis dan anak rambutnya menambah kesan cool bagi Anisa. Senyumannya mengembang ketika melihat Anisa datang.
Mbah Kakung mengajak Farhan untuk istirahat di sebuah pendopo tua tapi tetap terawat di bawah pohon jati. Menyusul istrinya dan Mbah Uti yang sedang menyiapkan makanan. Mereka memang tak sarapan ketika akan berangkat ke kebun. Terbiasa seperti itu memang, Mbah Kakung.
Beliau akan berangkat selepas salat subuh, dan Mbah Uti mengantatkan sarapan. Kemudian membantu memanen atapun menanam sayur atau buah. Terkadang juga sawah.
"Tumben pakai daster? Lucu lho Yaank, hehehe," Celetuk Farhan.
"Kenapa? Jelek ya?" Tanya Anisa.
"Nggak kok, bagus! Baru pertama lihat aja, tapi tetep cantiiik," Jawab Farhan dengan berbisik di ungkapan terakhirnya.
"Hillih! Gombal!" Anisa meneruskan untuk mengambilkan makanan di piring yang beralaskan daun pisang.
Mbah Uti lupa tak menyiapkan piring tadi. Jadinya, mereka harus kembali di zama primitif. Hehehe. Sangat primitiiiiffff.
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka kembali bekerja. Anisa membantu Mbah Uti untuk memanen anggur. Sedangkan Farhan masih pada pekerjaan awal, yaitu mencangkul bersama Mbah Kakung.
__ADS_1
.
.
"Anisa istirahat dulu ya Mbah Uti?" Lirih Anisa sembari duduk di sebuah potongan kayu.
"Kamu kenapa?" Tanya Mbah Uti khawatir. Pasalnya mereka baru melakukan acara panen memanen selama 30 menit.
"Anisa sedikit pusing," Jawab Anisa.
“Kita pulang saja ya Nduk?” Ajak Mbah Uti.
“Jangan dulu, Anisa masih pengen disini,” Jawab Anisa.
Tengah hari, dua pasang pasutri itu kembali ke rumah. Percayalah, Anisa hanya membantu sebentar. Selebihnya hanya jalan-jalan, duduk, melihat-lihat. Hehehe. Setelah sholat zuhur, Anisa bersiap untuk mengajar. Anisa sudah siap di posisinya. Siap dan rapi dengan balutan jilbab pasmina mocca dan duduk di kursi balkon kamarnya. Signal disana merupakan yang terbaik dibanding di dalam kamarnya.
Sedangkan Farhan tengah menata pot-pot berisi bunga dan menggantungnya di atap. Menghiasi balkon kamar. Farhan juga menata bunga yang merambat agar tertata rapi di pinggiran balkon. Anisa sempat menanam bunga tadi, waktu di kebun. Kini giliran Farhan yang bertugas tata menata.
Selepas menata tanaman sang istri, Farhan istirahat dengan duduk di samping Anisa yang tengah mengajar.
"Rasanya udah lama banget gak ketemu Pak Rektor," Celetuk salah satu mahasiswa Anisa. Ternyata Farhan terlihat di saat Anisa oncam.
"Hey! Kalau sedang kuliah itu fokus." Jawab Farhan.
__ADS_1
Anisa mematikan kameranya. Sepertinya keberadaan sang suami mengganggu fokus para mahasiswanya.
"Kok kamu pucet sih Yang?" Tanya Farhan kaget setelah mengamati wajah istrinya.
"Gak papa, cuma kecapaian aja kok," Jawab Anisa tersenyum.
.
.
Farhan meninggalkan Anisa beberapa saat. Kemudian kembali dengan membawakan jus pisang dan salad buah di atas nampan. Anisa terheran-heran melihat sang suami.
"Belum pernah nyobain jus pisang kan? Cobain deh, enak banget," Bisik Farhan agar tak terdengar oleh mahasiswa di balik kamera itu.
"Kan udah makan tadi," Jawab Anisa.
"Kamu pucet banget, diminum deh! Habis itu Mas suapin salad," Ujar Farhan.
Tak ingin membuang waktu, Anisa menurut. Untung saja Anisa hanya sebagai fasilitator mahasiswanya. Ia hanya perlu mendampingi presentasi. Dan di akhir kuliah dengan penguatan materi.
Bersambung....
__ADS_1