
Sayup-sayup mata Anisa terbuka, cahaya dari sela gorden yang ditutup Farhan tadi mengenai matanya. Sebuah tangan masih bertengger di pinggangnya memeluk secara posesif. Dilantunkannya bacaan doa setelah itu.
Disentuhnya jemari itu. Ia berbalik melihat pahatan indah membentuk wajah indah. Terlalu lelap sepertinya. Ia sama sekali tak terusik dengan gerak Anisa. Disentuhnya pipi yang bersih dari noda-noda membandel. Hahaha, macam iklan deterjen baee.
Cup!
Satu kecupan dihadiahkan pada bibir yang tak pernah membuatnya menangis sedih selama ini. Heran, ia sama sekali tak bergeming. Ditenggelamkannya wajah Anisa pada dada bidang Farhan dan membalas pelukan Farhan.
"Kita gak usah ngajar yaa". Lirih Farhan. Tampak anisa sedikit tersentak kaget. Ternyata Farhan sudah bangun. Ntah dari kapan.
"Kapan mas bangun?". Tanya Anisa, masih menenggelamkan wajahnya.
"Dari ayangku balik badan tadi". Jawab Farhan.
Fiks, Anisa malu. Di eratkannya pelukan itu.
"Kalau gak jawab berarti setuju, kita libur dulu ngajarnya". Sambung Farhan.
Ia tahu kini Anisa tengah malu. Hahaha,
"Gak bisa gitu dong maas, itukan tanggung jawab kita". Jawab Anisa.
"Kita gak pernah izin lho yaang, waktu kita cuti itu aja digantiin dosen lain. Untuk hari ini kasih penugasan ajah. Materinya kita kirim lewat daring". Bujuk Farhan.
Ini pak Rektor malah ngajarin yang gak bener.
"Ya udah iya, nanti aku coba ngajar lewat daring buat ngawasin mahasiswa sebentar". Jawab Anisa.
"Okee! Mas mandi dulu habis itu kita sholat". Ujar Farhan. Anisa mengangguk.
"Sambil nunggu mas Faridz, mending aku buka kelasnya sekarang. Udah lewat jam ini mah. Pasti mereka nungguin". Gumam Anisa dengan mengambil laptopnya.
Anisa memberi tahu kepada ketua kelasnya agar menginformasikan kepada mahasiswa lain. Setelah beberapa saat, Anisa juga sudah siap rapi dengan jilbabnya. Kelas mereka mulai dengan dihubungkan ke ruang kelas dan Anisa sendiri.
Untung saja Universitas ini sudah maju. Fasilitas yang ada sudah sangat memadai. Tak repot jika mempersiapkan kegiatan belajar seperti ini.
"Yaang, kaos putihku tadi mana yaa?". Ujar Farhan ketika keluar kamar mandi.
"Maas, Anisa lagi ngajaar". Lirih Anisa. Mahasiswa yang mulanya presentasi dan mendengar suara Farhan pun diam mendadak dan langsung memperhatikan Anisa.
"Yaa, manaa?". Bisik Farhan.
"Eh, kalian lanjutkan diskusinya. Kok malah diem aja?". Tegur Anisa. Barulah dilanjut diskusinya.
"Ituu di rak baju kotor. Mas ambil yang baru itu udah Adek siapin". Bisik Anisa lagi.
"Oke oke". Jawab Farhan.
Farhan menghampiri Anisa yang tengah menjelaskan beberapa materi. Duduk disamping Anisa dengan merangkulnya seolah-olah ingin menyapa mahasiswa istrinya. Bukan menyapa, tepatnya pamer kemesraan. Wkwkwk.
"Maaf ya, tokeknya gak usah dihiraukan. Anggap aja gak ada". Ujar Anisa.
"Masak mas dibilang tokek sih yaang?". Ujar Farhan tak terima.
"Sshuuutt, aku lagi ngajar. Ada yang mau ditanyakan lagi?". Tanya Anisa sambil menutup mulut Farhan.
"Pak rektor sosweet banget siih". Ujar salah satu mahasiswa.
"Kan saya sudah bilang, jangan hiraukan serigala ini". Ujar Anisa.
"Lho! Ganti serigala". Ujar Farhan. Para mahasiswa pun tertawa melihat keuwuan dosen mereka.
"Sudah yaa, kalian kerjakan tugas yang sudah diinfokan pada ketua kelas. Saya akhiri Wassalamualaikum Wr. Wb.". Tutup Anisa.
"Mas gak ngajar?". Tanya Anisa.
__ADS_1
"Udah dikasih tugas pengganti kok, presentasi pun tetap berjalan. Tenang yaang". Jawab Farhan.
"Sini deh". Ujar Farhan mengarahkan supaya Anisa menyender didadanya.
"Kita gak ngajar malah males-malesan kek gini". Lirih Anisa.
"Hahaha, kamu udah ngajar kok. Akunya yang belum. Sini minjam laptopnya". Jawab Farhan meraih laptop Anisa.
"Diganti dong mas bajunya, yang formal. Adek mandi dulu". Tegur Anisa.
"Siap bos!". Jawab Farhan.
Anisa menyiapkan baju Farhan dan bergegas mandi. Mengingat ia belum sholat zuhur. Farhan malah deketin dari tadi. Kalau kesentuhkan batal lagi dianya. Aneh!
.
.
.
.
.
"Kita langsung ke rumah Bunda ya mas". Pinta Anisa. Setelah sholat asar.
"Kan rencananya besok, mau sekarang? Boleh. Ayo siap-siap pakai jilbab". Jawab Farhan.
"Eh, tapi aku belum siapin baju". Ujar Anisa.
"Udah, gak usah. Udah disiapin Bunda". Jawab Farhan.
"Kok bisa?". Tanya Anisa heran.
"Udah, ayo siap-siap". Jawab Farhan.
Setelah memberi kabar kepada Abi dan Umi, mereka bergegas pulang mansion Ayah dan Bunda.
Sesampainya di mansion, ternyata Bunda sudah menunggu diruang tamu. Tak sabar bertemu anak perempuannya.
"Assalamu'alaikum". Sapa Farhan dan Anisa.
"Wa'alaikumussalam, anak Bunda akhirnya kesini". Jawab Bunda memeluk Anisa.
Farhan yang melihat adegan itupun memutar bola matanya jengah. Memangnya harus gitu yaa? Anak sendiri gak diperhatiin.
"Bunda seneng kalian kesininya dicepetin. Kirain jadi besok. Tapi Bunda gak siapin apa-apa. Cuma makan malam biasa". Ujar Bunda. Menggandeng Anisa menuju ruang keluarga. Ayah sudah duduk manis disana ternyata.
"Anisa tuh ngajak sekarang". Ujar Farhan duduk disamping Ayah dan menyalami. Diikuti Anisa.
"Gak papa dong, Anisakan pengen nyenengin Bunda". Jawab Bunda. Dibalas senyuman oleh Anisa.
"Han, ikut Ayah keruang baca sebentar ya". Ujar Ayah.
"Iya Yah". Jawab Farhan.
Bunda POV
Kalau melihat raut wajah Ayah sepertinya sangat serius. Kenapa ya? Biasanya Ayah juga bercanda-bercanda dulu kalau ada Anisa disini.
"Ayah gak lagi sakit kan Bun?". Tanya Anisa padaku. Ternyata ia juga merasakan keanehan Ayah.
"Emm, nggak kok. Mungkin sedang ada urusan kerjaan. Oh iya, tanaman anggur bunda berbuah lho. Kita petik yuk". Ajakku dengan mengalihkan pembicaraan agar Anisa tak terbebani.
"Waaah, boleh Bun. Ayoo". Jawab Anisa dengan antusias.
__ADS_1
Kulihat Anisa sangat gembira memetik sedikit demi sedikit anggur itu. Anak ini selalu ceria didepanku. Senyumannya tak pernah pudar. Begitu manis. Sikapnya merubah kepribadian Farhan yang awalnya pendiam. Bahkan mahasiswanya sering mengeluh atas sikap dingin dan kakunya. Hanya dengan waktu 1 bulan Farhan sudah menjadi bar-bar. Hahaha. Bucin karena kamu Anisa. Semoga kalian selalu bahagia nak.
"Sayang?". Panggilku lirih.
"Iyaa Bun?". Jawabnya.
"Sini sayang, duduk disamping Bunda. Kita makan anggurnya". Pintaku.
"Kenapa Bun?". Tanyanya setelah duduk.
"Farhan orangnya gimana?". Tanyaku penasaran.
"Kok nanya gitu? Hahaha, mas Farhan tuh orangnya jail ternyata. Gak nyangka ajah". Jawabnya diselingi tawa halusnya.
"Bunda penasaran aja, Anisa masih takut gelap?". Tanyaku lagi.
"Bunda tahu, Anisa takut gelap?". Tanyanya.
Aku mengangguk, "Iyaa, Bunda tahu. Bunda udah kenal kamu dari keciil. Ayahkan sempat membangun bisnis dengan Abi". Jawabku.
"Beneran? Kok Anisa gak tahu yaa". Ujarnya.
"Kamukan masih kecil sayaang". Jawabku.
"Terus kenapa udah gak sama-sama lagi bisnisnya? Ayah milih buat bangun Universitas ya Bun?". Tanya Anisa.
"Siapa bilang udah nggak? Masih kok. Hanya saja sekarang Ayah lebih fokus ke Universitas. Ayah mempercayakan pada Abi kamu. Dan sekarang dipegang kakak kamu". Jawabku.
"Kenapa Bun?". Kepo juga ini anak ternyata.
"Ayah sudah diberi amanat oleh almarhum Ayahnya, kakeknya Farhan, buat mengelola Universitas. Jadi Ayah hanya membantu urusan kantor sedikit-sedikit saja. Sepenuhnya diserahkan kepada Abimu. Farhan beberapa kali juga diajak Kakak kamu buat diskusi kantor,". Jawabku.
"Oooh, Tunggu Bun! Kalau Bunda udah dekat dengan keluarga Anisa sejak dulu, berarti Bunda tahu dong kenapa Anisa takut gelap?". Tanyanya. Ternyata ia masih belum ingat penyebab fobianya. Aku harus jawab apa ini.
"Sayaang?". Panggi Farhan.
Alhamdulillah, kamu menyelamatkan Bunda nak.
Author POV
"Mas? Sini mas, anggurnya manis lho". Jawab Anisa pada Farhan.
Farhan menghampiri Anisa dan duduk disampingnya dan mulai menyomot anggur.
"Udah sore lho, mandi dulu yuk.". Ajak Farhan.
"Mandi ajah. Ngapain ngajak-ngajak Anisa?". Jawab Anisa.
"Ayoo laah, sekalian Mas tunjukin baju-baju pilihan Bunda buat kamu". Ujar Farhan.
"Bunda kenapa harus repot-repot siapin baju Anisa?". Tanya Anisa pada Bunda.
"Gak papa sayang, Bunda seneng banget malahan. Bisa siapin perlengkapan baju buat menantu Bunda yang paling cantik. Sana dicoba, nanti kalau gak pas Bunda komplen sama yang jual ". Jawab Bunda.
"Hahaha, gak usah Bun, ayo mas! makasih Bunda sayang". Ujar Anisa sebelum benar-benar ke kamar.
"Sama-sama". Jawab Bunda.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....
Maaf para penikmat keuwuaan, Lhu-lhu baru bisa up. :")